Title : Good Bye
Main Cast : Park
Jimin [BTS] | Kim Jihyun [OC]
Support Cast :
All member BTS and others
Genre : Hurt |
Sad | Romance | Tragedy | Angst
Rate : PG-15
Length : TwoShot
+ Epilog
Scriptwriter : Fellicia
Kim
@fkim_author
Disclaimer :
This story is pure MINE. Don’t be a plagiator.
***
‘Let he comes,
Let he leaves.’
Love mustn’t be
a perfect things.
-Good Bye-
***
Author’s POV
“YA!! Kim Jimoo.... kan
sudah kubilang! Jangan cuci sepatuku!” gerutu gadis yang bernama Jihyun itu
sambil menarik telinga namdongsaeng-nya. “Itu sepatu kain! Dan aku harus
memakainya sekarang! Aisshhh!” geramnya.
Sementara adiknya? Ia hanya
tertawa jahil sambil meraba telinganya yang sakit.
“Mwo? Kau ketawa!!” tanya
Jihyun sembari mencubit pipi adiknya itu.
“Hahaha.... akhirnya nuna
sudah sembuh total! Aku rindu makianmu, nuna!” seru anak laki-laki yang bernama
Jimoo itu sambil memeluk kaki nuna-nya. Ya, memang sulit diduga, Jihyun
menderita penyakit kanker darah beberapa minggu yang lalu. Memang saat itu
adalah saat yang menegangkan bagi Jihyun. Namun, karena Tuhan berkehendak lain,
Jihyun pun menjadi sembuh setelah menjalani beberapa pengobatan.
“Kim Jihyun! Apa yang kau
lakukan pada Jimoo, eoh?” tanya seorang lelaki yang tak lain adalah oppa-nya, Seokjin.
“Oppa! Apa kau tak melihat
sepatuku, eoh? Ini semua gara-gara—“
“Hyung! Jihyun nuna menarik
telingaku dan mencubit pipiku!” ujar si kecil Jimoo sambil berlari kearah
hyung-nya. “Sakit!” ujar Jimoo sambil menggembungkan kedua pipinya dan meraba telinganya
yang sakit. Sesekali, ia melirik Jihyun dengan dengan nakal, tanpa terlihat
oleh hyung-nya, Seokjin. Merasa geram, Jihyun membulatkan matanya kepada Jimoo.
“Sudahlah.... selalu saja
bertengkar!” ujar Seokjin mendamaikan kedua adiknya yang sedang berselisih
seraya menahan tawa.
“Tapi, gara-gara dia, aku
tak bisa sekolah! Oppa, ini hari pertamaku di SMA!” ujar Jihyun yang masih
kesal. Sekali-kali ia menghentakkan kakinya.
“Tapi, gara-gara nuna pipiku
merah!” balas Jimoo tak mau kalah sambil mencibir nunanya itu.
“Ahh... kalian ini....
tenanglah! Jihyun, kau bisa memakai sepatumu yang lain, kan?” ujar Seokjin
sambil membelai rambut adik perempuan satu-satunya itu.
“Tapi... aku tak mau sepatu
putihku kotor!” ujar Jihyun tetap dalam pendiriannya. “Dan di sekolahku hanya
memperbolehkan memakai sepatu berwarna hitam.”
“Lalu, apa yang akan kau
perbuat? Semua telah terjadi...” ujar Seokjin yang masih memeluk Jimoo.
“Aishhh! Itu karenamu anak
kecil!!! Lihatlah nanti! Sepulang sekolah aku tak akan membiarkanmu lepas! INGAT
ITU!” ujar Jihyun dengan mukanya yang merah karena menahan amarahnya. Dengan
segera ia meninggalkan oppa dan namdongsaeng-nya itu.
Sementara mereka berdua?
Hanya tertawa.
***
Jihyun’s POV
“Baiklah! Jam pelajaran
terakhir untuk kelas seni adalah dance part. Semua siswa jurusan kesenian harus
mengetahui teknik dasar dance.” Ujar Han Seonsaeng-nim. Kami sebagai siswa hanya
mengangguk paham.
