Title : Good Bye
Main Cast : Park Jimin [BTS] | Kim Jihyun [OC]
Support Cast : All member BTS and others
Genre : Hurt | Sad | Romance | Tragedy | Angst
Rate : PG-15
Length : TwoShot + Epilog
Scriptwriter : Fellicia Kim @fkim_author
Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t be a
plagiator.
***
‘Let he comes, Let he leaves’
Love mustn’t be a perfect thing
-Good Bye-
***
Author’s
POV
Two Months Later...
“Ugghhh! Kenapa
tugasku tidak diterima? Bahkan Min seonsaeng-nim saja hanya membaca judulnya
saja! Itu membutuhkan waktu seminggu untuk membuatnya! Aisshh! Dasar dosen tak
tau diri!” celoteh Jihyun sambil mengambil tempat duduk di sebelah Taehyung,
sahabatnya. Namun, Taehyung masih mendengarnya.
“Maksudmu, Min
Yoongi seonsaeng-nim?” tanya Taehyung memperjelas percakapan. Jihyun
mengangguk.
“Dasar dosen tak tau
diri! Selalu berpikir bahwa dia yang paling pintar! Cih!” geram Jihyun sambil
membanting beberapa tumpukan kertas ke meja makan siang yang berada di
depannya. Sesekali, Jihyun menghentakkan kakinya dengan kesal.
“Sudahlah....
Mungkin memang tugasmu yang kurang menarik.” Ujar Taehyung santai. Dengan
secepat kilat Jihyun langsung menjitak lelaki bermarga Kim itu.
“Ya! Kim Taehyung!
Kau seharusnya mendukungku dan menolongku! Bukan sebaliknya!” ujar Jihyun yang
masih kesal.
“Iya iya....
Maksudku... Akhir-akhir ini kau terlalu fokus mengerjakan tugas.” Balas
Taehyung masam.
“Jadi?”
“Apa kau bertengkar
dengan Jimin? Maksudku, aku jarang melihatnya mengantarmu akhir-akhir ini.”
ujar Taehyung.
“Bertengkar? Yang
benar saja. Memang terakhir kali kami bertemu dua bulan yang lalu. Kebetulan
eomma-nya sakit. Jadi, dia harus buru-buru pergi.” Ujar Jihyun.
“Jinjja? Ahh...
kasihan sekali.”
“Ya, tentu. Bisa
jadi sampai saat ini dia harus menjaga eomma-nya yang masih sakit, kan?” ujar
Jihyun yang diiringi dengan meminun air mineral di botolnya.
“Ya, bisa saja!”
ujar Taehyung santai. “Jihyun-ah! Aku diundang di acara pertunangan temanku
nanti malam. Kau ikut?” ajak Taehyung sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya
beberapa kali.
“Ya! Jangan seperti
itu. Aku muak melihatnya.” Ujar Jihyun jengkel sambil mendorong wajah Taehyung
dengan kedua tangannya. “Bagaimana kalau aku tidak mau? Lagian itu kan
urusanmu, bukan urusanku!” ujar Jihyun sambil terkekeh pelan dan beranjak pergi
meninggalkan Taehyung.
“Ah... Jihyun-ah!
Bantulah aku kali ini saja!” mohon Taehyung. “Kau tahu kan, semua temanku sudah
memiliki pacar. Dan mereka akan membawa yeojachingu-nya nanti malam.” Ujar
Taehyung tanpa berbasa-basi lagi.
“Mwo? Lalu, kau
ingin aku berpura-pura menjadi yeojachingu-mu untuk malam nanti?” ujar Jihyun
tak habis pikir.
“Ayolah.... Bukan
yeojachingu. Tapi yeoja-chingu. Ya, minimal aku memiliki teman untuk berbicara
nantinya.” Ujar Taehyung kembali memelas. Jihyun tampak masih
menimbang-nimbang. “Ayolah, Jimin bahkan tak tahu. Kau tak perlu khawatir.
Meskipun Jimin tahu ia akan mengerti. Lagian, kau perlu hiburan, kan? Inikan
malam minggu!”
“Baiklah. Tapi, aku
tak mau terlalu larut. Kau harus ingat itu.” Ujar Jihyun sambil menatap
Taehyung tajam. Taehyung pun bersorak girang.
***
“Apa kau siap.” Ujar
Taehyung sembari mengambil tangan Jihyun dan menggenggamnya.
“Ingat janjimu, Kim
Taehyung! Jangan lupakan itu!” ujar Jihyun pelan. Taehyun terkekeh pelan. Ia
mengacungkan jempolnya.
“Taehyung-ah!” ujar
seorang wanita dari dalam gedung, menyapa Taehyung.
