Tuesday, 16 June 2015

Coffee





Title : Coffee
Main Cast : Kim Seokjin [BTS] | Yoo Harin [OC]
  Genre : Romance | Hurt
Rate : General
Length : Vignette
Scriptwriter : Fellicia Kim @fkim_author

Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t be a plagiator.

***

 Baby baby 그대는 카라멜 마끼아또
Kasih, dirimu seperti caramel makiatto

여전히 내 입가엔 그대 향이 달콤해
Aromamu yang manis masih bertatah di bibir

Baby baby, tonight
Kasih, malam ini

Baby baby
그대는까페 라떼 향보다
Kasih, dirimu lebih dari aroma café latte

포근했던 그 느낌 기억하고 있나요
ingatkah kau akan rasa yang nikmat itu? 

Baby baby, tonight
Kasih, malam ini

♪ Bangtan Boys - Coffee ♪

***

Lelaki itu masih terus menatap seorang pelayan wanita dengan tersenyum. Matanya tidak berhenti memandang pelayan wanita itu. Cara berbicanya, senyuman hangatnya, tatapan dalamnya, dan cara berjalannya, sama sekali belum berubah.

Meskipun dia sudah tiga bulan lamanya mereka tak bertemu, tak ada yang beda dari pelayan wanita itu.

Dan tiba-tiba, seorang pelayan wanita pun datang, menatap aneh lelaki yang memakai kacamata hitam dan masker itu. Mungkin karena sedikit aneh.

Sialnya, saking terpesonanya dengan pelayan wanita itu, lelaki itu tak mengetahui keberadaan pelayan lainnya, yang tepat berada disampingnya untuk memberikan buku menu.

“Selamat siang, Tuan!” Akhirnya pelayan wanita tadi mengambil tindakan untuk menyapa lelaki tersebut. Lelaki tersebut terperangah.

“Ah iya, saya ingin memesan...” putus lelaki itu ketika melihat pelayan wanita yang ditatapnya sedari tadi tengah melayani lima orang lelaki. Lelaki itu menghembuskan nafasnya kesal. “Secangkir caramel macchiato.” Lanjutnya sinis.

“Baiklah, mohon tunggu sebentar.” Balas pelayan itu sambil membungkuk hormat. Ketika pelayan tadi hendak menuju dapur, lelaki tadi menariknya.

“Aku ingin pesananku diantar oleh gadis yang menjadi pelayan itu, boleh?” tanya lelaki itu. Pelayan wanita tadi mengangguk.

Sudah sepuluh menit sejak lelaki tadi memesan minumannya, dan dia tak mengalihkan tatapannya kepada gadis yang menjadi pelayan itu. Apalagi jika gadis itu melayani para pemuda, matanya tidak akan berkedip, menyaksikan setiap gerak-gerik gadis itu.

Dan sekarang, gadis yang sudah ditatapnya sekitar setengah jam, datang kepadanya, membawa pesanannya.

Lelaki itu membuka kaca matanya.

“Ini pesanan Anda, Tuan!” ujar gadis itu sopan. Matanya yang baru saja menatap lelaki itu seketika terbelalak.

“Tuan? Cih! Sejak kapan kau memanggil aku Tuan, Yoo Harin?” sinis lelaki itu pada gadis yang bernama Yoo Harin.

“Jin?” tanya gadis berambut cokelat kelam itu.

“Kenapa?” balas lelaki itu.

“Mengapa kau di sini? Sejak kapan kau berada di sini? Kenapa kau tidak mengabariku sebelumnya? Bagaima jika orang melihatmu? Apa—“ Lelaki bernama Jin itu cepat-cepat menutup mulutnya ketika sadar beberapa pelanggan mulai menatap mereka.

“Makanya jangan panggil aku Jin! Tapi panggil aku Seokjin!” ujar lelaki itu setelah melihat pelanggan tak menatap mereka lagi. “Kapan jam makan siangmu?” tanya Jin pada Harin.

“Sekitar lima menit lagi. Mianhae soal tadi, aku terlalu histeris melihatmu di sini. Jadinya, kau yang malu.” Ujarnya tertunduk malu.

“Tak apa. Itu berarti kau tak berubah, chagi!”

Chagi?

Ya, Jin dan Harin sudah menjalin hubungan sejak tiga tahun lalu. Namun, tepat setahun lalu, Jin memutuskan untuk menghiasi karirnya di bidang musik. Jin pun debut sebagai member dari sebuah boyband. Sedangkan Harin, ia memutuskan untuk bekerja di sebuah kedai kopi milik temannya. Selain kecintaannya akan aroma dan rasa kopi, Harin juga tentu tertarik membuat kopi.

Dan beginilah, kehidupan mereka benar-benar berbeda, juga terpaut jarak yang teramat jauh. Namun, kedua insan itu masih nekad mempertahankan hubungan mereka.

Seperti tadi, terakhir kali saja, mereka bertemu tiga bulan yang lalu!