“Namun, untuk mempererat
hubangan kalian dengan senior kalian yang berada di kelas ini, kuharap kalian
bisa berinteraksi dengan senior kalian yang akan mengejari kalian dance
beberapa hari kedepan.” Ujar Han seonsaeng-nim sambil membuka pintu, dan
mendatangkan seorang lelaki.
“Aku akan tinggalkan siswaku
bersama kalian.” Ujar Han seongsaem-nim kepada seorang lelaki.
“Baiklah. Perkenalkan, aku
Jung Hoseok, senior yang akan mengajarkan kalian dance beberapa hari kedepan.”
Ujarnya sambil menebar senyum. “Langsung saja. Aku akan memeragakan
gerakannnya.
“Ne.” Ujar semua siswa.
Aku menyerah!
Dance itu tenyata sulit!
Yups! Meskipun Hoseok sunbae
memeragakan gerakannya dengan pelan, aku masih belum bisa menirunya dengan
benar!
Dengan hati-hati kucoba
untuk melakukannya sekali lagi, namun....
Aku jatuh...
‘Arrghhh sakit!’ batinku
sambil bangkit dari posisiku yang semula, terjatuh.
“Baiklah. Sampai di sini
dulu latihan kita hari ini. Kuharap kalian bisa melakukannya lebih baik di hari
berikutnya.” Ujar Hoseok sunbae di depan ruangan sambil menunduk singkat. Tak
beberapa lama kemudianpun, ia berlalu pergi.
Seluruh siswa riang, karena
jam hari ini sudah habis, tepat pukul 6 sore. Dengan segera, mereka mengambil
tas di belakang ruangan, dan berlalu pergi.
Sementara aku?
Aku tak pergi. Aku akan
berlatih dance sampai aku bisa!
Perlahan kulakukan gerakan
tadi. Memang sangat sulit. Dan akhirnya...
Jatuh.
Kucoba melakukannya sekali
lagi.
Tetap jatuh.
Sekali lagi, kuulang gerakan
itu. Dan...
Aku jatuh. Tapi, tak
mengenai lantai?
Detik kemudian, aku sadar
tubuhku sedang di topang oleh seseorang. Dengan segera, aku pun berdiri.
“Ahh... mianhae... aku—“
“Tak apa.” Ujarnya lembut,
memotong ucapanku. “Apa kau siswa baru di sini?” tanyanya kepadaku. Aku
mengangguk. “Oh.. pantas....”
“Kenapa?”
“Ahh... bukan...” ujarnya
mengelak. “Bukankah ini sudah waktunya pulang? Kenapa kau tak pulang?” tanyanya
sekali lagi.
“Aku hanya ingin berlatih
saja.”
“Baiklah... kalau begitu.
Apa kau kesulitan?” tanyanya tak henti.
“Sebenarnya ia. Sunbae itu
terlalu cepat—“
“Baiklah aku akan
mengajarimu.” Potongnya.
DEG!
***
Jimin’s POV
Okay, kali ini aku tak terima!
Bagaimana bisa aku terima, eomma selalu menjodohkanku
dengan gadis sok cantik yang bernama Sekyung itu. Aku muak dengan permainan
mereka berdua. Hei! Bukankah lelaki itu yang berhak memilih? Tapi, mengapa
sekarang lelaki yang dipilih?
Arrggghhh!
Eomma ingin sekali aku bertunangan dengannya. Lalu menikah.
Berbulan madu di Paris. Lalu kami memiliki anak lucu yang bernama Minkyung.
Dan bahkan sekarang aku masih kelas 3 SMA.
Dan ingat! Gara-gara membicarakan perjodohan konyol
bersama gadis konyol itu aku terpaksa bolos hari ini!
Ouucchh! Membayangkan bertunangan saja membuatku
menelan ludah, apalagi harus tinggal satu atap bahkan satu ranjang kelak!
Ditambah lagi memiliki anak dengannya!
Tidak... tidak mungkin! Aku tak akan tunangan ataupun
menikah dengannya!