“Sekyung-ah! Ahh...
aku tak menyangka kau sudah bertunangan.” Balas Taehyung sambil berjabat tangan
dengan gadis bernama Sekyung itu.
“Hei... Sayangnya
kau telat datang! Pertukaran cincinnya sudah di mulai beberapa menit yang
lalu.” Ujar Sekyung.
“Oh, jinjja? Ah..
ternyata kami telat. Oh ya, Sekyung, perkenalkan ini Jihyun, temanku. Jihyun,
ini Sekyung, temanku yang beberapa menit lalu bertunangan.” Ujar Taehyung
memeperkanalkan kedua teman perempuannya itu. Jihyun dan Sekyung pun saling
berjabat tangan. “Hmm.... Sekyung, dimana tunanganmu? Aku belum melihatnya.”
“Oh, dia ada di
dalam. Berinteraksi dengan lingkungan barunya.” Ujar sekyung malu-malu. Jihyun
yang merasa tak enak pun memutuskan untuk masuk ke gedung itu sendirian.
“Taehyung, Sekyung,
kalau begitu aku masuk dulu.” Ujar Jihyun sopan. Sekyung dan Taehyung pun
membalasnya dengan anggukan dan senyuman.
“Tunggulah di dalam
kami akan datang sebentar lagi.” Ujar Sekyung kepada Jihyun. Jihyun pun
mengangguk malu.
Jihyun pun masuk ke
dalam gedung besar dan megah itu. Di sana ia melihat banyak sekali manusia,
pada umumnya sekitar umur 20 tahun. Mungkin Sekyung banyak mengundang temannya,
pikir Jihyun. Dan lihatlah, semua sangat mewah!
Tak sadar, siku
Jihyun pun bersinggungan dengan siku seorang lelaki. Tampaknya, pria itu sedang
terburu-buru. Dengan rasa penyesalan, lelaki itu pun berbalik menghadap Jihyun.
Apa?
“Jimin?” tanya
Jihyun heran kepada lelaki itu. Ya, Jihyun mendapati Jimin lengkap dengan
kemeja dan jas rapinya. Jimin sedikit kalut.
“Jihyun?
Ba-bagaimana kau bisa di sini?” tanya Jimin sambil menarik lengan Jihyun ke
tempat yang sedikit lapang. Jihyun heran.
“Aku menghadiri
pesta pertunangan teman Taehyung.” Jawab Jihyun santai.
“Kau dengan
Taehyung?” tanya Jimin. Jihyun menganggukkan kepalanya.
“Tentu. Siapa lagi
kalau bukan Taehyung...” balas Jihyun. “Lalu, bagaiman denganmu, mengapa kau
juga ada di sini, kau diundang juga?” tanya Jihyun balik.
“Hhhmmm?
A-a-a-ku....” tak sampai Jimin berbicara sepenuhnya, Taehyung dan Sekyung pun
datang. Jimin bungkam.
“Ahh... ternyata kau
di sini, Jihyun.” Ujar Sekyung yang sedari tadi sibuk mencari Jihyun bersama
Taehyung.
“Hmm? Maaf... aku—“
“Oh, iya. Aku lupa.
Perkenalkan ini tunanganku.” Ujar Sekyung sambil menunjuk Jimin.
“Ji-Jimin?” tanya
Jihyun dan Taehyung sambil membulatkan mata mereka bersamaan.
“Iya.. Ah, aku sudah
menduga jika kalian telah mengenal Jimin sebelumnya.” Ujar Sekyung sambil
setengah tertawa. Jihyun hanya diam, ia menatap Jimin dengan tatapan tidak
percaya.
Sementara Jimin?
Ia hanya menunduk.
Merasa bersalah.
“Maaf. Kami harus
pergi dulu.” Ujar Taehyung sambil menarik paksa tangan Jihyun, karena melihat
Jihyun yang hampir menangis.Taehyung membawa Jihyun ke taman gedung megah itu,
berharap tak ada yang melihat Jihyun.
Ada yang tidak
beres!
-
FLASHBACK -
Seorang lelaki berlari
di dalam rumah sakit. Tepat di depan kamar yang di tujunya, ia membukanya
lekas. Namun, dokter menghalanginya sesaat untuk masuk.
“Apa yang terjadi,
dokter?” tanya lelaki itu pada seorang dokter bernama Kim Namjoon.
“Penyakit jantungnya
kambuh lagi.” Ujar dokter itu sedikit prihatin. Lelaki itu hanya diam merasa
bersalah. “Ada kemungkinan ia bisa bertahan hidup, meski hanya minoritas.
Kuharap kau tenang sementara, Jimin!” ujar dokter kepada lelaki yang tak lain
adalah Jimin.
“Terima kasih,
dokter.” Ujar Jimin pasrah.
