Title : Detective Kim
Main Cast : Kim Taehyung [BTS] | Kim Namjoon [BTS]
Support Cast : All member BTS and others
Genre : Detective Story | AU | Case | Psycho
Rate : General
Length : OneShot
Scriptwriter : Fellicia Kim @fkim_author
Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t be a
plagiator.
***
“Jimin-ah!” panggil seorang lelaki dari
belakang. Jimin, lelaki yang dipanggil, pun menatap si pemanggil. Wajahnya pun
mendadak cerah.
“Jungkook-ah!” Jimin membalas lelaki yang
memanggilnya tadi, Jungkook. Jeon Jungkook.
“Bagaimana
kabarmu?” tanya Jungkook sambil memeluk ringan teman kecilnya itu.
“Sangat
buruk tanpamu. Itu pasti.” Jimin menunduk. “Karena kau satu-satunya
keluargaku.”
***
“Hahaha....
Kan sudah kubilang, lebih baik kau menjual rumahmu di Brazil. Kau akan memiliki
pegangan sementara untuk saat ini.” Ujar Namjoon sambil menertawakan rekannya,
Kim Taehyung. Kemudian, ia melihat permainan monopoli mereka kembali. “Dan
lihatlah, kau masuk penjara sekarang. Dan kau tak memiliki uang untuk bebas. Ayolah
berhenti berharap kau mendapatkan kartu ‘bebas penjara’ dari Kesempatan.
Namjoon tertawa sekali lagi.
Taehyung
memasang wajah masamnya kepada Namjoon. Mereka bermain monopoli hari ini selama
3 jam, dan Taehyung sudah masuk penjara sebanyak 7 kali.
“Ayolah,
ini tidak adil bagiku. Tak bisakah aku mendapatkan kartu bebas penjara darimu?”
ujar Taehyung sambil memajukan bibirnya dan menatap kesal tumpukan kartu Kesempatan
yang berada tepat di depannya itu. “Arrgghhh! Apa salahku padamu.”
“Barangkali
ini bukan hari keberuntunganmu. Melainkan hari keberuntunganku. Hehehe....”
ujar Namjoon cekikikan, yang diikuti jitakan di dahinya oleh Taehyung. Namjoon
sedikit meringis kesakitan. Tak beberapa lama kemudian, seseorang mengetuk
pintu ruangan kerja mereka. Dengan sedikit terburu-buru, kedua detektif itu
membereskan semua permainan mereka, juga merapikan jas mereka secepat mungkin.
“Silakan
masuk.” Ujar Namjoon sambil mengubah rautnya menjadi serius dan wajah sedingin
mungkin. Seorang lelaki pun membuka pintu, dan masuk ke ruangan.
“Kepolisian
Incheon memanggil Anda berdua. Seseorang telah meninggal.” Ujar lelaki yang
biasa dipanggil Byunghee itu. “Yoo Jigeon.”
***
Mobil
hitam yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Muncullah dua sosok detektif yang
cukup di kenal, Kim Namjoon dan Kim Taehyung. Seorang pun datang menyambut
mereka, Kepala Kepolisian Incheon, Min Yoongi.
“Kuharap
kabar kalian baik, Detektif Kim Namjoon, Detektif Kim Taehyung. Lama tak
bertemu.” Ujar Yoongi yang dibalas dengan senyuman dari kedua detektif itu.
“Lama
tak bertemu juga.” Ujar Namjoon sambil menjabat tangan Yoongi, dan diikuti oleh
Taehyung. “Jadi kau tetangga korban?” tanya Namjoon. Yoongi mengangguk pasrah.
“Bisa
kau ceritakan bagaimana kau....” Taehyung menatap tubuh yang terbaring kaku
halaman rumah yang dimaksud. “menemukan mayat Yoo Jigeon?” ujar Taehyung sambil
melihat prihatin lelaki itu.
“Baiklah....”
Yoongi menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghempaskannya. “Anakku, Min Hanna,
menderita penyakit insomnia sejak 3 tahun lalu. Kebetulan Jigeon juga menderita
penyakit yang sama. Jigeon selalu bermain ke rumah kami setiap malam, untuk menemani
Hanna.” Yoongi menatap rumah Jigeon sesaat. “Namun, akhir-akhir ini Jigeon
sedikit berbeda. Ia jarang sekali ke rumah kami pada malam hari.”
“Dan
anakmu, Hanna, memutuskan untuk bermain ke rumah Jigeon?” tanya Namjoon detail.
