Tuesday, 16 June 2015

Good Bye 2






Title : Good Bye
Main Cast : Park Jimin [BTS] | Kim Jihyun [OC]
Support Cast : All member BTS and others
Genre : Hurt | Sad | Romance | Tragedy | Angst
Rate : PG-15
Length : TwoShot + Epilog
Scriptwriter : Fellicia Kim @fkim_author

Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t be a plagiator.

***

‘Let he comes, Let he leaves’

Love mustn’t be a perfect thing

-Good Bye-

***

Author’s POV

 Two Months Later...

“Ugghhh! Kenapa tugasku tidak diterima? Bahkan Min seonsaeng-nim saja hanya membaca judulnya saja! Itu membutuhkan waktu seminggu untuk membuatnya! Aisshh! Dasar dosen tak tau diri!” celoteh Jihyun sambil mengambil tempat duduk di sebelah Taehyung, sahabatnya. Namun, Taehyung masih mendengarnya.

“Maksudmu, Min Yoongi seonsaeng-nim?” tanya Taehyung memperjelas percakapan. Jihyun mengangguk.

“Dasar dosen tak tau diri! Selalu berpikir bahwa dia yang paling pintar! Cih!” geram Jihyun sambil membanting beberapa tumpukan kertas ke meja makan siang yang berada di depannya. Sesekali, Jihyun menghentakkan kakinya dengan kesal.

“Sudahlah.... Mungkin memang tugasmu yang kurang menarik.” Ujar Taehyung santai. Dengan secepat kilat Jihyun langsung menjitak lelaki bermarga Kim itu.

“Ya! Kim Taehyung! Kau seharusnya mendukungku dan menolongku! Bukan sebaliknya!” ujar Jihyun yang masih kesal.

“Iya iya.... Maksudku... Akhir-akhir ini kau terlalu fokus mengerjakan tugas.” Balas Taehyung masam.

“Jadi?”

“Apa kau bertengkar dengan Jimin? Maksudku, aku jarang melihatnya mengantarmu akhir-akhir ini.” ujar Taehyung.

“Bertengkar? Yang benar saja. Memang terakhir kali kami bertemu dua bulan yang lalu. Kebetulan eomma-nya sakit. Jadi, dia harus buru-buru pergi.” Ujar Jihyun.

“Jinjja? Ahh... kasihan sekali.”

“Ya, tentu. Bisa jadi sampai saat ini dia harus menjaga eomma-nya yang masih sakit, kan?” ujar Jihyun yang diiringi dengan meminun air mineral di botolnya.

“Ya, bisa saja!” ujar Taehyung santai. “Jihyun-ah! Aku diundang di acara pertunangan temanku nanti malam. Kau ikut?” ajak Taehyung sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya beberapa kali.

“Ya! Jangan seperti itu. Aku muak melihatnya.” Ujar Jihyun jengkel sambil mendorong wajah Taehyung dengan kedua tangannya. “Bagaimana kalau aku tidak mau? Lagian itu kan urusanmu, bukan urusanku!” ujar Jihyun sambil terkekeh pelan dan beranjak pergi meninggalkan Taehyung.

“Ah... Jihyun-ah! Bantulah aku kali ini saja!” mohon Taehyung. “Kau tahu kan, semua temanku sudah memiliki pacar. Dan mereka akan membawa yeojachingu-nya nanti malam.” Ujar Taehyung tanpa berbasa-basi lagi.

“Mwo? Lalu, kau ingin aku berpura-pura menjadi yeojachingu-mu untuk malam nanti?” ujar Jihyun tak habis pikir.

“Ayolah.... Bukan yeojachingu. Tapi yeoja-chingu. Ya, minimal aku memiliki teman untuk berbicara nantinya.” Ujar Taehyung kembali memelas. Jihyun tampak masih menimbang-nimbang. “Ayolah, Jimin bahkan tak tahu. Kau tak perlu khawatir. Meskipun Jimin tahu ia akan mengerti. Lagian, kau perlu hiburan, kan? Inikan malam minggu!”

“Baiklah. Tapi, aku tak mau terlalu larut. Kau harus ingat itu.” Ujar Jihyun sambil menatap Taehyung tajam. Taehyung pun bersorak girang.

***

“Apa kau siap.” Ujar Taehyung sembari mengambil tangan Jihyun dan menggenggamnya.

“Ingat janjimu, Kim Taehyung! Jangan lupakan itu!” ujar Jihyun pelan. Taehyun terkekeh pelan. Ia mengacungkan jempolnya.

“Taehyung-ah!” ujar seorang wanita dari dalam gedung, menyapa Taehyung.