Dengan wajah muak melihat Sekyung yang masih menetap
di apartemenku, aku pun pergi. Satu-satunya tempat yang membuatku nyaman adalah
sekolah. Karena, sekolah adalah rumah keduaku, terkhususnya practice room,
yaitu ruangan yang membuatku bebas mencurahkan semua perasaanku dalam dance.
Aku pun berjalan menelusuri lorong sekolah. Beberapa
langkah lagi, aku sampai di practice room.
Namun, kulihat bayangan gadis di kaca ruangan itu. Ya,
gadis.
Sedang apa dia di sini?
Sejenak kuperhatikan gerakannya. Ia terjatuh. Dasar payah.
Namun, tanpa kuduga ia bangkit lagi. Dan seperti tadi,
terjatuh kembali. Aku semakin penasaran dengan gadis itu.
Dengan sedikit menunduk, ia bangkit lagi. Lalu memulai
gerakannya kembali. Sesuai yang kuduga, ia terjatuh lagi. Namun, dengan sigap
ku topang tubuhnya dengan kedua tenganku.
“Ahh... mianhae... aku—“
“Tak apa.” Ujarku lembut,
memotong ucapannya. “Apa kau siswa baru di sini?” Ia mengangguk. “Oh..
pantas....”
“Kenapa?”
“Ahh... bukan...” ujarku
mengelak. Memang, suasana saat ini sangat canggung. “Bukankah ini sudah
waktunya pulang? Kenapa kau tak pulang?” tanyaku sekali lagi.
“Aku hanya ingin berlatih
saja.”
“Baiklah... kalau begitu.
Apa kau kesulitan?” tanyaku tak henti.
“Sebenarnya ia. Sunbae itu
terlalu cepat menje—“
“Baiklah aku akan
mengajarimu.” Potongku. Sambil menarik tangannya dan mengajarinya secara
perlahan. Ya, setidaknya aku membantunya karena kulihat potensinya yang sungguh
besar, beda dengan yang lain.
‘BUG!’ gadis itu terjatuh
lagi.
Lulirik kedua kaki gadis itu
yang membiru. Dengan segera, kugendong gadis itu, bermaksud membawanya ke UKS.
Tapi....
DEG!
Jantungku berdegup kencang.
Gadis itu menatapku was-was.
Ya, aku tahu ada yang salah.
Aku sedang memegang kaki gadis itu. Aku sadar ia hanya menggunakan celana
pendek, kira-kira satu jengkal di atas lutut. Aku menelan ludah.
Dengan mencoba tenang,
kuletakkan gadis itu di sudut ruangan.
“Ahh... mianhae.... aku
sudah lancang...” ujarku merasa bersalah. “Tunggulah di sini aku akan
mengambilkanmu es.” Tambahku dan berlari menuju UKS.
Tak sampai lima menit, aku
kembali. Kulihat gadis itu yang masih diam di posisinya. Untunglah dia tak
kemana-mana!
“Biarku kompres.” Ujarku
sambil meraih sapu tangan di saku dan mengambil beberapa es.
DEG!
Sekali lagi, jantungku berdetak keras. Alasannya, aku
sedang mengobati lututnya. Dengan segera kukompres lututnya kembali sampai
gadis itu mengangguk tanda sudah baikan.
“Terima kasih.” Ujarnya kepadaku.
“Sama-sama.” Ujarku sambil duduk di sebelahnya.
Lima menit hening.
“Oh ya, bukankah kau baru pulang sekolah? Kenapa
memakai sepatu putih?” ujarku memulai percakapan seakrab mungkin.
“Ah... itu.... tadi pagi adikku yang memcuci
sepatuku... dan sepatu itu basah.” Ujarnya.
Dua menit hening.
“Ah iya..... kita belum berkenalan. Namaku Park
Jimin.” Ujarku sambil memberikan tanganku padanya.
“Hmm.. namaku Kim Jihyun. Bisa di panggil Jihyun.
Hmm... soal tadi, mengapa kau tahu aku anak baru?”
“Hmm? Mudah saja. Aku baru melihat wajahmu. Dan...
kulihat dance-mu sedikit buruk.” Ujarku yang mempu membuat wajah gadis itu
memerah.
“Jeongmal?”
