Title : Pretty
Boy
Main Cast : Kim
Taehyung [BTS] | Min
Hanna [OC]
Genre : Romance
| Comedy
Rate : General
Length :
Vignette
Scriptwriter :
Fellicia Kim @fkim_author
Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t be a plagiator.
*****
Taehyung,
Kim Taehyung. Lelaki itu terus membuatku jengkel.
Dan
lihat?
Sedari
tadi ia terus menggoda siswi di depan gerbang sekolah. Tak peduli adik kelas,
kakak kelas, teman sekelaspun, bahkan guru magang dan guru tetap pun digodanya.
Dasar playboy cap kaos oblong!
Dan
hebatnya, setiap hari, dia akan mengganti targetnya. Cih!
Beruntung,
beruntung dia memiliki teman sebaikku. Aku akan terus setia menjewer telinga kanan
untuknya ketika ia ketahuan menggoda gadis. Setidaknya, menghapus niat buruknya
untuk melakukan hal-hal aneh.
Aku
sangat baik, bukan?
Hubunganku
dengan Taehyung?
Kedua
orang tua kami sangat dekat, begitu pula dengan kedua rumah kami—bersebelahan.
Taehyung memiliki dua saudara laki-laki. Pertama Jin, dan kedua Namjoon. Jin,
perawakannya sangat dewasa, berkulit jernih, bertubuh atletis, bibir tebal, dan
rambutnya berwarna cokelat gelap. Namjoon, pria tinggi, bersikap dewasa,
cerdas, perawakan tegas, dan pengertian. Kedua kakaknya adalah lelaki idamanku.
Sedangkan
adiknya, si makhluk aneh bernama Taehyung itu?
Menurutku,
wajahnya pun tak menarik sedikitpun. Gayanya sok cool, beda dengan Jin dan juga Namjoon. Seleranya aneh. Cara
berpikirnya tak jelas. Senyumannya konyol. Rangkingnya selalu di bawahku.
Bertingkah layaknya anak-anak. Dan yang paling kubenci, dia playboy sekolah, sangat terkenal di
kalangan siswi Hansan High School!
Cih!
Beruntung,
kedua kakaknya itu sangat peduli akan kejengkelanku pada bocah itu. Jin dan
Namjoon oppa menyuruhku untuk terus
memperhatikan adiknya itu di sekolah, belajar setiap malam minggu agar
mencegahnya keluar malam, mengajaknya pulang bersama ke rumah kami yang
bersebelahan.
Aku
bersyukur ternyata kedua kakaknya sangat peduli kepadaku, dan berbeda seratus
delapan puluh derajat dengan cara pemikiran adiknya itu, dan tentunya juga
selalu menyusahkanku.
Aku
menatap Taehyung dengan malas.
Kuhembuskan
nafasku dengan kesal, sebelum melangkah mendekatinya. Tak lupa merapikan
pakaianku, sebelum mengeluarkan jurusku satu-satunya.
“Tae!”
panggilku sok akrab yang sangat dibuat-buat, dan aku benci melakukan ini.
Taehyung melirikku.
“Ah...”
Taehyung berdecak malas.
“Tae,
dia siapamu?” tanya gadis yang sedari-tadi digodanya itu sambil menatapku
sekilas dengan-tatapan-sinis.
“Bukan
apa-apa cantik, dia cuma pe—“
“PACARKU!
Ia Taehyung pacarku...” ujarku sambil membungkamkan mulut Taehyung dengan
tanganku. Kulihat ia meronta-ronta. “Ah... mianhae.... Aku tahu ini akan
menyakitimu, tapi dia pacarku... Kami pergi dulu...” ujarku sambil berlalu
menarik tangan Taehyung. Kulihat gadis tadi menghentakkan kakinya dengan kesal
dan menatapku jengkel.
Langsung
kubawa Taehyung ke kelasku. Beruntung kelas itu kosong, karena seluruh temanku
sudah pulang sedari tadi.
Taehyung
duduk di atas meja yang berseberangan dengan kursi yang aku duduki, sehingga
posisi kami berhadapan saat ini.
“Ayolah,
Han! Kau tak akan selamanya membatasiku, kan?” Ujar Taehyung dengan wajah
jengkelnya padaku.
“Hei...
Kau seharusnya bersyukur aku mau membantumu untuk menjernihkan otak yadong-mu itu!” ujarku sambil mengakat
tali sepatuku yang sempat lepas ketika aku menarik Taehyung.
“Aku
tak pernah berkencan dengan seorang gadis di sekolah ini, dan ini semua karena
ulahmu dan kedua hyung-ku itu!” keluh
Taehyung namun tak sedikitpun menggubris hatiku untuk iba padanya.
Aku
menatapnya lelah.
“Kau
tahu, ini semua kulakukan untukmu.” Ujarku sambil meraih tasku. “Kau akan
berterima kasih suatu hari nanti padaku, Tae.” Lanjutku dengan ekspresi datar.
“Benarkah?
Kau melakukan semua itu hanya untukku?” Tanya Taehyung.
Aku
mengangguk.
SLAP!
Kulihat
Taehyung menutup pintu, dan kembali menatapku dengan tatapan usilnya. Aku tak
yakin tatapan apa yang diberikannya padaku saat ini. Bulu kudukku saja sempat
merinding melihat senyumnya. Benar-benar seperti senyuman pembunuh berdarah
dingin!
Dia
mendekatiku sambil menggigit bibirnya.