“Itu pekerjaanku,
sudah wajar. Sekarang pergilah, eomma-mu sepertinya ingin bertemu denganmu.”
Ujar dokter itu bijak. Jimin dengan tenang menuju ke arah eomma-nya.
“Jimin....” ujar
seorang gadis di dekat ranjang wanita yang tengah berbaring itu. Gadis itu
Sekyung. Jimin tak menghiraukan menggilannya.
“Eomma...” ujar
Jimin. Eomma-nya tersenyum.
“Tenanglah. Aku akan
baik-baik saja.” Ujar wanita tua itu sambil meraih tangan Jimin.
“Kau harus janji.
Kau akan baik-baik saja.” Ujar Jimin kepada wanita tua itu. Wanita tua itu
mengangguk.
“Tapi, Jimin-ah....
aku minta satu hal terakhir kepadamu.” Ujar wanita tua itu sambil mendekatkan
tangan Sekyung ke tangan Jimin. “Bertunanganlah dan menikahlah dengan Sekyung.
Aku yakin, kalian akan hidup bahagia.” Lanjutnya. Jimin pun terdiam. Seketika ia
memeluk tubuh eomma-nya yang berbaring di ranjang rumah sakit itu.
“Tapi, kau harus
janji dulu, jika kau harus tetap hidup.” Ujar Jimin tulus. Wanita itu
melepaskan pelukannya dari anaknya.
“Bukankah aku sudah
janji tadi?” ujar wanita itu sambil terkekeh kecil. Jimin mengiyakannya. Bulir
air pun jatuh dari mata lelaki itu.
“Baiklah. Jika itu
maumu.” Balas Jimin sambil menatap samar Sekyung yang kini berada di
sebelahnya.
Bukan. Ini semua
bukan karena terpaksa menikahi Sekyung.
Tapi, ia takut
melukai kekasihnya, Jihyun.
Jimin adalah lelaki,
jadi ia juga membutuhkan cinta, bukan?
Ia tak mencintai
Sekyung seperti ia mencintai Jihyun. Jihyun, hanya gadis itu yang masih berada
di pikirannya....
Tapi, mengapa ia
harus melepas Jihyun? Kenapa bukan Sekyung saja?
Bukankah lelaki di
dunia ini diciptakan untuk memilih? Lalu, kenapa Jimin harus dipilih?
Mengapa hidup di
dunia ini begitu rumit?
-
FLASHBACK END -
***
-
Jihyun’s POV -
“Jihyun-ah! Kau tak
apa?” tanya Taehyung sambil memberiku segelas air putih.
“Singkirkan air itu!
Aku mau pulang!” bantahku mentah.
“Ta—“
“Taehyung! Kau tak
dengar apa yang kukatakan?” ujarku ketus sambil terus mengusap air mataku yang
terus turun. Aku tak ingin orang lain melihatku menangis.
“Jihyun! Tunggu!”
ujar seorang dari gedung itu, Jimin. Dengan cepat, dia menarik lenganku untuk
menghambat kepergianku.
“Aku ingin berbicara
dengannya.” Kudengar ujaran Jimin. Kupastikan perkataan itu untuk Taehyung.
Taehyung pun mulai pergi.
‘PLAKK!’
Kutampar wajah
lelaki itu.
“Jihyun tenanglah!”
ujarnya sambil memelukku. Namun, dengan sekuat tenaga pelukan itu ku tolak
mentah-mentah.
“Tenang apa yang aku
maksud, PARK JIMIN?” teriakku. Namun, tak tahan, aku kembali menangis.
“Jihyun-ah! Semua
bukan seperti yang—“
“DIAM!” makiku
kepada Jimin. Jimin bungkam. “Sekarang pergilah...” ucapku sedikit melunak. Di
sisi lain, kulihat Taehyung dan Sekyung datang.
“Jihyun-ah.... wae
geurae?” tanya Sekyung kepadaku, dengan cepat kupalingkan wajahku padanya.
“Ani.” Sanggahku
tegas sambil menatap ke arah jalan.
“Lalu—“
“Aku harus pergi.
Ada urusan mendadak.” Ujarku sambil menarik tangan Taehyung, mengajaknya untuk
segera beranjak. Namun, Sekyung menahan.
“Jihyun-ah.... Dua
minggu lagi kuharap kau akan datang.” Ujar Sekyung sambil tersenyum malu. “Ya,
ke pernikahanku dengan Jimin. Aku mengundangmu juga Taehyung.”
Sakit.
Menikah?
“Mianhae, mungkin
aku tak bisa datang. Aku akan pergi ke Gwangjoo untuk beberapa saat.” Ujarku
cepat. “Kuharap kalian akan hidup bahagia selamanya. Dan Jimin, jagalah
Sekyung, ingat jangan pernah memainkan perasaannya.” Ujarku sambil menekan
kalimat terakhir.