“Ya,
bisa dibilang begitu. Tapi tak jadi. Ia mengurungkan niatnya ketika mencium bau
bangkai manusia di halaman belakang rumah Jigeon. Dan ia mendapati mayat
Jigeon. Ya, seperti itulah.” Ujar Yoongi.
“Oke.
Mungkin cukup untuk hari ini.” ujar Taehyung sambil menutup Case-Note miliknya.
“Kuharap kematiannya tak lebih dari 3 hari.”
“Kenapa?”
tanya Yoongi penasaran.
“Baunya
akan sangat busuk.” Ujar Namjoon sambil tersenyum. Yoongi pun ikut tersenyum.
“Baiklah,
selamat bekerja!” ujar Yoongi sambil berlalu pergi. Kali ini giliran kedua
detektif itu yang bekerja.
“Kuharap
ini akan menjadi kasus yang menarik.” Bisik Taehyung pada rekannya, sambil
meraih sepasang sarung tangan karet berwarna putih dan kamera dari saku jasnya.
“Ayo
kita lakukan!” sahut Namjoon.
Taehyung
mulai memotret tubuh Jigeon dengan detail. Mulai wajah, badan, dan kakinya. Tak
lupa memotret seluruh tubuh Jigeon dengan sempurna. Sedangkan Namjoon, ia fokus
memperhatikan bekas luka yang ada di leher dan tangan Jigeon.
“Kurasa
ini benar-benar hari keberuntunganku.” Ujar Namjoon sambil menunjuk luka pada
leher dan tangan Jigeon. Taehyung cepat-cepat melihat perihal tersebut.
***
“Hello,
Detektif Kim-Kim!” ujar seorang ahli forensik bernama Hoseok dari dalam
ruangan, menyambut Namjoon dan Taehyung.
“Ada
yang hal yang kau dapatkan?” tanya Taehyung.
“Sebelumnya,
kalian bisa menyimpulkan sesuatu?” tanya Hoseok balik.
“Ya,
mengingat bekas luka dan darah Jigoen,” Namjoon menatap mayat Jigeon yang
berbaring di atas tempat tidur ruang Hoseok, dan berujar, “kurasa dia dicekik.”
“Bingo!”
ujar Hoseok membenarkan.
“Dan
maksudmu ini kasus pembunuhan?” tanya Taehyung.
“Aku
belum memastikannya. Melihat keadaan dia sekarang, kurasa kondisinya menegang
pada saat pembunuhan berlangsung. Jadi, kurasa ia sudah mengira ia akan terbunuh.”
Ujar Hoseok.
“Tapi
itu mustahil jika ini pembunuhan disengaja.” Lanjut Namjoon.
“Lalu,
bagaimana dengan orang yang mencekik Jigeon? Kau mendapatkan buktinya?”
Taehyung kembali bertanya.
“Kemarilah.”
Ajak Hoseok mendekat ke arah mayat Jigeon. “Memang sangat mudah mendapatkan
sidik jari tersangka ketika ia mencekik seseorang. Tapi, beda dengan kasus
ini.” sela Hoseok.
“Maksudmu?”
Hoseok
menunjuk luka pada leher Hoseok, “Kurasa ini bukan kasus mudah. Pembunuhnya
telah membersihkan bukti sidik jarinya. Mustahil mendapatkannya kembali.”
Namjoon
dan Taehyung berdecak kesal.
Kasus
ini tidak semudah yang mereka bayangkan.
***
Kedua
detektif itu kembali ke ruangan mereka. Namjoon berpikir keras bagaimana bisa
menyelesaikan kasus yang menghantuinya sekarang. Sementara Taehyung, ia menatap
jendela ruangannya dengan tatapan kosong. Mereka berdua masih hening.
Satu
menit.
Dua
menit.
Tiga
menit.
Empat
Menit.
Lima
menit.
Taehyung
membulatkan matanya.
“Joon-hyung!” Namjoon menatap Taehyung yang
mulai berpikir. “Min Hanna. Bagaimana anak itu bisa tahu bau bangkai manusia?”
Taehyung menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman.
Namjoon
mengingat perkataan Min Yoongi dua hari yang lalu.
‘Ya, bisa dibilang
begitu. Tapi tak jadi. Ia mengurungkan niatnya ketika mencium bau bangkai
manusia di halaman belakang rumah Jigeon. Dan ia mendapati mayat Jigeon. Ya,
seperti itulah.’
“Kau
benar, Kim!” ujar Namjoon bersemangat. Namjoon menghisap kopinya sampai habis,
lalu bertanya, “Jam berapa sekarang?”
“Jam
11.40.”