Aku
sadar, ini bukan pertanda bagus!
Langsung
saja kubangkit dari kursi yang kududuki tadi. Darahku mendesir cepat, senada
dengan jantungku yang berdetak tak keruan.
DEG!
Taehyung
semakin mendekat.
“Ayo
pulang, Tae! Ibuku dan ibumu akan khawatir jika kita telat.” Ujarku sambil
berlalu, namun Taehyung berhasil menahan tanganku.
“Kau
khawatir padaku, hum?” ujar Taehyung datar sambil menatap mataku, namun aku
mengalihkan pandanganku padanya. “Tunggu, tunggu... Kita tak memiliki hubungan
darah, kan? Tapi, kau peduli dan khawatir padaku. Bukankah itu sesuatu aneh?” tanya
Taehyung sekali lagi.
Kuhempaskan
tangannya dengan pelan, namun aku masih diam.
“Apa
kau menyukaiku, Min Hanna?” tanya Taehyung. Taehyung dengan segera mendekatkan
wajahnya pada wajahku.
Persetan
kau, Taehyung!
“Jika
kau mendekatkan wajahmu satu milimeter lagi kearahku, akan aku telepon Yoongi
oppa. Kau tahu kan, Yoongi oppa seperti apa? Ia akan menghajarmu habis-habisan
jika kau menciumku!” ujarku frustasi sambil memperlihatkan ponsel-ku yang
berada di genggamanku.
“Benarkah?”
tanya Taehyung.
BODOH!
Mengapa
kugenggam ponselku? Dan sekarang Taehyung mengambilnya?
Oucchhh!
“Dengarkan
aku Tae! Yoongi oppa akan menjemputku jika aku pulang telat, dan kau akan
dihabisinya jika kau melakukan hal-hal yang aneh padaku!” ujarku serius.
Kulihat Taehyung mendekatkan wajahnya sehingga jarak hidung kami nyaris lima
senti-meter.
“Aku
tak melakukan hal-hal aneh, Han, tapi aku melakukan hal-yang-wajar...” ujarnya
santai. “Karena kau menyukaiku...” tambahnya.
DEG!
Andaikan
aku memakai celana olahraga sekarang, akan kutendang wajah genitnya dengan
kakiku!
Dasar
mesum!
Tapi,
aku sadar aku hanya memakai rok yang panjangnya tepat diatas lututku. Well, mungkin aku akan meninjunya dengan
tanganku!
“Apa?
Kau ingin meninjuku?” tantang Taehyung. Dan apa?
Dia
memegang tanganku? Sejak kapan?
“Kau
tahu, Han... Sebenarnya aku menyukaimu sudah lama, ketika kita berumur lima
tahun..” ujar Taehyung sambil mempersempit jarak kami
Jarak
kami tinggal empat senti!
“Tapi,
kau selalu menganggapku teman.” Taehyung kembali mamajukan wajahnya satu senti.
Jarak
kami tiga senti lagi!
“Tapi,
aku lega karena kau menyukaiku sekarang..”
Jarak
kami dua senti!
“Han,
aku serius!” Ujar Taehyung yang benar-benar serius.
Well,
kenapa wajahnya sangat serius seperti itu?
Taehyung
mulai mendekat, dan tangannya yang memegang tanganku mulai rengang. Tak
menyia-nyiakan kesempatan, kudaratkan sebuah tinju ke perutnya.
Bodohnya
aku, kubiarkan Taehyung menarikku hingga kami jatuh bersamaan.
Lihat?
Aku yang meninjunya, aku pula yang kena imbasnya!
Beruntung,
aku yang menidihnya, bukan dia yang menidihku. Dan aku tak akan membayangkan
apa yang terjadi jika Taehyung yang menidihku.
“Dan
sekarang kau berani menidihku, Han...” ujar Taehyung lembut sambil mengulas
senyum yang benar-benar konyol itu.
“Hei!
Kau yang menarikku sehingga aku jatuh! Aku tak bermaksud menidih orang
sepertimu, bocah aneh!” ujarku frustasi. Yang benar saja, dia melimpahkan semua
kesalahannya padaku. Dan aku sadar sekarang aku berada dalam jebakannya.
“Kalau
kau tak bermaksud menidihku, seharusnya kau sekarang berdiri, Han, bukan tetap
menidihku...”
Aku
menelan salivaku, “Kau membuatku frustasi saja!” ketusku dan kembali mencoba
berdiri. Namun, bocah aneh itu menarikku lagi sehingga aku kembali menidihnya.
“Seharusnya
kau bangkit dari tadi, Han.” Ujar Taehyung dengan wajah flat-nya. Dan wajahnya kembali mendekatiku.
CUPS.
Kecupnya pada bibirku singkat.
“Hei,
mesum! Apa yang kau lakukan pada adikku Hanna!” ujar seseorang dari luar kelas.
Aku menatap sumber suara itu.
Yoongi
oppa!
“Oh
Tuhan! Demi celana hijau Patrick! Mengapa kau menidihnya, Han? Apa kau tidak bisa
menidih lelaki yang lebih normal daripada Taehyung, lebih tinggi dari Jimin,
lebih tua dari Jungkook, dan setidaknya berkulit lebih putih dariku, Han?”
Oh,
Yoongi oppa, Hanya kaulah lelaki yang berkulit paling putih dan termulus dari
semua lelaki yang pernah kulihat!
- FIN -

No comments:
Post a Comment