“Tentu saja,
Jihyun-ah. Jimin akan selalu mencintaiku dan menjagaku. Mana mungkin dia
memainkan perasaanku.” Ujar Sekyung terkekeh, namun tak kuacuhkan.
Cih! Yang benar
saja. Lihatlah nantinya!
“Geurae, baguslah.
Annyeong, Sekyung-ah. Annyeong, Jimin-ah.” Ujarku pelan sambil berbalik dan
menarik tangan Taehyung. Taehyung memegang tanganku dengan erat. Kutahu dia
cemas dengan keadaanku.
Beberapa menit kemudian,
kami pun masuk ke dalam mobil. Taehyung menatapku prihatin. Kami diam. Sangat
lama. Namun, setelah 15 menit hening, Taehyung memulai.
“Mianhae. Aku
mengajakmu ke tempat yang salah.” Ujar Taehyung sambil menunduk.
“Aniya. Justru
karena kau mengajakku, aku tau apa perbuatan lelaki itu sekarang.” Balasku.
***
Author’s
POV
Three
Years Later...
Mentari pagi
menyunggingkan cahaya silaunya, hingga membuat seorang gadis tengah memicingkan
matanya. Gadis itu kini benar-benar berubah. Biasanya seringkali terlambat,
namun sekarang justru sebaliknya. Karena ia tahu.
Orang yang di
tunggunya takkan pernah peduli.
Orang yang selalu
dicarinya takkan pernah muncul lagi.
Jadi, untuk apa dia
menunggunya? Untuk apa dia mencarinya?
Yeah. Let he comes,
let he leaves.
“Jihyun!” seru
seorang lelaki dari belakang. Gadis itu pun menoleh.
Jihyun? Ya, gadis
itu adalah Jihyun.
“Waeyo,
seonsaeng-nim?” tanya Jihyun sambil merapikan baju wisudanya yang sedikit
berantakan kepada lelaki bernama Min Yoongi itu.
“Aisshh! Cepatlah...
acaranya akan dimulai.” tanyanya sambil menarik tangan Jihyun dengan cepat ke
aula kampusnya. Jihyun hanya mendengus kesal akibat perbuatannya.
***
Jihyun’s
POV
“Jihyun! Selamat!
Aku tak menyangka bahwa kaulah lulusan terbaik tahun ini....” ujar Taehyung
sambil membuka tangannya lebar-lebar agar dapat memelukku yang tak jauh
beberapa langkah di depannya.
“Ya! Apa yang kau
lakukan? Ini kampus alien!” ujarku sambil menyubit pergelangan tangan Taehyung
sekeras-kerasnya. Taehyung pun mendadak menormalkan tingkah laku 4D-nya itu.
“Hehehe....
Mianhaeyo....” ujar Taehyung sambil mengedipkan matanya berulang ulang. “Tak
kurasa sekarang kita sudah tamat! Hanya tinggal menikah dan memiliki anak
saja!”
“Aisshhh..... semua
lelaki itu sama saja!” ujarku kesal sambil mecubit pipinya lagi. Kurasa
akhir-akhir ini hampir seluruh bagiam kepalanya sudah kucubit.
“Sakit! Ya! Aku tahu
kau belum memiliki namjachingu!” teriaknya. Ya, mengingat apa yang dia katakan,
Taehyung sudah memiliki pacar, Oh Hwayoung. Dan dia selalu menertawakanku
karena...
Aku tak memiliki
pacar?
DEG!
Jangan munculkan
profil lelaki penipu itu lagi!
Sedikit perih
memang.
Dengan perlahan
kulepaskan cubitanku dari Taehyung, lalu berlalu pergi.
“Oh? Jihyun-ah!”
panggil Taehyung dari belakang. “Maaf. Aku sudah lancang.”
Dengan segera
kubalikkan wajahku, dan menggeleng kepadanya.
“Aniya, kau benar.”
Ujarku sambil tersenyum dan kembali jalan.
***
Lega sekali rasanya!
Ya, meniggalkan
kampus dengan nilai yang membuatku cukup memuaskan.
Sekarang aku berada
di taman kampus. Sekedar mengingat kenangan sewaktu menimba ilmu di kampus ini.
Memikirkan hal yang akan kulakukan setelah ini. Membuka praktek?
Ya, mulai saat ini,
Kim Jihyun adalah seorang psikiater.
Jadi, apa salahnya
membuka praktek?
Aku tersenyum.
Membayangkan membantu orang-orang untuk tetap bertindak normal. Meski—seperti
kata Min Yoongi seonsaengnim—harus berhadapan dengan orang-orang yang aneh. Ya,
menurutku itu lucu. Dan sangat menarik.