“Ayo,
kita temui gadis kecil itu. Tepat setelah dia pulang sekolah.” Ujar Namjoon
sembari menarik asal brown-coat
miliknya, dan diikuti oleh Taehyung.
“Kurasa
ini hari keberuntunganku, hyung!”
Taehyung terkekeh.
***
Hanseul
Elementary School. Anak-anak berlari riang keluar dari sana. Kedua detektif itu
tersenyum ceria melihat anak-anak kecil menuju gerbang sekolah, dengan
memundaki tas dan memakai sepatu yang beraneka ragam warna. Hingga seorang
gadis kecil menarik perhatian mereka.
Namjoon
mengambil foto anak kecil yang berada di sakunya, dan mencocokkannya dengan wajah
anak yang difokuskannya saat ini.
Sama.
Anak itu sama.
Tanpa
berpikir panjang, lantas kedua detektif itu mendekati gadis kecil itu.
Taehyung,
si detektif penggemar anak-anak sudah siap dengan dua permen kapas besar
berwarna biru langit di genggamannya.
“Annyeong, Min Hanna!” sapa Taehyung
riang.
“Ahjusshi, kalian siapa?” ujar Hanna
bergidik ngeri.
“Jangan
takut Hanna. Kami teman ayahmu yang akan menjemputmu hari ini. Kami bahkan
sudah meminta izin dengan ayahmu.” Ujar Namjoon sambil merendahkan kepalanya
agar tingginya setara dengan Hanna.
Hanna
masih belum berkutik.
Taehyung
mengeluarkan foto pada sakunya, “Ini, ini foto ayahmu, kan?” ujar Taaehyung
sambil menunjuk foto Min Yoongi—ayah Hanna.
Hanna
mengangguk.
“Sekarang,
Hanna sudah percaya pada kami.” Tutur Namjoon sambil menberikan senyuman
terbaiknya. Namun, Hanna hanya diam.
“Baiklah...
Jika aka memberikan kedua permen kapas ini, akankah Hanna ikut pulang dengan
kami?” ujar Taehyung melaksanakan rencana akhirnya.
Hanna
menatap kedua permen kapas itu dengan matanya yang mendadak cerah, lalu
berkata, “Bagaimana jika ayah tak menginzinkanku memakan permen itu karena ayah
takut aku akan sakit lagi?” tanya Hanna penasaran.
“Ia
akan mengizikanmu jika Hanna tidak mengatakan bahwa Hanna memakannya.” Ujar
Namjoon.
Hanna
tampak menimbang-nimbang. Namun, beberapa detik kemudian, hal yang dutunggu pun
tiba. Hanna mengangguk mantap.
***
“Hanna,
bolehkah aku bertanya beberapa hal padamu.” Ujar Taehyung sambil memangku Hanna
yang tengah memakan permen kapasnya. Sedangkan Namjoon, ia sibuk menyetir mobil
di bangku depan.
Hanna
mengangguk.
“Tadi,
kau bilang kau takut ayahmu memarahimu jika kau memakan permen. Karena ayahmu
takut kau kembali sakit. Memangnya kau sakit apa?”
“Dulu
aku pernah batuk-batuk selama tiga hari. Dan ayah yang cemas langsung membawaku
ke rumah sakit.” Ujar Hanna. Taehyung hanya ber-oh ria. Namjoon yang menyetir
tak lupa merekam percakapan antara Taehyung dan Hanna.
“Lalu,
boleh kutahu, bagaimana hubunganmu dengan Jigeon oppa?” tanya Taehyung kembali.
Mata
Hanna langsung memerah, ingin rasanya ia menangis. “Jigeon oppa.... Dia temanku setiap malam. Dia selalu menemaniku setiap
malam jika ayah dan ibu sedang tertidur pulas...” ujar Hanna sedikit suram
sambil mengingat kenangannya dengan Jigeon.
Yoongi
tak berbohong, pikir Namjoon dan Taehyung.
“Benarkah?”
Taehyung mencari pertanyaan lagi yang ia rasa dianggap penting untuk
penyelidikannya sekarang. “Oh ya, sewaktu malam Jigeon oppa-mu meninggal. Kau bilang kau mencium bau bangkai manusia di
halaman rumahnya. Bagaimana kau tahu bau bangkai manusia?” ujar Taehyung
langsung pada poinnya.
“Jin
oppa yang memberitahuku.” Ujar Hanna
sambil memakan permen kapasnya sedikit-demi-sedikit.
“Jin
oppa? Siapa dia?”