“Sekyung-ah! Ahh... aku tak menyangka kau sudah bertunangan.” Balas Taehyung sambil berjabat tangan dengan gadis bernama Sekyung itu.

“Hei... Sayangnya kau telat datang! Pertukaran cincinnya sudah di mulai beberapa menit yang lalu.” Ujar Sekyung.

“Oh, jinjja? Ah.. ternyata kami telat. Oh ya, Sekyung, perkenalkan ini Jihyun, temanku. Jihyun, ini Sekyung, temanku yang beberapa menit lalu bertunangan.” Ujar Taehyung memeperkanalkan kedua teman perempuannya itu. Jihyun dan Sekyung pun saling berjabat tangan. “Hmm.... Sekyung, dimana tunanganmu? Aku belum melihatnya.”

“Oh, dia ada di dalam. Berinteraksi dengan lingkungan barunya.” Ujar sekyung malu-malu. Jihyun yang merasa tak enak pun memutuskan untuk masuk ke gedung itu sendirian.

“Taehyung, Sekyung, kalau begitu aku masuk dulu.” Ujar Jihyun sopan. Sekyung dan Taehyung pun membalasnya dengan anggukan dan senyuman.

“Tunggulah di dalam kami akan datang sebentar lagi.” Ujar Sekyung kepada Jihyun. Jihyun pun mengangguk malu.

Jihyun pun masuk ke dalam gedung besar dan megah itu. Di sana ia melihat banyak sekali manusia, pada umumnya sekitar umur 20 tahun. Mungkin Sekyung banyak mengundang temannya, pikir Jihyun. Dan lihatlah, semua sangat mewah!

Tak sadar, siku Jihyun pun bersinggungan dengan siku seorang lelaki. Tampaknya, pria itu sedang terburu-buru. Dengan rasa penyesalan, lelaki itu pun berbalik menghadap Jihyun.

Apa?

“Jimin?” tanya Jihyun heran kepada lelaki itu. Ya, Jihyun mendapati Jimin lengkap dengan kemeja dan jas rapinya. Jimin sedikit kalut.

“Jihyun? Ba-bagaimana kau bisa di sini?” tanya Jimin sambil menarik lengan Jihyun ke tempat yang sedikit lapang. Jihyun heran.

“Aku menghadiri pesta pertunangan teman Taehyung.” Jawab Jihyun santai.

“Kau dengan Taehyung?” tanya Jimin. Jihyun menganggukkan kepalanya.

“Tentu. Siapa lagi kalau bukan Taehyung...” balas Jihyun. “Lalu, bagaiman denganmu, mengapa kau juga ada di sini, kau diundang juga?” tanya Jihyun balik.

“Hhhmmm? A-a-a-ku....” tak sampai Jimin berbicara sepenuhnya, Taehyung dan Sekyung pun datang. Jimin bungkam.

“Ahh... ternyata kau di sini, Jihyun.” Ujar Sekyung yang sedari tadi sibuk mencari Jihyun bersama Taehyung.

“Hmm? Maaf... aku—“

“Oh, iya. Aku lupa. Perkenalkan ini tunanganku.” Ujar Sekyung sambil menunjuk Jimin.

“Ji-Jimin?” tanya Jihyun dan Taehyung sambil membulatkan mata mereka bersamaan.

“Iya.. Ah, aku sudah menduga jika kalian telah mengenal Jimin sebelumnya.” Ujar Sekyung sambil setengah tertawa. Jihyun hanya diam, ia menatap Jimin dengan tatapan tidak percaya.

Sementara Jimin?

Ia hanya menunduk. Merasa bersalah.

“Maaf. Kami harus pergi dulu.” Ujar Taehyung sambil menarik paksa tangan Jihyun, karena melihat Jihyun yang hampir menangis.Taehyung membawa Jihyun ke taman gedung megah itu, berharap tak ada yang melihat Jihyun.

Ada yang tidak beres!

- FLASHBACK -

Seorang lelaki berlari di dalam rumah sakit. Tepat di depan kamar yang di tujunya, ia membukanya lekas. Namun, dokter menghalanginya sesaat untuk masuk.

“Apa yang terjadi, dokter?” tanya lelaki itu pada seorang dokter bernama Kim Namjoon.

“Penyakit jantungnya kambuh lagi.” Ujar dokter itu sedikit prihatin. Lelaki itu hanya diam merasa bersalah. “Ada kemungkinan ia bisa bertahan hidup, meski hanya minoritas. Kuharap kau tenang sementara, Jimin!” ujar dokter kepada lelaki yang tak lain adalah Jimin.

“Terima kasih, dokter.” Ujar Jimin pasrah.