Dengan tersenyum,
kutatap semua pemandangan taman. Sampai pada akhirnya kutemukan seorang anak
laki-laki yang terjatuh. Ia menangis. Dengan segera, aku pun menghampirinya.
“Adik kecil....”
ujarku sambil membuatnya berdiri. “Jangan menangis, ne? Hmmm.... dimana orang
tuamu?” tambahku. Anak kecil itu tetap menangis. “Baiklah, bagaimana jika aku
memberimu dua permen? Tapi kau harus berjanji untuk tidak menangis.” Ujarku
pada anak kecil itu. Suatu keberuntungan bagiku karena aku seorang psikiater,
mengerti keadaan seseorang.
Anak kecil itu mulai
diam, dia tersenyum menatapku.
“Jungkook-ah!
Aiishhh! Disini kau rupanya!” ujar seorang lelaki itu sambil menggendong tubuh
anak kecil, yang—baru kuketahui—bernama Jungkook itu. “Ah! Mianhamnida... Aku
mere—“ ujarnya terputus.
“K-k-kau?”
***
Author’s
POV
Yang benar saja!
Sangat Canggung!
Mereka tak akan
menyangka hal seperti ini akan terjadi.
“Hmm... selamat atas
kelulusanmu, Jihyun-sshi.” Ujar namja
itu membuka percakapan.
“Kamsahaeyo,
Jimin-sshi.” Balas Jihyun seformal mungkin, tanpa menghadap lawan bicaranya
itu.
Eh, Jimin?
Yups! Lelaki yang
bertemu dengannya tadi adalah Jimin. Lelaki yang sempat menjadi kekasih Jihyun
dulu....
“Bagaimana kabarmu?”
tanya Jimin kembali.
“Seperti yang kau
lihat, aku sangat baik. Dari pada sebelumnya.” Balas Jihyun kembali. Jimin yang
merasa disindir hanya tersenyum tipis. “Dia manis.” Ujar Jihyun sambil menatap
Jungkook kecil yang memakan permen diberikan Jihyun sesuai janjinya.
“Hmm? Oh...
Jungkook.” Balas Jimin sambil tersenyum melihat Jungkook sedang menggingit
permen lolipop itu dengan jengkel. Namun, Jimin sadar akan satu hal. “Ahh...
bukan. Dia bukan anakku.”
“Hmm?” Jihyun
terdiam. Bukan anak Jimin?
“Ia. Jungkook anak
Yoongi, hyung.”
“Mwo? Maksudmu
Jungkook anak Min Yoongi Seonsaeng-nim?” tanya Jihyun tak percaya. Jimin
membalas dengan anggukan ringan. “Kukira Jungkook anakmu. Bukankah ini
terhitung 3 tahun semenjak kau menikah dengan Sekyung? Mengapa belum memiliki
anak?”
“Oh itu... Aku
membatalkan pernikahannya....”
“Maksudmu?”
“Malam itu ibuku
sakit. Serangan jantung tepatnya. Pada hari-hari akhirnya, ibuku meminta aku
bertunangan dan menikah dengan Sekyung. Memang sulit untuk menikah dengan
wanita yang tak dicintai. Tapi, itu semua demi ibu, agar ibu bahagia. Kau tahu,
tepat dua hari sebelum hari pernikahanku, ibu meninggal. Dan dengan cepat, aku
batalkan pernikahan itu.”
Jihyun terdiam. Dia
mulai bersalah, karena kesalah-pahaman yang diperolehnya secara cuma-cuma,
tanpa mendengar pengakuan Jimin sebenarnya.
“Aku turut berduka.”
Ujar Jihyun bersalah. Jimin hanya mengangguk.
“Ahhh.... aku
lupa.... Tujuan aku ke sini untuk mengantarkan Jungkook kepada Yoongi hyung,
apa kau tahu dimana dia sekarang?”
“Tentu.”
***
“Appa!” pekik
Jungkook girang sembari memeluk kaki ayahnya, Yoongi.
“Jungkook-ah!” balas
Yoongi sambil menggendong anaknya. *Gak kebayang scene ini di dunia nyata...
Kkkkk.....*
“Jungkook tadi
menjahili adiknya, Jungi. Jiyoo noona menyuruhku untuk membawa Jungkook
kepadamu.” Jelas Jimin. *Jiyoo adalah
istrinya Yoongi*
“Oh, jjinja?” tanya
Yoongi tak percaya. Yoongi pun berlulut untuk menyetarakan tingginya dengan
Jungkook kecil. “Kook, apa benar apa yang dibilang paman Jimin? Apa kau
menjahili Jungi lagi?” tanya Yoongi berturut-turut sambil menatap lelah
anaknya. Jungkook kecil hanya diam. “Huft... mereka kakak beradik tak pernah
akur bahkan satu hari saja.”