“Ketika
aku dibawa ke rumah sakit karena aku batuk berat, aku bertemu dengan Jin oppa di sana. Dia sangat tampan. Dan
waktu itu, dia mengajakku berjalan mengelilingi rumah sakit. Sampai aku mencium
bau yang sama persis dengan bau Jigeon oppa
malam itu. Dan Jin oppa bilang itu bau bangkai manusia.” Ujar Hanna panjang
lebar. Namjoon menoleh ke arah belakang. Ia sempat mengeryitkan dahinya ketika
mendengar nama baru, dan bisa dibilang juga tersangka baru untuk kasus ini.
“Ngomong-ngomong,
bagaimana bisa kau mengenali Jigeon oppa?”
tanya Taehyung mengalihkan pembicaraan tadi.
“Aku
juga mengenalnya lewat Jin oppa.”
Ujar Hanna santai. Taehyung dan Namjoon membulatkan matanya.
“Jadi,
kau mengenal Jin oppa terlebih dahulu
dari pada Jigeon oppa?” Namjoon
akhirnya bersuara.
“Hm.”
Jawab Hanna pasti.
“Coba
ceritakan.” Taehyung mememulai.
“Sewaktu
ayah memberitahuku bahwa aku harus menginap di rumah sakit yang sangat sangat
membosankan selama beberapa hari, aku mencoba mengelilingi rumah sakit sendirian
untuk menemukan Jin oppa. Dan aku
menemukannya di ruangannya. Jin oppa
menyuruhku masuk, dan mengenalkanku pada Jigeon oppa. Sesaat aku rasa aku pernah melihatnya sebelumnya, dan aku
benar. Aku ingat jika Jigeon oppa
adalah tetanggaku.” Ujar Hanna panjang lebar.
“Hanya
itu saja? Kalau begitu bagaimana bisa kalian sangat dekat?” tanya Taehyung
berusaha meraih informasi sebanyak-banyaknya.
“Jin
oppa juga sempat menceritakan padaku
bahwa Jigeon oppa menderita penyakit
susah tidur. Dan aku juga mengaku aku susah tidur. Dan kurasa mulai hari itulah
Jigeon oppa sering berkunjung malam
hari untuk bermain bersamaku.” Lanjut Hanna.
“Boleh
kami tahu nama rumah sakit tempat kau dirawat?” tanya Taehyung penasaran.
“Deokjong Hospital.”
Taehyung
dan Namjoon sama-sama menghela nafas mendengar perkataan Hanna tersebut.
“Nah...
sekarang kau sudah sampai di rumahmu. Kau tak takut lagi dengan kami, kan?”
tanya Namjoon sambil memarkirkan mobilnya. Kedua detektif itu dan juga Hanna
turun dari mobilnya.
Hanna
mengangguk mantap atas jawaban Namjoon. Kemudian, menunduk 90 derajat kepada
Taehyung dan juga Namjoon seraya berkata, “Kamsahamnida, ahjusshi!”
Namjoon
dan Taehyung pun menbalasnya bersamaan, “Ne.”
“Jaga
dirimu baik-baik, ne?” Namjoon
membelai rambut Hanna dengan pelan. Hanna tersenyum.
“Tentu
saja. Annyeong, ahjusshi!” Hanna melambaikan tangannya sambil berlari menuju
rumahnya.
Namjoon
dan Taehyung pun melambaikan tangan mereka.
“Kurasa
nama Min Hanna harus dihapuskan dari daftar tersangka. Dia hanya gadis kecil
yang baru kehilangan teman bermainnya.” Taehyung prihatin.
“Kau
benar.” Ujar Namjoon sambil memperhatikan Hanna memasuki pintu rumahnya.
Beberapa saat setelah itu, ponsel Namjoon pun berbunyi. Hoseok mengirim pesan.
‘Kemarilah segera. Ada
berita bagus.’
“Dari
siapa?” tanya Taehyung.
“Hoseok.
Dia meminta kita ke ruang bedahnya segera. Ada hal baik, mungkin.” Namjoon
bersiap masuk ke mobilnya.
***
“Kim
Kim Kim Kim Kim!” sapa Hoseok ketika melihat kedua temannya sudah datang,
dengan tempo cepat. Hoseok berlari ke arah dua detektif itu.
“Kau
tak perlu berlebihan, Tuan Jung....” sahut Taehyung.
“Kalian
tahu?” tanya Hoseok antusias. “Aku menemukan dua sample darah pada celana jeans
yang dikenakan Jigeon saat meninggal di tempat.”