“Tapi, sekarang lebih baik.” Ujarku sambil tersenyum.
Kulihat ada kelegaan di wajahnya.
“Tunggu dulu! Apa kau kelas 3 SMA sekarang?” ujarnya
tak percaya.
“Tentu saja. Bagaimana mungkin anak kelas 1 atau 2 SMA
bisa dance seperti tadi.” Ujarku menghapus kecanggungan.
“Jadi...” gadis yang bernama Jihyun itu berdiri,
sedikit membungkuk. “Nan jeongmal mianhae, sunbae-nim... aku telah lancang
memanggilmu.”
“Hahaha... tenanglah saja. Tak usah berlebihan... Dan
saat seperti ini kau tak perlu memanggilku sunbae-nim.... panggil saja aku
Jimin oppa!”
DEG!
Bagaimana aku bisa berkata seperti itu?
Kurasakan wajahku memerah ketika menyuruhnya
memanggilku ‘oppa’.
“Hmm... duduklah disini kembali.” Ujarku menyuruhnya
duduk kembali.
“Baiklah, Jimin oppa.” Ujarnya sedikit ragu-ragu.
“Bagaimana hari pertama sekolah di sini apakah
menyenangkan?” tanyaku sambil mengalihkan pembicaraan.
“Menyenangkan. Sangat menyenangkan.” Ujarnya.
“Benarkah? Bagaimana dengan gurunya?”
“Menurutku dia baik... tapi—“
“Suka tidur dalam kelas?” tebakku.
“Ne....” ujarnya tersenyum riang.
“Guru di sini memang aneh-aneh. Apalagi jika kau
bertemu dengan Miss Seo, guru Bahasa Inggris.”
“Benar! Tadi aku belajar dengannya. Aku selalu
memperhatikannya, dia selalu berkaca bahkan ketika menerangkan pelajaran!”
ujarnya kembali bersemangat. “Begitu pula dengan Jung Seonsamng-nim.”
Tambahnya.
“Aku tahu. Dia sedikit menyeramkan, kan?” ujarku, yang
diikuti oleh anggukan Jihyun.
Tak tahan, kami pun mengeluarkan tawa kami
sekeras-kerasnya. Jihyun, dia anak yang manis, penceria, meskipun mungkin
sedikit kaku.
Apa yang aku suka darinya?
Banyak! Cara dia tersenyum, tertawa, merasa malu, dan
lainnya. Bahkan rasanya saat ini kami sudah akrab. Mudah saja, kami memiliki
banyak hal yang sama. Terutama cara berpikirnya. Terus terang, aku tak menyukai
gadis yang terlalu baik, maupun terlalu agresif.
Dalam diam, kutatap matanya dalam. Meskipun saat ini
ia masih berbicara, aku tak memedulikannya. Beberapa kali kuberikan senyuman
kecil untuk membalas perkatannya. Meskipun ia tak menyadari bahwa aku tak
mendengarkannya lagi sejak beberapa menit lalu.
“Jimin oppa.... aku tak menyangka kau seramah ini
denganku. Bahkan, kita baru pertama kali bertemu, kan?” ujarnya sambil menatap ujung
kakinya.
“Hhmmm? Ne, kau benar.” Ujarku singkat. Dengan
perhalan kudekati mukaku ke mukanya mungkin hanya berkisar antara 10 cm. Dengan
santai, Jihyun menatapku sambil tersenyum.
5 menit hening.
Canggung? Ya, sangat!
“Jihyun-ah...”
“Ne?”
“Aku rasa aku mulai menyukaimu.”
“Hm? Oppa, jangan bercanda. Kita kan baru—“
Chuu~~
Dengan cepat pun aku mengecup kedua bibirnya. Ya,
hanya sekedar membuktikan aku serius.
“Apa kau masih belum percaya?” tanyaku menatap
wajahnya yang bersemu merah.
“Kau.... kau mencuri.....”
“First kiss-mu?” tanyaku yang dibalas dengan
anggukannya. Lalu, apa salahnya, aku menyukainya. Dan bukankah first kiss itu
hal yang biasa? Atau dia malu?
