Author : JejoonK
Title : Cheers
Title : Cheers
Cast : Jung Hoseok,
Jeon Jungkook [BTS]
Rated : G
Genre : Sad ;
Brothership
Length : Oneshoot
“Maaf”
Hoseok pov
Praang
Kuhantam cermin kamar mandi yang tak salah itu, bercak merah
nampak jelas di sekitar retakan cermin
itu. Terlihat abstrak wajahku disana seperti hati ini, tidak bisa diartikan. Ku
nyalakan dengan kasar shower di kamar mandi, dengan derasnya membasahi tubuhku
yang meringkuh di sudut kamar mandi. Menggigil dengan merutuk diri sendiri.
Menit menit ku habiskan di atas guyuran shower, ku dengar samar seorang
laki-laki berteriak memanggil namaku. Ku terdiam tetap meringkuh dengan posisi
yang sama, kini pandanganku mulai kabur, sampai anak itu bisa menemukanku yang
sedang meringkuh di bawah shower
“Hyung, apa yang kau lakukan?” paniknya anak itu melihatku
“Oh, kau sudah pulang?” kucoba tersenyum menyambutnya, tapi
pandanganku tak mendukungku.
Dan …
“Hyuuung” masih kudengar langkah anak itu menghampiriku,
dengan itu mulai ku masuki alam bawah sadar.
Jungkook pov
“Akhirnya aku bisa membeli ini, pasti hyung senang” dengan
menenteng bingkisan ini, aku menyusuri lorong lantai 6 apartemen di sebuah
pinggiran kota. Namaku Jeon Jungkook, mahasiswa Seni Rupa di sebuah universitas
swasta. Aku tinggal di apartemen milik Hoseok Hyung, nama lengkapnya Jung
Hoseok, dia mengajar di kampus ku sebagai seorang Saem di Dance Academy milik
universitas kami. Dia adalah lulusan terbaik disana, sehingga dia berani untuk
mengabdikan dirinya kembali untuk universitasnya. 6767, kutekan password kamar.
Begitu masuk dan menutup pintu kulihat sepatunya, yang pasti dia sudah pulang.
“Hyuuuung, aku pulaaaang” teriakku sambil membuka sepatu
Tidak ada jawaban ? ah mungkin dia sedang tertidur. Aku
berjalan menuju sofa dekat meja makan dan menaruh bingkisan serta tasku. Aku
berjalan menuju kamarnya.
“Hyuuu…uuuunngg” dengan nadaku yang meninggi kemudian
tiba-tiba menurun mendapatinya tidak ada di kamarnya. “ah aku tahu, kau pasti ingin bermain petak
umpet denganku kan ? aissh jinjja “ kataku sambil menutup pintu kamarnya dan
mulai semangat mencarinya. Sudut gorden, dapur , lemari, kamarku dan semua
nihil. Dimana dia, ini tidak lucu sepatunya ada tapi ia menghilang, gumamku
sambil menghempaskan badanku di sofa sambil meraih ponselku. Langsung ku
terperanjat bangun karena ada satu
tempat yang belum aku datangi. Langsung ku menuju tempat itu dengan
berlari kecil. Dugaanku benar, pintu kamar mandi terbuka dengan suara rintik
air dari shower dan benar saja kulihat
dia meringkuh di bawah shower dengan tangan kanannya mengeluarkan darah.
Ku lihat cermin kamar mandi pun retak, sepertinya dia memecahkannya, ada apa
ini, pikirku yang melihatnya mulai khawatir.
“Hyung, apa yang kau lakukan ?” tanyaku panik
“Oh, kau sudah pulang ?” dia menjawabku dengan senyum
khasnya yang sedikit dipaksakan. Kemudian tubuhnya ambruk begitu saja setelah
menjawabku
“Hyuuuuuung” aku menghampirinya, mencoba menepuk pipinya
untuk menyadarkannya. Tanpa pikir panjang ku bopong tubuhnya dari kamar mandi
dan kubawa dia ke kamarnya. Ku mencoba tenang dalam suasana ini, tapi tampak
tanganku bergetaran saat mengobati luka tangannya. Kuambil kaos,jaket dan
celana di lemarinya, aku pun mulai berusaha mnegganti bajunya. Dengan sedikit
canggung, aku mulai mengganti pakainnya. Aku rasa aku tidak boleh canggung
lagi, karena ketika aku sakitpun dia rela untuk menggantikan pakaianku. Selesai
mengganti pakaiannya, aku menyelimutinya. Ku tinggal ia sendiri di kamar. Aku
tidak mengerti kenapa dia seperti ini, seperti ada sesuatu yang terjadi, ku
lanjutkan aktivitasku untuk mandi.
Hoseok pov
“Katakan apa yang terjadi, apa aku mengkhianatimu?”
“Tidak oppa”
“Lalu kenapa kau mengatakan hal itu ?”