Namjoon
mengeryitkan dahinya. “Lalu, kau tahu siapa pemilik sample darah tersebut?” Mendadak wajah Taehyung dan Namjoon menjadi
cerah.
“Tidak.”
Jawab Hoseok asalan, dan membuat raut Taehyung dan Namjoon berubah drastis.
Hoseok membuang nafasnya dengan kesal. “Tentu saja aku tahu, Bung!”
“Benarkah?
Keduanya?” tanya Taehyung yang mulai antusias.
“Tidak.
Tidak keduanya. Hanya salah satu diantaranya. Aku masih sulit mengetahui
pemilik sample satu lagi. Karena kurasa sample darah yang satunya sekitar satu
bulan yang lalu mengenai celana jeans
Jigeon.” Balas Hoseok.
“Lalu
siapa pemilik sample pertama?” Namjoon bertanya kembali.
“Kim
Seok Jin. 25 tahun. Seorang Psikiater di kota Incheon.”
“Oh,
ayolah, maksudmu kami harus balik ke Incheon lagi untuk menemukan dia?” tanya
Taehyung lemah.
“Namanya
Kim Seokjin, bukan ‘Dia’, Taehyung. Atau orang-orang biasa menyebutnya Jin.”
“Apa?”
tanya Namjoon.
“Jin.
Para staf dan pasien dia rumah sakit tempat ia bekerja juga biasa memanggilnya
Jin.” Hoseok memberitahui.
“Apa
nama rumah sakit tempat ia bekerja?”
“Kalau
tidak salah Deokjong Hospital. Ia, Deokjong Hospital.”
Akhirnya!
Taehyung
dan Namjoon saling bertatapan. Seketika rautnya mendadak cerah.
“Apa?
Kalian kenal dengan Jin?” sahut Hoseok.
“Menurutmu?”
tanya Namjoon sambil berjalan ke arah pintu, yang lagi-lagi diikuti oleh
Taehyung.
“Baiklah...
Kuharap berita ini dapat membantu kasus kalian.” Ujar Hoseok pelan sambil
menyedot jus mangga yang dibelinya tepat sebelum Taehyung dan Namjoon datang.
***
“Boleh
kutahu siapa namamu?” tanya seorang lelaki berambut cokelat gelap sambil
menatap mata remaja laki-laki berusia 17 tahunan dengan tersenyum.
“ANDA
SIAPA! JANGAN MENDEKAT! PERGILAH! Ibu! Aku takut! Dia... dia ingin membunuhku!”
pekik remaja itu sambil bersembunyi dibelakang ibunya dan menangis.
“Dongmin!”
bentak seorang wanita separuh baya sambil menatap kesal anaknya yang bernama
Dongmin itu. “Anda bisa lihat, kan, bagaimana perilaku Dongmin, dia takut
kepada siapapun kecuali saya...” ujar wanita itu penuh jengkel.
“Banyak
pasien seperti Dongmin, Nyonya Kang! Apapun penyakit yang berhubungan dengan
kejiwaan dapat dipulihkan dengan kasih sayang, dan perhatian yang lebih.” Ujar
lelaki itu bijak.
Wanita
itu terdiam sejenak, “Mungkin Anda benar, saya dan suami saya terlalu sibuk
bekerja.” Ujar wanita itu sedikit pelan.
“Tidak
terlambat sama sekali, Nyonya.” Lelaki itu tersenyum. “Ini, resep obat penenang
untuk memenangkan anak Anda ketika penyakitnya kambuh.” Lanjutnya sambil
memberikan kertas resep.
“Terima
kasih, Dokter Kim!” ujar wanita itu sambil mengambil resep tersebut, kemudian
menggandeng lengan anaknya dan keluar dari ruangan.
Lelaki
itu bernafas lega.
‘dr.
Kim Seokjin’
Begitulah
Tag Nama yang tertulis di depan meja kerjanya. Ia tersenyum melihatnya.
Selang
beberapa menit kemudian, terdengar ketukan pintu dari luar. Seokjin pun
mempersilakan untuk masuk. Muncullah kedua detektif tersebut.
“Apakah
Anda yang bernama Kim Seokjin? Atau yang biasa dipanggil Jin?” tanya salah
seorang diantara mereka, Kim Taehyung.
“Ya,
tentu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Jin.
“Kami
detektif dari Seoul menyatakan bahwa Anda menjadi tersangka atas sebuah kasus
pembunuhan.” Ujar Namjoon tegas.
“Tersangka?
Tersangka pembunuhan? Siapa? Siapa yang dibunuh?” Jin mulai panik.
“Yoo
Jigeon.”