Jin menunggu Harin di sebuah taman, dekat dengan kedai kopi yang mempekerjakan Harin. Ya, Jin berencana menghabiskan waktu bersama kekasihnya kali ini. Meski dengan waktu yang singkat, ia tetap akan memanfaatkan waktu itu dengan kekasihnya.

Tangan seorang gadis tengah menutup mata Jin. Jin tersenyum, dan membalikkan tubuhnya. Ditatapnya Harin yang tengah tersenyum kepadanya. Jin menggenggan tangan Harin, kemudian mengajaknya jalan.

“Kau tahu. Mataku tak berkedip ketika melihatmu melayani pelanggan laki-laki.” Ujar Seokjin dengan raut marah yang dibuat-buat.

“Lalu?”

“Lalu apanya?”

“Ohh...” Harin menghentikan langkahnya. “Maksudmu kau cemburu? Cenburu karena aku melayani pelanggan lelaki? Ah.... terlalu kekanak-kanakkan!” cibir Harin yang ikuti dengan tawaannya.

“A-a-apa? Kau bilang aku cemburu? Yang benar saja!” tegas Jin.

“Kau yakin?”

“Tentu? Mengapa aku harus cemburu.” Ujar Jin sepihak. Kali ini, Harin yang beraut kecewa.

“Kalau kau tidak cemburu, berarti kau tidak memiliki rasa apapun kepadaku lagi.” Ujar Harin yang sukses membuat Jin terdiam, merasa bersalah.

Jin tak bermaksud memulai pertengkaran dengan Harin. Dan sekarang? Bukankah Jin yang memulainya?

“I-i-i-itu bukan maksudku, Harin-ah!” Jin menatap Harin dengan kikuk, tapi tetap terpancar jelas kesungguhan dari kata-katanya. “Mianhae..”

“Kau tahu? Aku yang seharusnya lebih cemburu. Tapi, aku terus memendamnya darimu, seolah tak terjadi apa-apa...” ujar Harin.

“Waeyo? Cemburu kenapa?”

“Aku sering melihat foto-mu sedang memeluk fans-mu pada event fan-service.” Ujar Harin sedikit menunduk.

“Ya, itukan kewaji—“

“Itu memang kewajiban kalian. Tapi, tetap saja aku merasa cemburu. Fans-mu bisa mengikuti fan-meet kapanpun mereka mau. Bahkan dalam sebulan, mereka bisa berkali-kali menghampirimu. Sedangkan aku, hanya bisa menemuimu sekali dalam sebulan, bahkan sekali dalam tiga bulan. Jelas, bagiku mencari uang itu susah, sedangkan sebagian dari mereka hanya meminta kepada orang tua mereka.” Jelas Harin.

Jin hanya terdiam.

“Terkadang aku juga merasa jengkel karena kau tak membalas pesanku, atau mungkin membacanya saja kau jarang. Semua penggilanku jarang yang kau jawab. Sedangkan dulu, bahkan kau yang mengirimiku pesan atau meneleponku terlebih dahulu. Sekarang? Jarang sekali. Aku selalu berharap kau mengirimiku pesan meskipun hanya sekedar menanyakan kabarku. Sehingga aku tahu, kau masih peduli kepadaku.” Mata Harin kini berkaca-kaca. Ia tak mampu lagi berkata-kata, semua itu hanya membuatnya jengkel. Apalagi mengingat Jin akan menganggapnya gadis lemah karena air matanya kini mulai mengalir.

Tapi...

Mau bagaimana lagi?

Semua kegusarannya kali ini berhasil ia ungkapkan, dan juga berhasil membuat Seokjin terdiam.

Harin juga seorang gadis. Dan tak semua gadis itu kuat, mereka memiliki sisi lemahnya.

Apalagi masalah perasaannya kali ini, ia merasa dibodohi oleh Jin. Dan kali ini ia merasa dirinya bodoh, benar-benar bodoh.

“Aku perempuan, Jin. Tak semua perempuan tahan banting, mereka juga memiliki sisi lemah. Dan sisi terlemahku adalah perasaanku.” Ujar Harin yang masih mempertahankan air matanya agar tidak jatuh. Menangis adalah hal paling dibenci Harin, apalagi jika didepan kekasihnya itu.

Jin cepat-cepat menarik Harin dalam pelukannya. Ia tahu bagaimana perjuangan gadis itu dalam mempertahankan kehidupannya.

Persetan dengan orang-orang yang melihat mereka!

Harin adalah anak tunggal. Tepat enam tahun lalu, Ibunya meninggal karena kanker darah yang dideritanya. Sedangkan ayahnya, meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan sewaktu menjalani tugasnya menjadi supir truk. Hingga kini tinggallah Harin sendiri.

Harin sangat terpuruk. Ia harus menghidupi dirinya sendiri. Beruntung, ia bertemu dengan Han Yojung, teman karibnya kini, yang memohon kepada ayahnya untuk segera mempekerjakan Harin di kedai kopinya. Mendengar Harin memiliki minat dalam membuat kopi, juga semangatnya yang tinggi, ayah Yojung pun penyetujuinya, sampai akhirnya ia bekerja di kedai kopi itu. Dan berhasil membuat beberapa menu minuman baru di kedai itu.