“Itu pekerjaanku, sudah wajar. Sekarang pergilah, eomma-mu sepertinya ingin bertemu denganmu.” Ujar dokter itu bijak. Jimin dengan tenang menuju ke arah eomma-nya.

“Jimin....” ujar seorang gadis di dekat ranjang wanita yang tengah berbaring itu. Gadis itu Sekyung. Jimin tak menghiraukan menggilannya.

“Eomma...” ujar Jimin. Eomma-nya tersenyum.

“Tenanglah. Aku akan baik-baik saja.” Ujar wanita tua itu sambil meraih tangan Jimin.

“Kau harus janji. Kau akan baik-baik saja.” Ujar Jimin kepada wanita tua itu. Wanita tua itu mengangguk.

“Tapi, Jimin-ah.... aku minta satu hal terakhir kepadamu.” Ujar wanita tua itu sambil mendekatkan tangan Sekyung ke tangan Jimin. “Bertunanganlah dan menikahlah dengan Sekyung. Aku yakin, kalian akan hidup bahagia.” Lanjutnya. Jimin pun terdiam. Seketika ia memeluk tubuh eomma-nya yang berbaring di ranjang rumah sakit itu.

“Tapi, kau harus janji dulu, jika kau harus tetap hidup.” Ujar Jimin tulus. Wanita itu melepaskan pelukannya dari anaknya.

“Bukankah aku sudah janji tadi?” ujar wanita itu sambil terkekeh kecil. Jimin mengiyakannya. Bulir air pun jatuh dari mata lelaki itu.

“Baiklah. Jika itu maumu.” Balas Jimin sambil menatap samar Sekyung yang kini berada di sebelahnya.

Bukan. Ini semua bukan karena terpaksa menikahi Sekyung.

Tapi, ia takut melukai kekasihnya, Jihyun.

Jimin adalah lelaki, jadi ia juga membutuhkan cinta, bukan?

Ia tak mencintai Sekyung seperti ia mencintai Jihyun. Jihyun, hanya gadis itu yang masih berada di pikirannya....

Tapi, mengapa ia harus melepas Jihyun? Kenapa bukan Sekyung saja?

Bukankah lelaki di dunia ini diciptakan untuk memilih? Lalu, kenapa Jimin harus dipilih?

Mengapa hidup di dunia ini begitu rumit?

- FLASHBACK END -

***

- Jihyun’s POV -

“Jihyun-ah! Kau tak apa?” tanya Taehyung sambil memberiku segelas air putih.

“Singkirkan air itu! Aku mau pulang!” bantahku mentah.

“Ta—“

“Taehyung! Kau tak dengar apa yang kukatakan?” ujarku ketus sambil terus mengusap air mataku yang terus turun. Aku tak ingin orang lain melihatku menangis.

“Jihyun! Tunggu!” ujar seorang dari gedung itu, Jimin. Dengan cepat, dia menarik lenganku untuk menghambat kepergianku.

“Aku ingin berbicara dengannya.” Kudengar ujaran Jimin. Kupastikan perkataan itu untuk Taehyung. Taehyung pun mulai pergi.

‘PLAKK!’

Kutampar wajah lelaki itu.

“Jihyun tenanglah!” ujarnya sambil memelukku. Namun, dengan sekuat tenaga pelukan itu ku tolak mentah-mentah.

“Tenang apa yang aku maksud, PARK JIMIN?” teriakku. Namun, tak tahan, aku kembali menangis.

“Jihyun-ah! Semua bukan seperti yang—“

“DIAM!” makiku kepada Jimin. Jimin bungkam. “Sekarang pergilah...” ucapku sedikit melunak. Di sisi lain, kulihat Taehyung dan Sekyung datang.

“Jihyun-ah.... wae geurae?” tanya Sekyung kepadaku, dengan cepat kupalingkan wajahku padanya.

“Ani.” Sanggahku tegas sambil menatap ke arah jalan.

“Lalu—“

“Aku harus pergi. Ada urusan mendadak.” Ujarku sambil menarik tangan Taehyung, mengajaknya untuk segera beranjak. Namun, Sekyung menahan.

“Jihyun-ah.... Dua minggu lagi kuharap kau akan datang.” Ujar Sekyung sambil tersenyum malu. “Ya, ke pernikahanku dengan Jimin. Aku mengundangmu juga Taehyung.”

Sakit.

Menikah?

“Mianhae, mungkin aku tak bisa datang. Aku akan pergi ke Gwangjoo untuk beberapa saat.” Ujarku cepat. “Kuharap kalian akan hidup bahagia selamanya. Dan Jimin, jagalah Sekyung, ingat jangan pernah memainkan perasaannya.” Ujarku sambil menekan kalimat terakhir.