***
“Apa-apaan
ini! Saya tidak pernah membunuh siapapun! Saya bahkan tak tahu jika Jigeon
telah meninggal!” bela Jin.
“Kami
tidak pernah menuduh Anda membunuh. Tapi, kami hanya mengira Anda menjadi
tersangka sementara.” Ujar Taehyung yang baru datang bersama Namjoon. Kedua
detektif itu duduk berhadapan dengan Jin.
“Bisa
kau jelaskan apa hubunganmu dengan Jigeon?”
Jin
menghela nafasnya, “Baiklah dia pasienku, sejak 2 tahun lalu.”
“Bisa
kutahu, apa penyakit Jigeon?”
“Maaf,
itu privasi pasien. Aku takkan mengungkapkan—“
“Jawab
atau kutetapkan kau menjadi tersangka.” Namjoon berujar tegas.
“Baiklah,
dia insomnia.”
“Kami
sudah tahu. Tak mungkin hanya insomnia, kan?”
“Dependent.
Penyakitnya satu lagi adalah Dependent.”
Namjoon
dan Taehyung semakin penasaran.
“Apa
itu dependent?” tanya Taehyung.
“Penyakit
kepribadian dengan rasa ketergantungan sangat tinggi.”
“Maksudmu?”
Namjoon serius.
“Jigeon
pernah bercerita kepadaku bahwa dia memiliki teman kecil. Saat ia merasa
tertekan karena orang tuanya meninggal. Temannya selalu menghiburnya. Namun,
teman masa kecilnya itu memiliki teman baru, dan mereka selalu bersama. Kutebak
bahwa Jigeon merasa cemburu. Jadi, dia memiliki ketergantungan dengan temanya
itu. Mungkin Jigeon sangat cinta mati kepadanya.”
“Kau
tahu nama teman masa kecilnya?”
“Tidak.
Dia tidak pernah menceritakannya padaku. Tapi, kurasa mereka berada dalam
lingkungan yang berdekatan.” Ujar Jin sejujur mungkin.
“Baiklah,
aku percaya ucapanmu.” Namjoon mengambil sample
darah yang masih lengket pada potongan jeans
Jigeon di sakunya, kemudian meletakkannya di atas meja.
“Tim
forensik kami menemukan sample darah
ini pada jeans yang dikenakan Jigeon
saat ia dinyatakan tewas. Dan darah ini milikmu. Jelaskan mengapa darahmu bisa
berada pada jeans Jigeon.” Tungkas Taehyung.
Jin
melepaskan nafasnya dengan kasar. “Aku baru memberitahu penyakit dependent-nya
seminggu lalu, akibat ketergantungan hidupnya dengan teman yang dia sayangi
sepenuhnya. Dan saat itu juga ia menuduhku bohong, dan menggoreskan pisau kecil
kepada lenganku ini.” ujar Jin sambil menunjuk bekas luka pada lengan
tangannya.
Alibinya
benar-benar kuat!
Semua
yang Jin katakan masuk akal. Dan Taehyung serta Namjoon menyesal dan turut
prihatin atas pengorbanannya sebagai Psikiater.
“Dan
mulai hari itu, ia tak pernah menemuiku lagi.” Lanjut Jin.
“Baiklah,
kami cukup menyesal karena telah menjadikanmu tersangka. Kami turut prihatin.
Kurasa cukup untuk hari ini.” ujar Taehyung.
“Ya,
aku memaklumi mengapa kalian menjadikanku tersangka.” Jin tersenyum. “Ini,
kartu namaku. Jika kalian membutuhkan bantuan menghadapi orang-orang aneh,
kalian bisa menghubungiku.” Sela Jin sambil memberikan kartu namannya. Namjoon
mengambilnya.
“Terima
kasih atas partisipasi dalam introgasi hari ini.” ujar Namjoon sambil
tersenyum. Jin pun keluar dari ruangan tersebut.
Dan
ponsel Taehyung pun berbunyi. Hoseok menelepon.
“Aku
tak mengerti dengan kasus ini. Sample darah yang-satunya lagi milik lelaki
bernama Jeon Jungkook. Namun, sebulan yang lalu, dia dinyatakan tewas karena
tertabrak mobil.”
Taehyung
menutup pembicaraan mereka. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi.
“Ada
apa?” tanya Namjoon heran.
“Harapan
kita hilang sudah.” Taehyung bergeming. “Sample
itu milik Jeon Jungkook. Dan ia telah meninggal sebulan lalu. Tak ada yang bisa
dijadikan tersangka.”