“Aku.... pu-pulang dulu, Jimin oppa....” balasnya
masih menunduk malu dan segera pergi ke arah pintu. Namun, dengan sigap kutarik
tangannya.
“Mengapa seperti itu? Kau malu?” Tanyaku berusaha
untuk serius.
DEG!
Detak jantungku kembali kencang. Namun, tak masalah.
“Ani.... bukan begitu...” ujarnya singkat, namun tak
berani menatap mataku. Dengan cepat kudekatkan kembali wajahnya.
“Jinjja? Kau yakin kau baik-baik saja?” tanyaku lagi
sambil terus mendekatkan wajahku ke arahnya.
“Ne...” Jihyun memundurkan wajahnya.
Ayolah. Aku tak bermaksud menyiuminya lagi. Mengapa ia
harus mundur? Apa lagi-lagi karena malu? Aku tersenyum puas.
“Kalau begitu kau harus menjadi pacarku.” Ujarku yang
membuatnya membulatkan matanya.
Ya, aku tak tahu apa yang telah aku lakukan. Bagaimana
bisa aku mencium seorang gadis. Dan sekarang aku menyuruhnya untuk menjadi
pacarku. Ya, meskipun awalnya hanya setengah bercanda. Namun, kuakui kini aku
menyukai gadis itu.
Aku menyukainya senyumnya. Aku menyukai tawanya. Aku
menyukai saat mukanya berwarna merah. Aku menyukai caranya berbicara. Aku
menyukai caranya menatapku. Dan hal lainnya.
Dan itu hanya dalam satu hari.....
“Mwo? Sunbae?”
***
Jihyun’s POV
Three Years Later...
Winter wonderland, sepasang
kata itu selalu mengelabui benakku sewaktu melihat salju. Ya, hari ini salju
pertama datang. Sungguh damai dan tenang. Itulah kesan pertama saat aku melihat
salju.
Hari kian dingin. Kulumat americano yang tersisa di bibirku,
takkan kubiarkan americano itu
membeku di tiup angin musim dingin. Seraya melangkahkan kakiku menuju butiran
es yang sudah menggunung, kumasukkan kedua tanganku kedalam mantel buluku.
Namun, detik berikutnya, kurasakan tangan seseorang menggapai mataku, dan
menutupnya.
“Guess who!” tanya seseorang
itu. Aku tersenyum.
“A man....” balasku.
“Aisshhh... Jinjja!
Maksudku, siapa lelaki itu...” gerutu lelaki itu.
“Park Jimin...” balasku
lagi. Lelaki yang bernama Jimin itu membuka mataku, dan membalikkan badanku ke
arahnya.
“Hei... sudah kubilang
berkali-kali! Pakai oppa! Bukan hanya Jimin saja!” kesalnya sambil mencubit
lembut kedua pipiku. Aku hanya tertawa.
“Okay... Jimin oppa. Apa kau
puas?” tanyaku sambil melepas cubitan nakalnya. Dengan tersenyum, ia
merangkulku.
“Sangat puas.... Maaf telah
membuatmu menunggu lama. Yoo seonsaeng-nim menyuruhku untuk membuat skripsi
dengan tema yang lain.” Ujarnya kesal sambil meraih tengkukku untuk memperdalam
pelukan. “Aku janji kencan kita kali ini akan menyenangkan.”
Kencan?
Ya, sulit dipastikan bahwa
sejak tiga tahun lalu, bertepatan saat kami masih SMA, kami memulai hubungan
khusus. Hubungan ini berlanjut sampai sekarang, kuliah. Walaupun berbeda kampus,
kupastikan kami saling menjaga dan mempercayai satu sama lain.
“Ani... pendidikan memang
harus diutamakan terlebih dahulu. Bukannya beberapa bulan lagi kau akan lulus?”
sanggahku membangkitkan semangatnya, sambil melepaskan pelukan kami.
“Baiklah! Ayo kita mulai
kencan hari ini....” ajaknya sambil memegang erat tanganku. Aku hanya mengangguk
setuju.