“Tentu saja, Jihyun-ah. Jimin akan selalu mencintaiku dan menjagaku. Mana mungkin dia memainkan perasaanku.” Ujar Sekyung terkekeh, namun tak kuacuhkan.

Cih! Yang benar saja. Lihatlah nantinya!

“Geurae, baguslah. Annyeong, Sekyung-ah. Annyeong, Jimin-ah.” Ujarku pelan sambil berbalik dan menarik tangan Taehyung. Taehyung memegang tanganku dengan erat. Kutahu dia cemas dengan keadaanku.

Beberapa menit kemudian, kami pun masuk ke dalam mobil. Taehyung menatapku prihatin. Kami diam. Sangat lama. Namun, setelah 15 menit hening, Taehyung memulai.

“Mianhae. Aku mengajakmu ke tempat yang salah.” Ujar Taehyung sambil menunduk.

“Aniya. Justru karena kau mengajakku, aku tau apa perbuatan lelaki itu sekarang.” Balasku.

***

Author’s POV

Three Years Later...

Mentari pagi menyunggingkan cahaya silaunya, hingga membuat seorang gadis tengah memicingkan matanya. Gadis itu kini benar-benar berubah. Biasanya seringkali terlambat, namun sekarang justru sebaliknya. Karena ia tahu.

Orang yang di tunggunya takkan pernah peduli.

Orang yang selalu dicarinya takkan pernah muncul lagi.

Jadi, untuk apa dia menunggunya? Untuk apa dia mencarinya?

Yeah. Let he comes, let he leaves.

“Jihyun!” seru seorang lelaki dari belakang. Gadis itu pun menoleh.

Jihyun? Ya, gadis itu adalah Jihyun.

“Waeyo, seonsaeng-nim?” tanya Jihyun sambil merapikan baju wisudanya yang sedikit berantakan kepada lelaki bernama Min Yoongi itu.

“Aisshh! Cepatlah... acaranya akan dimulai.” tanyanya sambil menarik tangan Jihyun dengan cepat ke aula kampusnya. Jihyun hanya mendengus kesal akibat perbuatannya.

***

Jihyun’s POV

“Jihyun! Selamat! Aku tak menyangka bahwa kaulah lulusan terbaik tahun ini....” ujar Taehyung sambil membuka tangannya lebar-lebar agar dapat memelukku yang tak jauh beberapa langkah di depannya.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Ini kampus alien!” ujarku sambil menyubit pergelangan tangan Taehyung sekeras-kerasnya. Taehyung pun mendadak menormalkan tingkah laku 4D-nya itu.

“Hehehe.... Mianhaeyo....” ujar Taehyung sambil mengedipkan matanya berulang ulang. “Tak kurasa sekarang kita sudah tamat! Hanya tinggal menikah dan memiliki anak saja!”

“Aisshhh..... semua lelaki itu sama saja!” ujarku kesal sambil mecubit pipinya lagi. Kurasa akhir-akhir ini hampir seluruh bagiam kepalanya sudah kucubit.

“Sakit! Ya! Aku tahu kau belum memiliki namjachingu!” teriaknya. Ya, mengingat apa yang dia katakan, Taehyung sudah memiliki pacar, Oh Hwayoung. Dan dia selalu menertawakanku karena...

Aku tak memiliki pacar?

DEG!

Jangan munculkan profil lelaki penipu itu lagi!

Sedikit perih memang.

Dengan perlahan kulepaskan cubitanku dari Taehyung, lalu berlalu pergi.

“Oh? Jihyun-ah!” panggil Taehyung dari belakang. “Maaf. Aku sudah lancang.”

Dengan segera kubalikkan wajahku, dan menggeleng kepadanya.

“Aniya, kau benar.” Ujarku sambil tersenyum dan kembali jalan.

***

Lega sekali rasanya!

Ya, meniggalkan kampus dengan nilai yang membuatku cukup memuaskan.

Sekarang aku berada di taman kampus. Sekedar mengingat kenangan sewaktu menimba ilmu di kampus ini. Memikirkan hal yang akan kulakukan setelah ini. Membuka praktek?

Ya, mulai saat ini, Kim Jihyun adalah seorang psikiater.

Jadi, apa salahnya membuka praktek?

Aku tersenyum. Membayangkan membantu orang-orang untuk tetap bertindak normal. Meski—seperti kata Min Yoongi seonsaengnim—harus berhadapan dengan orang-orang yang aneh. Ya, menurutku itu lucu. Dan sangat menarik.