***
“Detektif
Kim!” sapa seseorang dari belakang. Dia Min Yoongi. “Bagaimana? Apa ada berita
baru?”
Taehyung
menghela nafas lelah, “Masih belum.” Ujarnya singkat.
“Mana
Detektif Kim lainnya? Maksudku Kim Namjoon?”
“Ia
mengikuti rapat kasus ini di Seoul. Aku akan menemuinya nanti saat makan siang.
Ada yang ingin kalian bicarakan?”
“Tidak.
Hanya saja aku heran mengapa kau ke sini sendirian.”
Taehyung
tersenyum seadanya. Ditatapnya rumah sekitar, dan pandangannya terpaku ke suatu
rumah tepat di sebelah rumah Jigeon.
“Rumah
itu, apakah tak ada penghuninya? Aku sudah ke mari beberapa kali, tapi aku tak
melihat orang di dalamnya.” Taehyung berujar sembari menunjuk rumah itu.
“Entahlah,
pemilik sebenarnya adalah Park Hojung. Namun, 3 tahun lalu, ia dan istrinya
meninggal. Jadi yang tinggal hanyalah anak lelakinya, Park Jimin. Jimin
memiliki teman dekat. Namun sayang, temannya tewas tertabrak sebulan yang
lalu.” Yoongi menjelaskan dengan detail. “Kondisinya kini benar-benar
memprihatinkan.”
“Bagaimana
bisa?” Taehyung mulai tertarik.
“Entahlah.
Kasus ini juga masih belum terpecahkan. Malangnya, Jimin tak pernah keluar
rumah setelah itu, kecuali saat mengambil pesanan makanannya dan membuang
sampah ke tempat sampah umum. Mungkin ia sangat depresi mendengar temannya yang
meninggal.”
“Hmm...
kau tahu siapa nama temannya yang meninggal itu?”
“Tunggu...
kalau tidak salah Jeon...” Yoongi memicingkan matanya sesaat. “Jeon... Jeon
Jungkook. Ia, Jeon Jungkook. Temannya yang meninggal itu adalah Jeon Jungkook.”
***
“Taehyung,
di sini!” ujar lelaki yang tak lain adalah Namjoon kepada lelaki yang tak lain
adalah Taehyung. Namjoon mempersilakan rekannya untuk duduk. “Aku dapat berita
baru!”
Taehyung
menaikkan alisnya.
“Aku
mencari kontak yang sering dihubungi Jigeon. Dan terdapat 134 panggilan dari
Jigeon. Dan penerima panggilan itu adalah Park Jimin. Tetangga sebelahnya.”
Bisik Namjoon.
Taehyung
membulatkan matanya.
“Apa?
Kenapa?” Namjoon bertanya.
“Park
Jimin adalah teman dekat dari Jeon Jungkook. Pemilik sample darah yang terdapat di jeans
Jigeon.” Ujar Taehyung yang langsung membuat Namjoon terperangah. “Yoongi
menceritakan bahwa Jimin sangat terpuruk sewaktu mendengar Jungkook tewas.”
Namjoon
terdiam.
“Tapi satu hal yang asing, darah Jungkook
sudah melekat pada jeans Jigeon satu bulan yang lalu. Mengapa Jigeon tidak
mencuci celana jeans-nya selama satu bulan?”
TAK!
Taehyung mendapat jitakan dari Namjoon.
“Jangan
memikirkan hal yang tak berguna. Itukan terserah Jigeon.” Cengir Namjoon.
“Lalu,
apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Kurasa
kita menemui harus Jin. Bukankah aneh ketika teman lamanya meninggal, Jimin
sama sekali tidak peduli, sedangkan Jungkook teman yang didapatinya baru 3
tahun belakangan dinyatakan meninggal membuatnya sangat terpuruk? Bukankah itu
sangat pilih-kasih dan tidak masuk akal? Karena akan lebih masuk akal jika
Jimin menangisi Jigeon daripada Jungkook. Karena Jigeon teman masa kecilnya.”
Ujar Namjoon panjang lebar.
“Maksudmu,
ada masalah antara Jimin dan Jigeon sebelumnya?”
“Bukan
masalah. Tapi, gangguan kejiwaan pada Jimin.” Ujar Namjoon serius.
“Dan
yang paling membuatku aneh, hyung,
Jungkook meninggal karena ditabrak, bukan dibunuh. Lalu, bagaimana bisa ada
darah Jungkook pada celana Jigeon? Bukankah itu aneh? Sangat wajar jika
kematian Jungkook dikarenakan pembunuhan.”
