Title : Coffee
Main Cast : Kim
Seokjin [BTS] | Yoo
Harin [OC]
Genre
: Romance | Hurt
Rate : General
Length :
Vignette
Scriptwriter :
Fellicia Kim @fkim_author
Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t be a plagiator.
***
Baby
baby 그대는 카라멜 마끼아또
Kasih, dirimu seperti caramel makiatto
여전히 내 입가엔 그대 향이 달콤해
Aromamu yang manis masih bertatah di bibir
Baby baby, tonight
Kasih, malam ini
Baby baby 그대는까페 라떼 향보다
Kasih, dirimu lebih dari aroma café latte
포근했던 그 느낌 기억하고 있나요
ingatkah kau akan rasa yang nikmat itu?
Baby baby, tonight
Kasih, malam ini
Kasih, dirimu seperti caramel makiatto
여전히 내 입가엔 그대 향이 달콤해
Aromamu yang manis masih bertatah di bibir
Baby baby, tonight
Kasih, malam ini
Baby baby 그대는까페 라떼 향보다
Kasih, dirimu lebih dari aroma café latte
포근했던 그 느낌 기억하고 있나요
ingatkah kau akan rasa yang nikmat itu?
Baby baby, tonight
Kasih, malam ini
♪
Bangtan Boys - Coffee ♪
***
Lelaki
itu masih terus menatap seorang pelayan wanita dengan tersenyum. Matanya tidak
berhenti memandang pelayan wanita itu. Cara berbicanya, senyuman hangatnya,
tatapan dalamnya, dan cara berjalannya, sama sekali belum berubah.
Meskipun
dia sudah tiga bulan lamanya mereka tak bertemu, tak ada yang beda dari pelayan
wanita itu.
Dan
tiba-tiba, seorang pelayan wanita pun datang, menatap aneh lelaki yang memakai
kacamata hitam dan masker itu. Mungkin karena sedikit aneh.
Sialnya,
saking terpesonanya dengan pelayan wanita itu, lelaki itu tak mengetahui
keberadaan pelayan lainnya, yang tepat berada disampingnya untuk memberikan
buku menu.
“Selamat
siang, Tuan!” Akhirnya pelayan wanita tadi mengambil tindakan untuk menyapa
lelaki tersebut. Lelaki tersebut terperangah.
“Ah
iya, saya ingin memesan...” putus lelaki itu ketika melihat pelayan wanita yang
ditatapnya sedari tadi tengah melayani lima orang lelaki. Lelaki itu menghembuskan
nafasnya kesal. “Secangkir caramel macchiato.” Lanjutnya sinis.
“Baiklah,
mohon tunggu sebentar.” Balas pelayan itu sambil membungkuk hormat. Ketika
pelayan tadi hendak menuju dapur, lelaki tadi menariknya.
“Aku
ingin pesananku diantar oleh gadis yang menjadi pelayan itu, boleh?” tanya
lelaki itu. Pelayan wanita tadi mengangguk.
Sudah
sepuluh menit sejak lelaki tadi memesan minumannya, dan dia tak mengalihkan
tatapannya kepada gadis yang menjadi pelayan itu. Apalagi jika gadis itu
melayani para pemuda, matanya tidak akan berkedip, menyaksikan setiap
gerak-gerik gadis itu.
Dan
sekarang, gadis yang sudah ditatapnya sekitar setengah jam, datang kepadanya,
membawa pesanannya.
Lelaki
itu membuka kaca matanya.
“Ini
pesanan Anda, Tuan!” ujar gadis itu sopan. Matanya yang baru saja menatap
lelaki itu seketika terbelalak.
“Tuan?
Cih! Sejak kapan kau memanggil aku Tuan, Yoo Harin?” sinis lelaki itu pada
gadis yang bernama Yoo Harin.
“Jin?”
tanya gadis berambut cokelat kelam itu.
“Kenapa?”
balas lelaki itu.