Dengan tersenyum, kutatap semua pemandangan taman. Sampai pada akhirnya kutemukan seorang anak laki-laki yang terjatuh. Ia menangis. Dengan segera, aku pun menghampirinya.

“Adik kecil....” ujarku sambil membuatnya berdiri. “Jangan menangis, ne? Hmmm.... dimana orang tuamu?” tambahku. Anak kecil itu tetap menangis. “Baiklah, bagaimana jika aku memberimu dua permen? Tapi kau harus berjanji untuk tidak menangis.” Ujarku pada anak kecil itu. Suatu keberuntungan bagiku karena aku seorang psikiater, mengerti keadaan seseorang.

Anak kecil itu mulai diam, dia tersenyum menatapku.

“Jungkook-ah! Aiishhh! Disini kau rupanya!” ujar seorang lelaki itu sambil menggendong tubuh anak kecil, yang—baru kuketahui—bernama Jungkook itu. “Ah! Mianhamnida... Aku mere—“ ujarnya terputus.

“K-k-kau?”

***

Author’s POV

Yang benar saja! Sangat Canggung!

Mereka tak akan menyangka hal seperti ini akan terjadi.

“Hmm... selamat atas kelulusanmu, Jihyun-sshi.”  Ujar namja itu membuka percakapan.

“Kamsahaeyo, Jimin-sshi.” Balas Jihyun seformal mungkin, tanpa menghadap lawan bicaranya itu.

Eh, Jimin?

Yups! Lelaki yang bertemu dengannya tadi adalah Jimin. Lelaki yang sempat menjadi kekasih Jihyun dulu....

“Bagaimana kabarmu?” tanya Jimin kembali.

“Seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Dari pada sebelumnya.” Balas Jihyun kembali. Jimin yang merasa disindir hanya tersenyum tipis. “Dia manis.” Ujar Jihyun sambil menatap Jungkook kecil yang memakan permen diberikan Jihyun sesuai janjinya.

“Hmm? Oh... Jungkook.” Balas Jimin sambil tersenyum melihat Jungkook sedang menggingit permen lolipop itu dengan jengkel. Namun, Jimin sadar akan satu hal. “Ahh... bukan. Dia bukan anakku.”

“Hmm?” Jihyun terdiam. Bukan anak Jimin?

“Ia. Jungkook anak Yoongi, hyung.”

“Mwo? Maksudmu Jungkook anak Min Yoongi Seonsaeng-nim?” tanya Jihyun tak percaya. Jimin membalas dengan anggukan ringan. “Kukira Jungkook anakmu. Bukankah ini terhitung 3 tahun semenjak kau menikah dengan Sekyung? Mengapa belum memiliki anak?”

“Oh itu... Aku membatalkan pernikahannya....”

“Maksudmu?”

“Malam itu ibuku sakit. Serangan jantung tepatnya. Pada hari-hari akhirnya, ibuku meminta aku bertunangan dan menikah dengan Sekyung. Memang sulit untuk menikah dengan wanita yang tak dicintai. Tapi, itu semua demi ibu, agar ibu bahagia. Kau tahu, tepat dua hari sebelum hari pernikahanku, ibu meninggal. Dan dengan cepat, aku batalkan pernikahan itu.”

Jihyun terdiam. Dia mulai bersalah, karena kesalah-pahaman yang diperolehnya secara cuma-cuma, tanpa mendengar pengakuan Jimin sebenarnya.

“Aku turut berduka.” Ujar Jihyun bersalah. Jimin hanya mengangguk.

“Ahhh.... aku lupa.... Tujuan aku ke sini untuk mengantarkan Jungkook kepada Yoongi hyung, apa kau tahu dimana dia sekarang?”

“Tentu.”

***

“Appa!” pekik Jungkook girang sembari memeluk kaki ayahnya, Yoongi.

“Jungkook-ah!” balas Yoongi sambil menggendong anaknya. *Gak kebayang scene ini di dunia nyata... Kkkkk.....*

“Jungkook tadi menjahili adiknya, Jungi. Jiyoo noona menyuruhku untuk membawa Jungkook kepadamu.”  Jelas Jimin. *Jiyoo adalah istrinya Yoongi*

“Oh, jjinja?” tanya Yoongi tak percaya. Yoongi pun berlulut untuk menyetarakan tingginya dengan Jungkook kecil. “Kook, apa benar apa yang dibilang paman Jimin? Apa kau menjahili Jungi lagi?” tanya Yoongi berturut-turut sambil menatap lelah anaknya. Jungkook kecil hanya diam. “Huft... mereka kakak beradik tak pernah akur bahkan satu hari saja.”