“Karena … aku sudah mempunyai penggantimu”
“K..kau, apa aku tidak salah mendengarnya? Waeyo ? Yong
Ji-ah –“
“Aku tidak ingin kau terluka lebih dalam”
“Apa dia lebih hebat dariku ?”
“Yang pasti dia mempunyai waktu yang lebih untuk
memperhatikanku”
“Yong Ji-ah jebal, jangan kau katakan seperti ini”
“Oppa, mianhae. Mulai sekarang aku sudah bukan pacarmu lagi”
“Yong Ji-ah, kembalilah padaku. Aku akan berusaha untuk
mempunyai waktu lebih untuk memperhatikanmu.”
“Maaf”
Kuingat dengan jelas, terakhir aku menatap matanya dan
memohon padanya. Seiring ku membuka mata disambut dengan ingatanku yang
terngiang tentang percakapanku sore hari tadi dengannya, Ahn Yong Ji. Pacarku
yang ku kencani selama 2 tahun ini lebih memilih bersama pria lain dengan
alasan waktuku tak cukup dibanding pria itu yang selalu menemaninya. Kusadari
semakin jauh semenjak aku mengajar di universitasku, waktuku menemuinya saja
hanya seminggu sekali. Ku balikkan
badanku ke arah kiri, melihat hujan yang terlihat samar dari ballik gorden
putih yag menghiasi kamarku. Gorden ini pun yang dipilihkan olehnya, dari
celana, sepatu, jaket sampai gadget pun coupling dengannya. Terlalu banyak
sakit jika melihat semua barang kami disini . Sambil ku introspeksi diri, ku
lihat tubuhku telah berganti baju. Kapan aku menggantinya ?.
“Hyung, kau sudah bangun ?” katanya menghampiriku sambil
membawakan semangkuk yang berbau sedap, sepertinya itu bubur.
“Kook, kau melakukan ini ?” tanyaku heran
“Iya hyung” jawabnya penuh senyum
“Gomawo kook” ku coba tersenyum di depan Kookie
“nee. Hyung makanlah ini” katanya sambil mendekatkan mangkuk
itu padaku
“Iya nanti saja, aku tidak nafsu makan sekarang” jawabku
sambil mengalihkan pandanganku
“Hyung, apa yang terjadi ? Ceritakan padaku” tanya nya
sambil menyamankan posisi duduknya di dekatku.
Aku bangun dari tempat tidur dan berjalan menjauhinya,
memilih duduk di kursi dekat sudut lampu. Ku hirup dalam-dalam dan ku hela
nafas itu, sisa hembusan yang membekas seolah sandiwara sore itu memulai
perannya. Aku hanya bersandar, belum berkata apa-apa.
“Hyung, apa ini ada
kaitannya dengan Yong Ji noona ?” celetuknya memecah keheningan kamarku
Jungkook pov
Seusai mandi, segera ku mulai memasak bubur untuk hyung.
Setelah bahan masuk dalam panci, aku pun menunggu semuanya matang sambil ku
memainkan ponselku. Mulai ku membuka twitter, scroll setiap postingan orang
yang aku ikuti dan tanganku berhenti
pada satu akun yang mempostingan sebuah foto yang bertajuk Welcome to My Life. Setelah ku perjelas
foto itu ternyata ini foto Yong Ji noona bersama pria lain, tapi kenapa bukan
Hoseok hyung. Dengan itu aku menyambungkan kejadian sore itu dengan foto ini,
bisa jadi karena ini Hoseok hyung menjadi seperti tadi. Segera ku mematikan
kompor dan menuang bubur ke dalam mangkok. Kuantar mangkok bubur ini ke
kamarnya dengan rasa penasaran tentang hal itu. Dengan hati-hati aku membuka
pintu kamarnya, tampaknya ia sudah bangun.
“Hyung, kau sudah bangun ?” tanyaku sambil berjalan menuju
meja nya dan menaruh bubur itu disana
“Kau melakukan ini?” tanya nya yang terdengar parau
“Iya hyung” jawabku
“Gomawo kook” katanya sambil memunculkan senyum hangatnya
padaku
“Nee. Hyung makanlah ini” kataku sambil duduk di dekatnya
dan mendekatkan buburnya
“Iya nanti saja, aku tidak nafsu makan sekarang” jawabnya dengan lemas
“Hyung, apa yang terjadi ? ceritakan padaku” tanyaku sambil
menyilangkan kakiku dan mulai bersiap mendengarkannya. Dia bangun dari tempat
tidur dan menjauhiku. Dia duduk di kursi dekat sudut lampu, aku masih penasaran
dengan foto itu. Apa yang sebenarnya terjadi, keadaan Hoseok hyung ini membuat
ku tak tahan lagi.
“Hyung, apa ini ada kaitannya dengan Yong Ji noona ?” ku
beranikan untuk bertanya, meskipun
seusai bertanya aku merasa ingin terjun dari lantai 6. Merasa tidak tahu malu
menanyakan hal yang mungkin ini termasuk hal privasi Hoseok hyung. Aku hanya menunduk saja, sesekali melihat
reaksinya.