“Sabar hyung.....
Itu konsekuensi karena kau memilih menikah dengan Jiyoo noona.” Balas Jimin
sambil terkekeh kecil.
“Ya, kuharap anak
kalian nantinya akan akur, tak seperti Jungkook dan Jungi.” Ujar Yoongi kepada
Jimin dan Jihyun.
DEG!
Heh? ‘Anak kalian?’
“Yasudah, Jihyun,
Jimin, aku pergi dulu.” Tambah Yoongi sambil memaparkan senyumannya dan
mengendong si kecil Jungkook.
Jadi... sekarang....
Hanya ada Jihyun dan
Jimin?
Jimin menatap Jihyun
dengan canggung, sementara Jihyun menatap kepergian Yoongi dan Jungkook. Tak
lama kemudian, pandangan mereka pun bertemu saat Jihyun beralih menatap Jimin.
“Hmm.... terima
kasih karena telah menolongku menemukan Yoongi hyung.” Ujar Jimin.
“Bukan apa-apa.”
“Jihyun-ah...” ujar
Jimin kembali seakrab mungkin.
“Hm?”
“Maukah kau
menemaniku ke suatu tempat? Seperti Sungai Han?” tanya Jimin ragu-ragu.
“Maaf Jimin, aku—“
“Ayolah.... hanya
sekedar menghapus rasa bersalahku 3 tahun lalu.” Potong Jimin.
“Untuk apa? Semua
sudah terjadi... tak usah kembali diungkit..”
Ayolah Jihyun! Jimin
sedang memikirkan bagaimana caranya agar hubungan kalian kembali membaik!
Mengapa kau tolak?
“Anggap ini semua
hadiah karena kau baru tamat. Itu masuk akal bukan?”
***
Semburat angin malam
mengisi keindahan malam Sungai Han. Banyak manusia ras kulit putih di sana.
Seperti pasangan yang kembali lagi setelah 3 tahun itu.
“Kau ingat, terakhir
kali kita jalan-jalan di sini.” Ujar Jimin membukan percakapan sambil terus
berjalan.
“Hmm.... aku
ingat...” ujar Jihyun.
“Dan kalung itu.”
Ujar Jimin yang terus mengingat. Jimin menghentikan langkahnya dan menghadap
Jihyun. “Mana kalung yang kuberikan?” ujar Jimin sambil merilik lehar jejang
milik Jihyun. Ia tak menemukan kalung itu.
“Itu... adikku yang
menghilangkannya.” Balas Jihyun sedikit gugup. Seketika, ada raut kekecewaan di
wajah Jimin.
“Oh... hilang...”
balas Jimin tak bersemangat.
Beberapa menit pun
berlalu. Mereka sibuk berjalan dengan pemikiran sendiri. Namun, tak lama
kemudian, hujan lebat pun turun seketika.
“Aisshhh..... kenapa
bisa hujan?” celoteh Jihyun yang disambut kekehan Jimin.
Bagaimana Jimin lupa
bahwa Jihyun membenci hujan. Apalagi terkena hujan, yang membuat tubuh Jihyun kedinginan.
Dengan segera, Jimin
membukan mantel hitamnya untuk menutupi kepalanya dan Jihyun. Langkah
selanjutnya, Jimin melekatkan tubuh Jihyun dengannya, hingga tak ada lagi
jarak. Kemudian, merekapun berlari kesebuah halte yang sepi akan orang. Ingat,
hanya sekedar untuk berteduh!
Jihyun pun
tersenyum.
“Ini akan menjadi
malam yang panjang.” Ujar Jimin membuka percakapan kembali. “Mianhae, karena
telah mengajakmu ke tempat ini.” tambah Jimin yang merasa bersalah seraya
menatap gadis itu.
“Aniya. Gomawo
karena kau telah melindungiku dari hujan. Aku tak menyangka kau masih mengingat
hal yang aku benci.” Ujar Jihyun setengah tersenyum kepada Jimin.
Yang benar saja,
kini Jimin yang menjadi salah tingkah!
“Tentu, bagaimana
aku bisa lupa semua hal itu.” Ujar Jimin. Tak sadar, kedua wajah mereka
memerah.
“Kurasa hujan masih
akan berlanjut. Apa ada orang di rumahmu?”
“Hanya Seokjin oppa.
Yang lain sudah berangkat ke Gwangjoo tadi setelah menghadiri acara wisudaku.
Ada sedikit urusan mendadak.” Ujar Jihyun ringkas.
“Kalau begitu
menginaplah di apartemenku malam ini. Apartemenku tak beberapa jauh dair sini.
Seokjin hyung, nanti akan kukabari.”
“Aniya, tak usah.
Aku akan menunggu hujan mulai reda.”