“Mengapa
kau di sini? Sejak kapan kau berada di sini? Kenapa kau tidak mengabariku
sebelumnya? Bagaima jika orang melihatmu? Apa—“ Lelaki bernama Jin itu
cepat-cepat menutup mulutnya ketika sadar beberapa pelanggan mulai menatap
mereka.
“Makanya
jangan panggil aku Jin! Tapi panggil aku Seokjin!” ujar lelaki itu setelah melihat
pelanggan tak menatap mereka lagi. “Kapan jam makan siangmu?” tanya Jin pada
Harin.
“Sekitar
lima menit lagi. Mianhae soal tadi, aku terlalu histeris melihatmu di sini.
Jadinya, kau yang malu.” Ujarnya tertunduk malu.
“Tak
apa. Itu berarti kau tak berubah, chagi!”
Chagi?
Ya,
Jin dan Harin sudah menjalin hubungan sejak tiga tahun lalu. Namun, tepat
setahun lalu, Jin memutuskan untuk menghiasi karirnya di bidang musik. Jin pun
debut sebagai member dari sebuah boyband. Sedangkan Harin, ia memutuskan untuk
bekerja di sebuah kedai kopi milik temannya. Selain kecintaannya akan aroma dan
rasa kopi, Harin juga tentu tertarik membuat kopi.
Dan
beginilah, kehidupan mereka benar-benar berbeda, juga terpaut jarak yang
teramat jauh. Namun, kedua insan itu masih nekad mempertahankan hubungan
mereka.
Seperti
tadi, terakhir kali saja, mereka bertemu tiga bulan yang lalu!
Jin
menunggu Harin di sebuah taman, dekat dengan kedai kopi yang mempekerjakan
Harin. Ya, Jin berencana menghabiskan waktu bersama kekasihnya kali ini. Meski
dengan waktu yang singkat, ia tetap akan memanfaatkan waktu itu dengan
kekasihnya.
Tangan
seorang gadis tengah menutup mata Jin. Jin tersenyum, dan membalikkan tubuhnya.
Ditatapnya Harin yang tengah tersenyum kepadanya. Jin menggenggan tangan Harin,
kemudian mengajaknya jalan.
“Kau
tahu. Mataku tak berkedip ketika melihatmu melayani pelanggan laki-laki.” Ujar
Seokjin dengan raut marah yang dibuat-buat.
“Lalu?”
“Lalu
apanya?”
“Ohh...”
Harin menghentikan langkahnya. “Maksudmu kau cemburu? Cenburu karena aku
melayani pelanggan lelaki? Ah.... terlalu kekanak-kanakkan!” cibir Harin yang
ikuti dengan tawaannya.
“A-a-apa?
Kau bilang aku cemburu? Yang benar saja!” tegas Jin.
“Kau
yakin?”
“Tentu?
Mengapa aku harus cemburu.” Ujar Jin sepihak. Kali ini, Harin yang beraut
kecewa.
“Kalau
kau tidak cemburu, berarti kau tidak memiliki rasa apapun kepadaku lagi.” Ujar
Harin yang sukses membuat Jin terdiam, merasa bersalah.
Jin
tak bermaksud memulai pertengkaran dengan Harin. Dan sekarang? Bukankah Jin
yang memulainya?
“I-i-i-itu
bukan maksudku, Harin-ah!” Jin menatap Harin dengan kikuk, tapi tetap terpancar
jelas kesungguhan dari kata-katanya. “Mianhae..”
“Kau
tahu? Aku yang seharusnya lebih cemburu. Tapi, aku terus memendamnya darimu,
seolah tak terjadi apa-apa...” ujar Harin.
“Waeyo? Cemburu kenapa?”
“Aku
sering melihat foto-mu sedang memeluk fans-mu pada event fan-service.” Ujar Harin sedikit menunduk.
“Ya,
itukan kewaji—“
“Itu
memang kewajiban kalian. Tapi, tetap saja aku merasa cemburu. Fans-mu bisa
mengikuti fan-meet kapanpun mereka
mau. Bahkan dalam sebulan, mereka bisa berkali-kali menghampirimu. Sedangkan
aku, hanya bisa menemuimu sekali dalam sebulan, bahkan sekali dalam tiga bulan.