Kami memulai pertualangan
kami dengan mencicipi makanan yang berada di pinggiran jalan. Ya, meskipun
Jimin selalu bersikeras untuk mengajakku makan di restoran, aku selalu
menolaknya. Menurutku, makanan yang berada di pingiran jalan lebih nikmat dari
pada makan ke restoran.
Kami mulai penjelajahan
kuliner kami dengan mencicipi teokbokki. Lalu, kami pun mencicipi beberapa
bibimbap di sebuah truk makanan. Masih tak puas, kami menuju sebuah restoran
kecil berdinding bambu untuk memakan jjampong. Ya, bukan hanya makan saja. Kami
juga bercerita tentang hari-hari menyenangkan kami di kampus masing-masing.
Hari pun semakin malam.
Jimin mengajakku melihat pemandangan Sungai Han.
Indah. Sangat indah.
“Sudah lama tidak ke sini.”
Ujarku pelan, namun masih bisa di dengar Jimin.
“Hhmm? Berarti aku memilih
tempat yang sangat pas.” Ujar Jimin sambil tersenyum simpul. Aku menatapnya
heran.
“Tempat yang sangat pas?
Untuk apa?” tanyaku. Beberapa saat kemudian, Jimin mengeluarkan sesuatu dari
mantel salju hitam-nya. Sebuah kalung berliontin M pun tampak.
“Untukmu. Ambillah. Sialnya
tak ada liontin berhuruf J. Jadi itu yang aku pilih.” Ujarnya sambil menyuruhku
mengambil kalung itu.
“M?”
“Ia, Minhyun.”
“Minhyun? Siapa dia?”
“Jimin dan Jihyun, Minhyun.
Anak kita nantinya.” Ujar Jimin sambil mempererat pelukan kami.
DEG!
Ada apa dengan Jimin?
“Yang benar saja!” ujarku sambil terus memandang
kalung itu.
“Tentu saja benar. Aku yakin itu akan terjadi
kelak....” ujar Jimin sambil melepas pelukan kami. Ia membalikkan tubuhku agar
menatapnya.
DEG!
Bukan. Ini bukan detakan jantung yang kurasakan
seperti dulu. Ada yang aneh.
Mengapa aku tak yakin dengan perkataan Jimin tadi?
Bahkan rasanya....
Sakit.
Seperti kata-kata terakhir Jimin.
Seperti Jimin akan meninggalkanku.
“Jihyun-ah? Kau baik-baik saja?” tanya Jimin
membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk pelan. “Baiklah, mungkin ini terlalu
larut untuk mahasiswa baru sepertimu. Ayo kita pulang!” ujar Jimin sambil
meraih tanganku agar kami berjalan bersama.
Pukul 10.00.
Jalanan kini mulai sepi. Beberapa kedai masih terbuka,
sementara sebagian besarnya sudah mulai tertutup. Langit pun semakin gelap.
Rumahku tak beberapa jauh lagi. Hanya perlu beberapa
belokan untuk sampai. Sementara Jimin terus menemaniku berjalan.
Sesaat kemudian, ketika hampir tiba di rumah, kudengar
deringan ponsel dari mantel Jimin. Jimin pun mengambilnya. Ada panggilan.
“Ne? Eomma?” ujar Jimin dengan panik. “Baiklah aku
akan ke sana sekarang juga.” Balas Jimin sambil menutup pembicaraannya setengah
panik.
“Waeyo? Ada apa dengan eommamu?” tanyaku kepada Jimin.
“Dia sakit. Penyakit jantungnya kambuh.” Ujar Jimin
pasrah. “Jihyun-ah! Maaf aku tak bisa mengantarmu sampai rumahmu.” Ujarnya
menyesal.
“Nan gwaenchana. Pergilah. Eomma-mu pasti akan
membutuhkanmu.” Ujarku tanpa rasa penyesalan. Aku cukup bahagia jika Jimin
bahagia.
“Gomawoyo.... Aku pergi dulu! Jaga dirimu baik-baik,
eoh?” balasnya sambil membelai lembut rambutku.
“Ne.” Ujarku. Jimin pun berlalu pergi.
Kuharap tak ada sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Aku hanya bisa berharap.
- TBC -

No comments:
Post a Comment