Satu hal yang Jimin
tak boleh lupakan. Gadis itu masih keras kepala.
“Tidak. Hujan kali
ini akan lama.”
“Tapi—“
“Mengertilah Jihyun.
Bagaimana jika nanti kau sakit?” tanya Jimin sambil memohon. “Aku tidak akan
berbuat macam-macam kepadamu.”
Jihyun pun
mengangguk setuju.
***
Jimin dan Jihyun pun
tiba di apartemen. Tinggal satu langkah lagi bagi Jimin dan Jihyun untuk masuk
ke dalam apartemen itu. Jimin pun menekan password apartemennya. Namun, sebelum
seluruh password itu tertekan. Pintu apartemen terbuka. Tampaklah sosok gadis
berkemeja putih dan berambut basah tengah muncul di depan Jimin dan Jihyun.
Gadis itu Sekyung!
Dengan tersenyum
puas Sekyung langsung memeluk Jimin, tanpa peduli ada gadis di sebelah yang
menyaksikan mereka berdua.
“Sekyung!” bentak
Jimin pada gadis yang memeluknya itu, mengapa kau di sini? Dan, bau alkohol?
Kau mabuk?” tanya Jimin.
Jihyun tak dapat
berkata-kata. Segera setelah Jimin menyadarkan Sekyung dengan membentaknya,
Jihyun pergi. Jimin pun panik.
***
Jihyun’s
POV
Yang benar saja!
Bagaimana bisa gadis
itu tahu password itu jika bukan lelaki mesum itu yang memberi tahunya?
Aku tak habis pikir
dengannya.
Baru saja hubungan
kami mulai membaik. Dan sekarang ada yang mengganjal kembali! Aku benar-benar
muak!
Dengan cepat
kulangkahkan kakiku menuju jalan. Tak peduli apa kata orang, ataupun hujan yang
deras. Aku ingin pulang. Namun....
Dia datang lagi....
“Jihyun!” bentak
Jimin sambil memegang kedua pipiku.
“Mwo? Tak perlu. Aku
perlu mendengar hal apapun darimu, pria mesum!” pekikku.
“Jihyun! Tolong
mengertilah! Aku benar-benar tak bermaksud. Dan Sekyung, aku telah menyuruhnya
pergi. Ayo kita kembali!” tungkas Jimin sambil menarik tanganku.Aku
melepaskannya. Jimin terduduk, tepat di tengah jalan itu.
“Aku tak peduli!”
“Jihyun. Butuh waktu
yang lama untuk mendapatkanmu kembali. Aku menunggumu selalu. Memikirkan apa
kau sudah menikah atau belum, memikirkan apa kau sudah melupakanku atau belum.
Benar-benar membuat otakku berhenti ingin pecah. Dan hari ini aku bertemu lagi
denganmu. Hingga sekarang kau maki. Aku rela. Jihyun, aku rela mati untukmu...”
ujarnya yang semakin memekakkan telingaku.
“Kau pikir aku akan
mengubah keputusanku?”
“Aku janji Jihyun,
benar-benar janji.” Balas Jimin lagi.
“Dasar bodoh!”
“Aku bersedia mati!”
“Cobalah! Karena aku
akan tetap pergi!” Ujarku sambil memantapkan kakiku menjauhinya, menyebrangi
jalan.”
“Jihyun!”
“Pergilah Bodoh!”
“JI—‘
‘BRAAKKK!’
Kudengar suara keras
tepat di belakang. Apa jangan-jangan....
Dengan tak tega
kulihat ke belakang.
Jimin.
JIMIN!
Aku berlari kearahnya.
Menagis.
“Jimin! Ya, apa yang
kau lakukan, bodoh!” bentakku pada Jimin.
“Bukankah aku telah
membuktikan apa yang kukatakan saat ini. Seharusnya kau bahagia, bukannya
bersedih.” Ujar Jimin pelan sambil tersenyum. Darah itu mengalir deras si
kepalanya.
“YA! BUKAN ITU
MAKSUDKU, BODOH!”
“Jihyun.... A-a-ku
ada sesuatu untukmu. Setelah ini jangan hilangkan, ya?” ujar Jimin sambil
memberikan kalung bertuliskan ‘Kim Jihyun’. Aku menangis keras. “Bukankah
sebelumnya akau memberimu kalung berliontin M? Aku tahu kau pasti kecewa. Tapi,
sekarang lihatlah, aku belikan kalung bertuliskan namamu.”
