Tuesday, 16 June 2015

Pretty Boy




Title : Pretty Boy
Main Cast : Kim Taehyung [BTS] | Min Hanna [OC]
Genre : Romance | Comedy
Rate : General
Length : Vignette
Scriptwriter : Fellicia Kim @fkim_author

Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t be a plagiator.

*****

Taehyung, Kim Taehyung. Lelaki itu terus membuatku jengkel.

Dan lihat?

Sedari tadi ia terus menggoda siswi di depan gerbang sekolah. Tak peduli adik kelas, kakak kelas, teman sekelaspun, bahkan guru magang dan guru tetap pun digodanya. Dasar playboy cap kaos oblong!

Dan hebatnya, setiap hari, dia akan mengganti targetnya. Cih!

Beruntung, beruntung dia memiliki teman sebaikku. Aku akan terus setia menjewer telinga kanan untuknya ketika ia ketahuan menggoda gadis. Setidaknya, menghapus niat buruknya untuk melakukan hal-hal aneh.

Aku sangat baik, bukan?

Hubunganku dengan Taehyung?

Kedua orang tua kami sangat dekat, begitu pula dengan kedua rumah kami—bersebelahan. Taehyung memiliki dua saudara laki-laki. Pertama Jin, dan kedua Namjoon. Jin, perawakannya sangat dewasa, berkulit jernih, bertubuh atletis, bibir tebal, dan rambutnya berwarna cokelat gelap. Namjoon, pria tinggi, bersikap dewasa, cerdas, perawakan tegas, dan pengertian. Kedua kakaknya adalah lelaki idamanku.

Sedangkan adiknya, si makhluk aneh bernama Taehyung itu?

Menurutku, wajahnya pun tak menarik sedikitpun. Gayanya sok cool, beda dengan Jin dan juga Namjoon. Seleranya aneh. Cara berpikirnya tak jelas. Senyumannya konyol. Rangkingnya selalu di bawahku. Bertingkah layaknya anak-anak. Dan yang paling kubenci, dia playboy sekolah, sangat terkenal di kalangan siswi Hansan High School!

Cih!

Beruntung, kedua kakaknya itu sangat peduli akan kejengkelanku pada bocah itu. Jin dan Namjoon oppa menyuruhku untuk terus memperhatikan adiknya itu di sekolah, belajar setiap malam minggu agar mencegahnya keluar malam, mengajaknya pulang bersama ke rumah kami yang bersebelahan.

Aku bersyukur ternyata kedua kakaknya sangat peduli kepadaku, dan berbeda seratus delapan puluh derajat dengan cara pemikiran adiknya itu, dan tentunya juga selalu menyusahkanku.

Aku menatap Taehyung dengan malas.

Kuhembuskan nafasku dengan kesal, sebelum melangkah mendekatinya. Tak lupa merapikan pakaianku, sebelum mengeluarkan jurusku satu-satunya.

“Tae!” panggilku sok akrab yang sangat dibuat-buat, dan aku benci melakukan ini. Taehyung melirikku.

“Ah...” Taehyung berdecak malas.

“Tae, dia siapamu?” tanya gadis yang sedari-tadi digodanya itu sambil menatapku sekilas dengan-tatapan-sinis.

“Bukan apa-apa cantik, dia cuma pe—“

“PACARKU! Ia Taehyung pacarku...” ujarku sambil membungkamkan mulut Taehyung dengan tanganku. Kulihat ia meronta-ronta. “Ah... mianhae.... Aku tahu ini akan menyakitimu, tapi dia pacarku... Kami pergi dulu...” ujarku sambil berlalu menarik tangan Taehyung. Kulihat gadis tadi menghentakkan kakinya dengan kesal dan menatapku jengkel.

Langsung kubawa Taehyung ke kelasku. Beruntung kelas itu kosong, karena seluruh temanku sudah pulang sedari tadi.

Taehyung duduk di atas meja yang berseberangan dengan kursi yang aku duduki, sehingga posisi kami berhadapan saat ini.

“Ayolah, Han! Kau tak akan selamanya membatasiku, kan?” Ujar Taehyung dengan wajah jengkelnya padaku.

“Hei... Kau seharusnya bersyukur aku mau membantumu untuk menjernihkan otak yadong-mu itu!” ujarku sambil mengakat tali sepatuku yang sempat lepas ketika aku menarik Taehyung.

“Aku tak pernah berkencan dengan seorang gadis di sekolah ini, dan ini semua karena ulahmu dan kedua hyung-ku itu!” keluh Taehyung namun tak sedikitpun menggubris hatiku untuk iba padanya.

Aku menatapnya lelah.

“Kau tahu, ini semua kulakukan untukmu.” Ujarku sambil meraih tasku. “Kau akan berterima kasih suatu hari nanti padaku, Tae.” Lanjutku dengan ekspresi datar.

“Benarkah? Kau melakukan semua itu hanya untukku?” Tanya Taehyung.

Aku mengangguk.

SLAP!

Kulihat Taehyung menutup pintu, dan kembali menatapku dengan tatapan usilnya. Aku tak yakin tatapan apa yang diberikannya padaku saat ini. Bulu kudukku saja sempat merinding melihat senyumnya. Benar-benar seperti senyuman pembunuh berdarah dingin!