Jelas, bagiku mencari uang itu susah, sedangkan sebagian dari mereka hanya
meminta kepada orang tua mereka.” Jelas Harin.
Jin
hanya terdiam.
“Terkadang
aku juga merasa jengkel karena kau tak membalas pesanku, atau mungkin
membacanya saja kau jarang. Semua penggilanku jarang yang kau jawab. Sedangkan
dulu, bahkan kau yang mengirimiku pesan atau meneleponku terlebih dahulu. Sekarang?
Jarang sekali. Aku selalu berharap kau mengirimiku pesan meskipun hanya sekedar
menanyakan kabarku. Sehingga aku tahu, kau masih peduli kepadaku.” Mata Harin
kini berkaca-kaca. Ia tak mampu lagi berkata-kata, semua itu hanya membuatnya
jengkel. Apalagi mengingat Jin akan menganggapnya gadis lemah karena air
matanya kini mulai mengalir.
Tapi...
Mau
bagaimana lagi?
Semua
kegusarannya kali ini berhasil ia ungkapkan, dan juga berhasil membuat Seokjin
terdiam.
Harin
juga seorang gadis. Dan tak semua gadis itu kuat, mereka memiliki sisi
lemahnya.
Apalagi
masalah perasaannya kali ini, ia merasa dibodohi oleh Jin. Dan kali ini ia
merasa dirinya bodoh, benar-benar bodoh.
“Aku
perempuan, Jin. Tak semua perempuan tahan banting, mereka juga memiliki sisi
lemah. Dan sisi terlemahku adalah perasaanku.” Ujar Harin yang masih
mempertahankan air matanya agar tidak jatuh. Menangis adalah hal paling dibenci
Harin, apalagi jika didepan kekasihnya itu.
Jin
cepat-cepat menarik Harin dalam pelukannya. Ia tahu bagaimana perjuangan gadis
itu dalam mempertahankan kehidupannya.
Persetan
dengan orang-orang yang melihat mereka!
Harin
adalah anak tunggal. Tepat enam tahun lalu, Ibunya meninggal karena kanker
darah yang dideritanya. Sedangkan ayahnya, meninggal dua tahun lalu karena
kecelakaan sewaktu menjalani tugasnya menjadi supir truk. Hingga kini
tinggallah Harin sendiri.
Harin
sangat terpuruk. Ia harus menghidupi dirinya sendiri. Beruntung, ia bertemu
dengan Han Yojung, teman karibnya kini, yang memohon kepada ayahnya untuk
segera mempekerjakan Harin di kedai kopinya. Mendengar Harin memiliki minat
dalam membuat kopi, juga semangatnya yang tinggi, ayah Yojung pun
penyetujuinya, sampai akhirnya ia bekerja di kedai kopi itu. Dan berhasil
membuat beberapa menu minuman baru di kedai itu.
Jin
membiarkan Harin menangis dalam pelukannya. “Mianhae... Aku telah membuat
hatimu sakit. Seharusnya aku tak memulai pembicaraan ini.”
Harin
melepas pelukan Jin dengan lembut, kemudia ia mengangguk ringan.
‘Ya,
Tuhan! Mungkin sudah seratus kali aku menyakiti hatinya. Dan dia tetap memaafkaku,
hingga saat ini. Apa aku termasuk pecundang karena telah menyakiti perempuan
berhati lembut sepertinya?’ batin Jin dalam hati, kali ini dia benar-benar
merasa menyesal dan bersalah kepada Harin.
“Kau
benar-benar memaafkanku?” tanya Jin sekali lagi.
“Tentu,
Jinnie!” balas Harin sambil tersenyum ditengah air matanya.