“JIMIN! Kalung itu
masih kusimpan bodoh! MENGAPA KAU TAK MENGERTI?” tanyaku mulai muak dan cemas,
karena darah dari kepala Jimin mulai banyak. “Aku kan tele—“
“Jangan hubungi
ambulan, Jihyun-ah.... percuma, itu
semua akan membuang waktu saja. Lagipula, ini saat terbaik. Aku bisa menatapmu
dengan dekat setelah tiga tahun terakhir.” Ujar Jimin yang diikuti dengan
tangisanku yang meruak tajam. “Sampaikan permohonan maafku kepada Seokjin hyung
karena tak bisa mengantarmu ke rumah. Juga dengan teman-temanku lainnya.
Maafkan aku karena banyak menyakiti hatimu, Jihyun-ah.”
“Tidak! Kau tak
boleh pergi begitu saja Jimin!” bentakku sembari memegang kepalanya.
“Jaga dirimu
baik-baik, ne?” Ujar Jimin sambil mencengkram kuat tanganku. “Jangan lupa makan
malam. Bawa payung ketika kau kerja nantinya. Temukanlah lelaki yang menurutmu
pantas untukmu, aku akan rela dan merestui kalian. Dan beri nama anak kalian
Minhyun, seperti yang kita bahas waktu itu.” Jimin memegang keras kepalanya.
“Jimin.....”
“S-s-satu lagi.....
Jangan ingat aku lagi....”
Bagaimana bisa,
Jimin? Bagaimana bisa itu terjadi?
“Kau harus hidup
Park Jimin. Aku mencintaimu.”
“Tapi cinta tak
menuntut kita untuk sempurna, Jihyun-ah....”
Jimin melepaskan
cengkraman tangannya. Aku mengerti.
- FIN -
***
[EPILOG]
Two
Years Later...
Pagi itu sangat
cerah. Meski di pemakaman sekalipun. Tak beberapa lama, datanglah seorang
wanita cantik sambil membawa anak kecil sekitar berumur 3 tahun di
genggamannya. Benar, gadis itu Jihyun.
“Annyeong
Jimin-ah...” sapa Jihyun pada batu nisan yang bernamakan ‘Park Jimin’ itu.
Jihyun terduduk. “Maaf, aku baru sempat mengunjungimu sekarang setelah satu
tahun terakhir ini. Kau tahu, aku sangat merindukanmu. Bahkan kau selalu hadir
dalam mimpiku akhir-akhir ini.”
Jihyun pun mulai
membersihkan tempat peristirahatan Jimin itu.
“Dan perkenalkan
ini, Minhyun. Setelah kupikir-pikir, aku tak ingin menikah. Tapi, karena kau
menyuruhku untuk memberi nama anakku Minhyun. Aku mengangkat Minhyun sebagai
anakku. Minhyun-ah, ucapkan salammu.” Suruhku pada Minhyun.
“Annyeong haseyo,
Park Minhyun imnida.” Ujar Minhyun polos sambil membungkuk 90 derajat ke arah
makam Jimin. Jihyun tersenyum kecil.
“Maaf karena memakai
nama depanmu Jimin-ah. Karena kau hanyalah satu-satunya laki-laki diluar
keluargaku yang kupercayai. Di samping itu, aku juga menganggap kau ayah
Minhyun. Bukankah Minhyun adalah singkatan dari Jimin dan Jihyun.” Ujarku sendu
sambil menatap makam Jimin, lalu menebar bunga di atasnya.
“Baiklah, mungkin
kau ingin beristirahat kembali. Aku tak akan mengganggumu. Cukup untuk hari
ini. Kumohon, jangan bosan-bosan untuk hadir di mimpiku, karena aku tak ingin
melupakanmu sampai kapanpun. Park Minhyun, ucapkan salam perpisahan pada
ayahmu, Park Jimin.”
“Annyeong higaseyo,
appa! Nan jeongmal saranghaeyo!” ujar Minhyun kembali sambil membuat gambar
hati di jari mungilnya.
“Annyeong,
Jimin-ah!” ujar Jihyun sambil menuntun Minhyun keluar dari tempat pemakaman
tersebut. “Annyeong.....”
***
Jihyun-ah...
Terima kasih sudah mempercayaiku.
Terima kasih untuk tetap
mengingatku.
Terima kasih karena telah
menjadikanku ayah Minhyun.
Dan terima kasih untuk kenangan
yang telah kau berikan...
***
Gimana readers? Maaf nih buat
yang kecewa sama endingnya T,T
Absurd banget yahh? Feel-nya juga
gak kerasa yah?
Ya, karena jarang benget yang
buat FF ending sad, jadi keinspirasi nih
ngebuat sad ending. Jadi jangan salahin author karena buat ff-nya sad ending,
tapi salahin author lainnya karena gak mau buatin yang sad ending. *Please
jangan bash*
Okay, bagi yang udah baca tolong
tinggalkan jejak dikiiiitttttt aja....
Sekian, trims from author.... -
Fellicia Kim -

No comments:
Post a Comment