Dia mendekatiku sambil menggigit bibirnya.

Aku sadar, ini bukan pertanda bagus!

Langsung saja kubangkit dari kursi yang kududuki tadi. Darahku mendesir cepat, senada dengan jantungku yang berdetak tak keruan.

DEG!

Taehyung semakin mendekat.

“Ayo pulang, Tae! Ibuku dan ibumu akan khawatir jika kita telat.” Ujarku sambil berlalu, namun Taehyung berhasil menahan tanganku.

“Kau khawatir padaku, hum?” ujar Taehyung datar sambil menatap mataku, namun aku mengalihkan pandanganku padanya. “Tunggu, tunggu... Kita tak memiliki hubungan darah, kan? Tapi, kau peduli dan khawatir padaku. Bukankah itu sesuatu aneh?” tanya Taehyung sekali lagi.

Kuhempaskan tangannya dengan pelan, namun aku masih diam.

“Apa kau menyukaiku, Min Hanna?” tanya Taehyung. Taehyung dengan segera mendekatkan wajahnya pada wajahku.

Persetan kau, Taehyung!

“Jika kau mendekatkan wajahmu satu milimeter lagi kearahku, akan aku telepon Yoongi oppa. Kau tahu kan, Yoongi oppa seperti apa? Ia akan menghajarmu habis-habisan jika kau menciumku!” ujarku frustasi sambil memperlihatkan ponsel-ku yang berada di genggamanku.

“Benarkah?” tanya Taehyung.

BODOH!

Mengapa kugenggam ponselku? Dan sekarang Taehyung mengambilnya?

Oucchhh!

“Dengarkan aku Tae! Yoongi oppa akan menjemputku jika aku pulang telat, dan kau akan dihabisinya jika kau melakukan hal-hal yang aneh padaku!” ujarku serius. Kulihat Taehyung mendekatkan wajahnya sehingga jarak hidung kami nyaris lima senti-meter.

“Aku tak melakukan hal-hal aneh, Han, tapi aku melakukan hal-yang-wajar...” ujarnya santai. “Karena kau menyukaiku...” tambahnya.

DEG!

Andaikan aku memakai celana olahraga sekarang, akan kutendang wajah genitnya dengan kakiku!

Dasar mesum!

Tapi, aku sadar aku hanya memakai rok yang panjangnya tepat diatas lututku. Well, mungkin aku akan meninjunya dengan tanganku!

“Apa? Kau ingin meninjuku?” tantang Taehyung. Dan apa?

Dia memegang tanganku? Sejak kapan?

“Kau tahu, Han... Sebenarnya aku menyukaimu sudah lama, ketika kita berumur lima tahun..” ujar Taehyung sambil mempersempit jarak kami

Jarak kami tinggal empat senti!

“Tapi, kau selalu menganggapku teman.” Taehyung kembali mamajukan wajahnya satu senti.

Jarak kami tiga senti lagi!

“Tapi, aku lega karena kau menyukaiku sekarang..”

Jarak kami dua senti!

“Han, aku serius!” Ujar Taehyung yang benar-benar serius.

Well, kenapa wajahnya sangat serius seperti itu?

Taehyung mulai mendekat, dan tangannya yang memegang tanganku mulai rengang. Tak menyia-nyiakan kesempatan, kudaratkan sebuah tinju ke perutnya.

Bodohnya aku, kubiarkan Taehyung menarikku hingga kami jatuh bersamaan.

Lihat? Aku yang meninjunya, aku pula yang kena imbasnya!

Beruntung, aku yang menidihnya, bukan dia yang menidihku. Dan aku tak akan membayangkan apa yang terjadi jika Taehyung yang menidihku.

“Dan sekarang kau berani menidihku, Han...” ujar Taehyung lembut sambil mengulas senyum yang benar-benar konyol itu.

“Hei! Kau yang menarikku sehingga aku jatuh! Aku tak bermaksud menidih orang sepertimu, bocah aneh!” ujarku frustasi. Yang benar saja, dia melimpahkan semua kesalahannya padaku. Dan aku sadar sekarang aku berada dalam jebakannya.

“Kalau kau tak bermaksud menidihku, seharusnya kau sekarang berdiri, Han, bukan tetap menidihku...”

Aku menelan salivaku, “Kau membuatku frustasi saja!” ketusku dan kembali mencoba berdiri. Namun, bocah aneh itu menarikku lagi sehingga aku kembali menidihnya.

“Seharusnya kau bangkit dari tadi, Han.” Ujar Taehyung dengan wajah flat-nya. Dan wajahnya kembali mendekatiku.

CUPS. Kecupnya pada bibirku singkat.

“Hei, mesum! Apa yang kau lakukan pada adikku Hanna!” ujar seseorang dari luar kelas. Aku menatap sumber suara itu.

Yoongi oppa!

“Oh Tuhan! Demi celana hijau Patrick! Mengapa kau menidihnya, Han? Apa kau tidak bisa menidih lelaki yang lebih normal daripada Taehyung, lebih tinggi dari Jimin, lebih tua dari Jungkook, dan setidaknya berkulit lebih putih dariku, Han?”

Oh, Yoongi oppa, Hanya kaulah lelaki yang berkulit paling putih dan termulus dari semua lelaki yang pernah kulihat!

- FIN -

No comments:

Post a Comment