Jin
menyapu seluruh air mata pada pipi Harin. Harin benar. Bukan ia yang seharusnya
cemburu, tapi Harin-lah yang pantas cemburu. Secara tidak langsung ia telah
menyinggung perasaan Harin, bahkan sekarang Harin menangis. Dan kali Jin-lah
yang membuat kekasihnya itu menangis.
Dan
semua itu karenanya, karena Jin.
Jin
menatap mata Harin dalam. Di selipkannya beberapa helai rambut Harin dibelakang
telinga gadis itu. Jin benar-benar bahagia memiliki kekasih yang setia seperti
Harin.
“Jin,
aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tak ingin kau meninggalkanku seperti ayah dan
ibuku.” Lirih Harin melunak.
“Hanya
lelaki yang bodoh yang meninggalkanmu Harin. Dan aku bukanlah lelaki bodoh itu.
Gadis setia, cantik, pintar, mandiri, juga ceria sepertimu pasti sukar didapat.
Kau yang bersikeras mempertahankan hubungan kita, meskipun kau harus menerima
kenyataan bahwa kita harus bertemu secara diam-diam sekali-sebulan.” Ujar Jin
yang disambut dengan senyuman tulus dari Harin.
“Aku
percaya padamu, Jin.” Sambut Harin.
Jin
mengecup puncak kepala Harin dengan lembut. Ia begitu bahagia memiliki gadis
seperti Harin.
“Kau
tahu, chagi? Semua usahaku untuk menjadi penyanyi benar-benar tulus untukmu.
Aku ingin setelah aku benar-benar sukses nanti, kau tak bekerja terlalu keras
lagi. Semua yang kuraih selama ini benar-benar kuarahkan untuk kehidupan kita
nantinya. Aku memilihmu karena kau tulus dan percaya padaku. Kau rela statusmu
sebagai kekasihku dirahasiakan hanya demi karirku. Kau selalu bersabar menanti
kedatanganku setiap bulan. Dan semua itu membuatku sangat menyayangimu.” Ujar
Jin tulus. “Kumohon, untuk beberapa waktu ke depan, bersabarlah. Dan yakinlah,
kau selalu ada disisiku.”
Harin
kembali mengeluarkan butiran air dari matanya. Kali ini ia benar-benar terharu
dengan perkataan Jin. Benar-benar menghangatkan hatinya.
Harin
tahu jika Jin dan dirinya bukan berasal dari keluarga serba kecukupan. Mereka
menjalani hidup sebagaimana takdir yang mereka dapat. Jin dan Harin benar-benar
bekerja keras untuk memenuhi kehidupan mereka. Jin dan Harin benar-benar
menginginkan kemandirian dari dirinya, termasuk tak menyusahkan orang lain.
Itulah
yang hal yang Harin sukai pada diri Jin. Jika Harin memiliki masalah, Jin juga
berusaha mencari solusi dan menghibur Harin sebisa mungkin. Jin juga bukanlah
orang yang keras kepala, ia selalu memikirkan bagaimana perasaan kekasihnya
itu. Dengan penuh pengertian, Jin akan membuat Harin merasakan kehangatan
karena dirinya.
Bagi
Harin, ada dua hal yang menarik perhatiannya, kopi dan Jin. Mereka memiliki
pesona yang sama. Jin, menurut Harin dia seperti kopi. Terkadang manis, seperti
membuat semangat Harin bangkit kembali, membuat Harin tersenyum sendiri saking
bahagianya. Terkadang juga pahit, seperti membuatnya cemburu, membuatnya
jengkel karena Jin mengusilinya, ataupun membuatnya rindu setengah mati karena
merindukan sosok Jin.
Namun,
ditengah-tengah rasa manis dan pahit, Jin dapat membuatnya kecanduan. Kecanduan
akan tawanya, senyumnya, pelukannya, keusilannya, cerita konyolnya, dan
kata-kata bijaknya. Sehingga, ketika Jin pergi demi karir musiknya, Harin
dengan bersusah payah menahan semua hal yang membuatnya candu akan diri Jin,
sampai Jin benar-benar kembali.
- FIN -

No comments:
Post a Comment