“Sabar hyung..... Itu konsekuensi karena kau memilih menikah dengan Jiyoo noona.” Balas Jimin sambil terkekeh kecil.

“Ya, kuharap anak kalian nantinya akan akur, tak seperti Jungkook dan Jungi.” Ujar Yoongi kepada Jimin dan Jihyun.

DEG!

Heh? ‘Anak kalian?’

“Yasudah, Jihyun, Jimin, aku pergi dulu.” Tambah Yoongi sambil memaparkan senyumannya dan mengendong si kecil Jungkook.

Jadi... sekarang....

Hanya ada Jihyun dan Jimin?

Jimin menatap Jihyun dengan canggung, sementara Jihyun menatap kepergian Yoongi dan Jungkook. Tak lama kemudian, pandangan mereka pun bertemu saat Jihyun beralih menatap Jimin.

“Hmm.... terima kasih karena telah menolongku menemukan Yoongi hyung.” Ujar Jimin.

“Bukan apa-apa.”

“Jihyun-ah...” ujar Jimin kembali seakrab mungkin.

“Hm?”

“Maukah kau menemaniku ke suatu tempat? Seperti Sungai Han?” tanya Jimin ragu-ragu.

“Maaf Jimin, aku—“

“Ayolah.... hanya sekedar menghapus rasa bersalahku 3 tahun lalu.” Potong Jimin.

“Untuk apa? Semua sudah terjadi... tak usah kembali diungkit..”

Ayolah Jihyun! Jimin sedang memikirkan bagaimana caranya agar hubungan kalian kembali membaik! Mengapa kau tolak?

“Anggap ini semua hadiah karena kau baru tamat. Itu masuk akal bukan?”

***

Semburat angin malam mengisi keindahan malam Sungai Han. Banyak manusia ras kulit putih di sana. Seperti pasangan yang kembali lagi setelah 3 tahun itu.

“Kau ingat, terakhir kali kita jalan-jalan di sini.” Ujar Jimin membukan percakapan sambil terus berjalan.

“Hmm.... aku ingat...” ujar Jihyun.

“Dan kalung itu.” Ujar Jimin yang terus mengingat. Jimin menghentikan langkahnya dan menghadap Jihyun. “Mana kalung yang kuberikan?” ujar Jimin sambil merilik lehar jejang milik Jihyun. Ia tak menemukan kalung itu.

“Itu... adikku yang menghilangkannya.” Balas Jihyun sedikit gugup. Seketika, ada raut kekecewaan di wajah Jimin.

“Oh... hilang...” balas Jimin tak bersemangat.

Beberapa menit pun berlalu. Mereka sibuk berjalan dengan pemikiran sendiri. Namun, tak lama kemudian, hujan lebat pun turun seketika.

“Aisshhh..... kenapa bisa hujan?” celoteh Jihyun yang disambut kekehan Jimin.
Bagaimana Jimin lupa bahwa Jihyun membenci hujan. Apalagi terkena hujan, yang membuat tubuh Jihyun kedinginan.

Dengan segera, Jimin membukan mantel hitamnya untuk menutupi kepalanya dan Jihyun. Langkah selanjutnya, Jimin melekatkan tubuh Jihyun dengannya, hingga tak ada lagi jarak. Kemudian, merekapun berlari kesebuah halte yang sepi akan orang. Ingat, hanya sekedar untuk berteduh!

Jihyun pun tersenyum.

“Ini akan menjadi malam yang panjang.” Ujar Jimin membuka percakapan kembali. “Mianhae, karena telah mengajakmu ke tempat ini.” tambah Jimin yang merasa bersalah seraya menatap gadis itu.

“Aniya. Gomawo karena kau telah melindungiku dari hujan. Aku tak menyangka kau masih mengingat hal yang aku benci.” Ujar Jihyun setengah tersenyum kepada Jimin.

Yang benar saja, kini Jimin yang menjadi salah tingkah!

“Tentu, bagaimana aku bisa lupa semua hal itu.” Ujar Jimin. Tak sadar, kedua wajah mereka memerah.

“Kurasa hujan masih akan berlanjut. Apa ada orang di rumahmu?”

“Hanya Seokjin oppa. Yang lain sudah berangkat ke Gwangjoo tadi setelah menghadiri acara wisudaku. Ada sedikit urusan mendadak.” Ujar Jihyun ringkas.

“Kalau begitu menginaplah di apartemenku malam ini. Apartemenku tak beberapa jauh dair sini. Seokjin hyung, nanti akan kukabari.”

“Aniya, tak usah. Aku akan menunggu hujan mulai reda.”