Jin membiarkan Harin menangis dalam pelukannya. “Mianhae... Aku telah membuat hatimu sakit. Seharusnya aku tak memulai pembicaraan ini.”

Harin melepas pelukan Jin dengan lembut, kemudia ia mengangguk ringan.

‘Ya, Tuhan! Mungkin sudah seratus kali aku menyakiti hatinya. Dan dia tetap memaafkaku, hingga saat ini. Apa aku termasuk pecundang karena telah menyakiti perempuan berhati lembut sepertinya?’ batin Jin dalam hati, kali ini dia benar-benar merasa menyesal dan bersalah kepada Harin.

“Kau benar-benar memaafkanku?” tanya Jin sekali lagi.

“Tentu, Jinnie!” balas Harin sambil tersenyum ditengah air matanya.

Jin menyapu seluruh air mata pada pipi Harin. Harin benar. Bukan ia yang seharusnya cemburu, tapi Harin-lah yang pantas cemburu. Secara tidak langsung ia telah menyinggung perasaan Harin, bahkan sekarang Harin menangis. Dan kali Jin-lah yang membuat kekasihnya itu menangis.

Dan semua itu karenanya, karena Jin.

Jin menatap mata Harin dalam. Di selipkannya beberapa helai rambut Harin dibelakang telinga gadis itu. Jin benar-benar bahagia memiliki kekasih yang setia seperti Harin.

“Jin, aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tak ingin kau meninggalkanku seperti ayah dan ibuku.” Lirih Harin melunak.

“Hanya lelaki yang bodoh yang meninggalkanmu Harin. Dan aku bukanlah lelaki bodoh itu. Gadis setia, cantik, pintar, mandiri, juga ceria sepertimu pasti sukar didapat. Kau yang bersikeras mempertahankan hubungan kita, meskipun kau harus menerima kenyataan bahwa kita harus bertemu secara diam-diam sekali-sebulan.” Ujar Jin yang disambut dengan senyuman tulus dari Harin.

“Aku percaya padamu, Jin.” Sambut Harin.

Jin mengecup puncak kepala Harin dengan lembut. Ia begitu bahagia memiliki gadis seperti Harin.

“Kau tahu, chagi? Semua usahaku untuk menjadi penyanyi benar-benar tulus untukmu. Aku ingin setelah aku benar-benar sukses nanti, kau tak bekerja terlalu keras lagi. Semua yang kuraih selama ini benar-benar kuarahkan untuk kehidupan kita nantinya. Aku memilihmu karena kau tulus dan percaya padaku. Kau rela statusmu sebagai kekasihku dirahasiakan hanya demi karirku. Kau selalu bersabar menanti kedatanganku setiap bulan. Dan semua itu membuatku sangat menyayangimu.” Ujar Jin tulus. “Kumohon, untuk beberapa waktu ke depan, bersabarlah. Dan yakinlah, kau selalu ada disisiku.”

Harin kembali mengeluarkan butiran air dari matanya. Kali ini ia benar-benar terharu dengan perkataan Jin. Benar-benar menghangatkan hatinya.

Harin tahu jika Jin dan dirinya bukan berasal dari keluarga serba kecukupan. Mereka menjalani hidup sebagaimana takdir yang mereka dapat. Jin dan Harin benar-benar bekerja keras untuk memenuhi kehidupan mereka. Jin dan Harin benar-benar menginginkan kemandirian dari dirinya, termasuk tak menyusahkan orang lain.

Itulah yang hal yang Harin sukai pada diri Jin. Jika Harin memiliki masalah, Jin juga berusaha mencari solusi dan menghibur Harin sebisa mungkin. Jin juga bukanlah orang yang keras kepala, ia selalu memikirkan bagaimana perasaan kekasihnya itu. Dengan penuh pengertian, Jin akan membuat Harin merasakan kehangatan karena dirinya.

Bagi Harin, ada dua hal yang menarik perhatiannya, kopi dan Jin. Mereka memiliki pesona yang sama. Jin, menurut Harin dia seperti kopi. Terkadang manis, seperti membuat semangat Harin bangkit kembali, membuat Harin tersenyum sendiri saking bahagianya. Terkadang juga pahit, seperti membuatnya cemburu, membuatnya jengkel karena Jin mengusilinya, ataupun membuatnya rindu setengah mati karena merindukan sosok Jin.

Namun, ditengah-tengah rasa manis dan pahit, Jin dapat membuatnya kecanduan. Kecanduan akan tawanya, senyumnya, pelukannya, keusilannya, cerita konyolnya, dan kata-kata bijaknya. Sehingga, ketika Jin pergi demi karir musiknya, Harin dengan bersusah payah menahan semua hal yang membuatnya candu akan diri Jin, sampai Jin benar-benar kembali.

- FIN -


No comments:

Post a Comment