Hoseok pov
Langsung ku ubah posisi dudukku menjadi tegak, bagaimana dia
bisa tahu.
“Kau tahu sesuatu kook?” tanyaku penasaran
“Hmmm begini hyung, saat aku memasak bubur untukmu. Aku
bermain twitter, ketika itu aku melihat postingan Yong Ji noona fotonya dengan
pria lain selain dirimu” katanya sambil sesekali menunduk
“Kau mengenal pria itu ?”
“Tidak hyung, aku hanya melihat fotonya dengan kata-kata
Welcome to my Life begitu hyung” jawabnya sambil memainan jarinya. Mungkin dia
sedang takut untuk menceritakan ini padaku.
Yong Ji-ah, kau melakukannya dengan baik,sangat baik. Tidak
tahu sekarang apa yang aku rasakan di dalam tubuhku, terkadang panas kemudian
dingin tak menentu setelah mendengar cerita dari Kookie.
“Hyung, aku punya sesuatu untukmu. Tunggu sebentar” katanya
kemudian meninggalkanku di kamar. tak lama dia membawa bingkisan
“Hyung, ini untukmu” katanya menyodorkan tas itu padaku
Kubuka bingkisan itu, terdapat kotak sepatu dan kulihat
dalam kotak itu tak kusangka Kookie membawakanku sneakers yang aku impikan
*flashback on*
“Wah ini pas untukku” kataku sambil mencoba sepatu itu di
depan cermin sesekali menoleh pada Kookie
“Hei hyung seleramu benar-benar bagus. Cocok untukmu” seru
Kookie sambil memberi ibu jarinya padaku
“Benarkah ? hahaha tapi harganya mahal sekali. Lihat tanda
ini Kook, ini special series” sambil ku melepas sepatu itu dan melihat tanda
stempel yang menempel pada struk harga
“Jinjja ?? lihat hyung ini harganya. Omo omo sepatu ini bisa
dibuat mencicil apartment mu hyung. Kalau begitu kau membeli ini saja, kemudian
bayarkan pada pemiliknya . hahahaha” katanya sambil membalikkan struk harganya
dan mengejekku seperti itu.
“Ah kau benar Kook hahaha” tawaku sambil menepuk pundaknya
*flashback off*
“Kook ini kan–“
“Ini untukmu hyung selama ini yang merawatku dan menjagaku
dengan baik meskipun aku bukan adik kandungmu” potongnya kemudian menepuk
pundakku
“Ah kook, kau membuat ku ingin menangis” tak terasa air
mataku menetes mendengar kata-katanya
“Hehehe, apapun yang terjadi padamu hyung tolong
bersemangatlah. Karena selama aku ada disini, aku akan menemanimu” rupanya kook
menghiburku
“Kook” aku tidak bisa berkata apapun sambil melihatnya yang
tersenyum padaku
“Hyung aku minta maaf kalau mengurusi urusanmu dengan noona
itu”
“Terima kasih kook sudah memperhatikanku”
“Sama-sama hyung, tetaplah menjadi Hyung ku yang ceria.
Lebih baik kau istirahat hyung dan jangan lupa kau makan buburnya karena yang
membuat bubur itu ada disini bersamamu” katanya dengan muka datar
“Hahaha iya Kook akan ku habiskan” aku melihat mukanya
dengan tertawa geli sambil memegang mangkuk darinya
“Ya sudah hyung, aku mau tidur dulu. Jaljjayo” katanya
sambil melambaikan tangannya di depanku
Setelah kook menutup pintu kamarku, entah angin darimana
nafsu makan ku muncul kembali. Ku santap bubur buatannya itu. Enak. Semakin
lahap makanku, aku rasa aku kelaparan karena tenaga ku terkuras memukul cermin
itu dan guyuran shower tadi. Usai makan, ku berjalan ke dapur dan mencuci
mangkuk itu. Ku sempatkan mampir melihat Kookie di kamarnya, dengan hati-hati
ku mulai membuka pintu kamarnya. Ruangannya gelap dengan berhias bintang dan
bulan yang berpendar menerangi Kookie yang sedang berselimut. Ku tutup kembali pintu
kamarnya dengan perasaan yang melegakan. Aku berjalan menuju sofa dan mulai
duduk disana, ku merogoh ponselku dan mulai mengetuk galeri. Ku dapati banyak
fotoku dengan Yong Ji disana. Ku tandai foto itu dan ku ketuk tanda tempat
sampah. Delete. Memang berat setelah ku menghapus foto-foto itu, tapi jika aku
melanjutkan semua ini maka aku akan merusak duniaku sendiri. Bagaimanapun aku
harus tetap menggenggam duniaku dengan segala keceriaanku yang dibilang Kookie
tadi. Terima Kasih Ahn Yong Ji kau sudah memberi akhiran drama ini dengan baik,
aku akan mendapat pelajaran untuk selanjutnya. Dunia ini indah dan aku pasti
baik-baik saja tanpamu.

No comments:
Post a Comment