Satu hal yang Jimin tak boleh lupakan. Gadis itu masih keras kepala.

“Tidak. Hujan kali ini akan lama.”

“Tapi—“

“Mengertilah Jihyun. Bagaimana jika nanti kau sakit?” tanya Jimin sambil memohon. “Aku tidak akan berbuat macam-macam kepadamu.”

Jihyun pun mengangguk setuju.

***

Jimin dan Jihyun pun tiba di apartemen. Tinggal satu langkah lagi bagi Jimin dan Jihyun untuk masuk ke dalam apartemen itu. Jimin pun menekan password apartemennya. Namun, sebelum seluruh password itu tertekan. Pintu apartemen terbuka. Tampaklah sosok gadis berkemeja putih dan berambut basah tengah muncul di depan Jimin dan Jihyun.

Gadis itu Sekyung!

Dengan tersenyum puas Sekyung langsung memeluk Jimin, tanpa peduli ada gadis di sebelah yang menyaksikan mereka berdua.

“Sekyung!” bentak Jimin pada gadis yang memeluknya itu, mengapa kau di sini? Dan, bau alkohol? Kau mabuk?” tanya Jimin.

Jihyun tak dapat berkata-kata. Segera setelah Jimin menyadarkan Sekyung dengan membentaknya, Jihyun pergi. Jimin pun panik.

***

Jihyun’s POV


Yang benar saja!

Bagaimana bisa gadis itu tahu password itu jika bukan lelaki mesum itu yang memberi tahunya?

Aku tak habis pikir dengannya.

Baru saja hubungan kami mulai membaik. Dan sekarang ada yang mengganjal kembali! Aku benar-benar muak!

Dengan cepat kulangkahkan kakiku menuju jalan. Tak peduli apa kata orang, ataupun hujan yang deras. Aku ingin pulang. Namun....

Dia datang lagi....

“Jihyun!” bentak Jimin sambil memegang kedua pipiku.

“Mwo? Tak perlu. Aku perlu mendengar hal apapun darimu, pria mesum!” pekikku.

“Jihyun! Tolong mengertilah! Aku benar-benar tak bermaksud. Dan Sekyung, aku telah menyuruhnya pergi. Ayo kita kembali!” tungkas Jimin sambil menarik tanganku.Aku melepaskannya. Jimin terduduk, tepat di tengah jalan itu.

“Aku tak peduli!”

“Jihyun. Butuh waktu yang lama untuk mendapatkanmu kembali. Aku menunggumu selalu. Memikirkan apa kau sudah menikah atau belum, memikirkan apa kau sudah melupakanku atau belum. Benar-benar membuat otakku berhenti ingin pecah. Dan hari ini aku bertemu lagi denganmu. Hingga sekarang kau maki. Aku rela. Jihyun, aku rela mati untukmu...” ujarnya yang semakin memekakkan telingaku.

“Kau pikir aku akan mengubah keputusanku?”

“Aku janji Jihyun, benar-benar janji.” Balas Jimin lagi.

“Dasar bodoh!”

“Aku bersedia mati!”

“Cobalah! Karena aku akan tetap pergi!” Ujarku sambil memantapkan kakiku menjauhinya, menyebrangi jalan.”

“Jihyun!”

“Pergilah Bodoh!”

“JI—‘

‘BRAAKKK!’

Kudengar suara keras tepat di belakang. Apa jangan-jangan....

Dengan tak tega kulihat ke belakang.

Jimin.

JIMIN!

Aku berlari kearahnya. Menagis.

“Jimin! Ya, apa yang kau lakukan, bodoh!” bentakku pada Jimin.

“Bukankah aku telah membuktikan apa yang kukatakan saat ini. Seharusnya kau bahagia, bukannya bersedih.” Ujar Jimin pelan sambil tersenyum. Darah itu mengalir deras si kepalanya.

“YA! BUKAN ITU MAKSUDKU, BODOH!”

“Jihyun.... A-a-ku ada sesuatu untukmu. Setelah ini jangan hilangkan, ya?” ujar Jimin sambil memberikan kalung bertuliskan ‘Kim Jihyun’. Aku menangis keras. “Bukankah sebelumnya akau memberimu kalung berliontin M? Aku tahu kau pasti kecewa. Tapi, sekarang lihatlah, aku belikan kalung bertuliskan namamu.”

“JIMIN! Kalung itu masih kusimpan bodoh! MENGAPA KAU TAK MENGERTI?” tanyaku mulai muak dan cemas, karena darah dari kepala Jimin mulai banyak. “Aku kan tele—“

“Jangan hubungi ambulan,  Jihyun-ah.... percuma, itu semua akan membuang waktu saja. Lagipula, ini saat terbaik. Aku bisa menatapmu dengan dekat setelah tiga tahun terakhir.” Ujar Jimin yang diikuti dengan tangisanku yang meruak tajam. “Sampaikan permohonan maafku kepada Seokjin hyung karena tak bisa mengantarmu ke rumah. Juga dengan teman-temanku lainnya. Maafkan aku karena banyak menyakiti hatimu, Jihyun-ah.”

“Tidak! Kau tak boleh pergi begitu saja Jimin!” bentakku sembari memegang kepalanya.

“Jaga dirimu baik-baik, ne?” Ujar Jimin sambil mencengkram kuat tanganku. “Jangan lupa makan malam. Bawa payung ketika kau kerja nantinya. Temukanlah lelaki yang menurutmu pantas untukmu, aku akan rela dan merestui kalian. Dan beri nama anak kalian Minhyun, seperti yang kita bahas waktu itu.” Jimin memegang keras kepalanya.

“Jimin.....”

“S-s-satu lagi..... Jangan ingat aku lagi....”

Bagaimana bisa, Jimin? Bagaimana bisa itu terjadi?

“Kau harus hidup Park Jimin. Aku mencintaimu.”

“Tapi cinta tak menuntut kita untuk sempurna, Jihyun-ah....”

Jimin melepaskan cengkraman tangannya. Aku mengerti.

- FIN -

***

[EPILOG]

Two Years Later...

Pagi itu sangat cerah. Meski di pemakaman sekalipun. Tak beberapa lama, datanglah seorang wanita cantik sambil membawa anak kecil sekitar berumur 3 tahun di genggamannya. Benar, gadis itu Jihyun.

“Annyeong Jimin-ah...” sapa Jihyun pada batu nisan yang bernamakan ‘Park Jimin’ itu. Jihyun terduduk. “Maaf, aku baru sempat mengunjungimu sekarang setelah satu tahun terakhir ini. Kau tahu, aku sangat merindukanmu. Bahkan kau selalu hadir dalam mimpiku akhir-akhir ini.”

Jihyun pun mulai membersihkan tempat peristirahatan Jimin itu.

“Dan perkenalkan ini, Minhyun. Setelah kupikir-pikir, aku tak ingin menikah. Tapi, karena kau menyuruhku untuk memberi nama anakku Minhyun. Aku mengangkat Minhyun sebagai anakku. Minhyun-ah, ucapkan salammu.” Suruhku pada Minhyun.

“Annyeong haseyo, Park Minhyun imnida.” Ujar Minhyun polos sambil membungkuk 90 derajat ke arah makam Jimin. Jihyun tersenyum kecil.

“Maaf karena memakai nama depanmu Jimin-ah. Karena kau hanyalah satu-satunya laki-laki diluar keluargaku yang kupercayai. Di samping itu, aku juga menganggap kau ayah Minhyun. Bukankah Minhyun adalah singkatan dari Jimin dan Jihyun.” Ujarku sendu sambil menatap makam Jimin, lalu menebar bunga di atasnya.

“Baiklah, mungkin kau ingin beristirahat kembali. Aku tak akan mengganggumu. Cukup untuk hari ini. Kumohon, jangan bosan-bosan untuk hadir di mimpiku, karena aku tak ingin melupakanmu sampai kapanpun. Park Minhyun, ucapkan salam perpisahan pada ayahmu, Park Jimin.”

“Annyeong higaseyo, appa! Nan jeongmal saranghaeyo!” ujar Minhyun kembali sambil membuat gambar hati di jari mungilnya.

“Annyeong, Jimin-ah!” ujar Jihyun sambil menuntun Minhyun keluar dari tempat pemakaman tersebut. “Annyeong.....”

***

Jihyun-ah...
Terima kasih sudah mempercayaiku.
Terima kasih untuk tetap mengingatku.
Terima kasih karena telah menjadikanku ayah Minhyun.
Dan terima kasih untuk kenangan yang telah kau berikan...

***

Gimana readers? Maaf nih buat yang kecewa sama endingnya T,T
Absurd banget yahh? Feel-nya juga gak kerasa yah?
Ya, karena jarang benget yang buat FF ending sad,  jadi keinspirasi nih ngebuat sad ending. Jadi jangan salahin author karena buat ff-nya sad ending, tapi salahin author lainnya karena gak mau buatin yang sad ending. *Please jangan bash*
Okay, bagi yang udah baca tolong tinggalkan jejak dikiiiitttttt aja....

Sekian, trims from author.... - Fellicia Kim -

No comments:

Post a Comment