“Kau
benar.”
***
“Schizoid.
Itu nama kelainannya.” Ujar Jin setelah mendengar penjelasan dari Namjoon dan
Taehyung.
Kedua
detektif itu tak bergeming, membiarkan Psikiater itu menjelaskan perkataannya.
“Schizoid
adalah kelainan dimana seseorang tertutup dengan lingkungan sekitarnya, galak,
dan rasa curiga yang tinggi kepada seseorang. Tapi, sebelumnya kurasa Jimin
juga salah seorang yang terlibat Dependent. Penyakit yang sama persis diderita
Jigeon.”
“Maksudmu?”
tanya Taehyung dan Namjoon serempak.
“Jimin
sangat terpukul ketika kehilangan orang tuanya, itu wajar. Kronologinya,
Jungkook yang sangat prihatin dengan keadaan Jimin berusaha mengihiburnya.
Sampai-sampai Jimin menganggap Jungkook-lah satu-satunya orang yang bisa
membantunya, sehingga Jimin sangat tergantung pada Jungkook. Cerita ini unik,
seperti cinta segitiga, Jigeon mengejar Jimin, dan Jimin mengejar Jungkook.”
Ujar Jin panjang lebar.
“Tunggu,
apa akibat kelainan ini? Maksudku, apakah itu berbahaya untuk orang sekitar?”
Taehyung bertanya.
“Banyak
cerita tentang orang yang mengidap penyakit ini. Dan sebagian besar, mereka
melukai dirinya sendiri, dan bisa sampai bunuh diri.”
“Maksudku,
bisakah Jimin membunuh Jigeon?” Namjoon antusias.
“Bisa
jadi. Tapi, biasanya si pembunuh yang menderita Schizoid akan membunuh orang karena
motif mereka sendiri. Maksudku, jika Jimin benar-benar orang yang membunuh
Jigeon, barangkali Jimin memiliki alasan mengapa ia melakukan hal tersebut.
Karena, aku tak pernah mendengar kasus pembunuhan yang dilakukan oleh si
penderita Schizoid.” Jin menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya.
“Kalau
begitu kita harus mengintrogasinya, tentang motif pembunuhan yang dilakukannya
pada Jigeon.” Namjoon bersemangat.
“Tidak,
jangan! Kurasa itu takkan berhasil.” Tegas Jin. “Jimin memang mustahil membunuh
kalian, tapi kalian tetap harus berhati-hati. Jika kalian menyinggung
perasaannya, mungkin ia bisa membunuh kalian. Kecuali jika kalian memiliki
bukti yang benar-benar kuat.” Lanjut Jin.
Namjoon
dan Taehyung sama-sama mengangguk. Namun, tak lama ponsel Namjoon kembali
berdering. Pesan dari Hoseok telah masuk.
‘Kabar
baik. Setelah kuperiksa ulang, kutemukan sebuah sidik jari pada pecahan kaca
saat kuperiksa ulang di halaman belakang rumah Jigeon. Bagusnya, darah Jigeon
menempel pada kaca tersebut. Dan kaca tersebut berasal dari kaca rumah
tetangganya, Park Jimin. Begitupula sidik jari pada kaca tersebut, milik Park
Jimin. ’
Namjoon
tersenyum. “Kurasa kami memiliki bukti kuat untuk menuduhnya. Kuyakin, dia tak
akan mengelak kali ini.”
***
Kedua
detektif itu sidah sampai di depan pintu rumah keluarga Park. Ditatapnya
seluruh keadaan, sangat memprihatinkan. Bunga di seluruh tamannya sudah layu,
barangkali tak pernah disiran selama musim panas kali ini. Halamannya pun kotor,
banyak sampah yang berserakan.
Benar-benar
seperti kapal pecah.
Namun,
mereka harus berlaku senyaman mungkin dengan rumah ini. Karena mereka menyamar,
menjadi keluarga Jungkook.
Namjoon
mengetuk pintunya. Tak ada balasan.
Diketuknya
sekali lagi. Tak ada balasan.
Diketuknya
untuk yang ketiga kalinya. Masih tak ada balasan.
Hingga
akhirnya Taehyung berhasil membuka pintu yang tidak terkunci itu. Namjoon
membulatkan matanya.
“Kau
tahu pintu ini terbuka?”
“Itu
hanya firasatku...” ujar Taehyung sambil memberikan senyum terkonyolnya.
Kedua
detektif itu dengan cepat mengubah rautnya, menjadi sedih. Tak lupa botol obat
tetes mata yang isinya—telah dibuang, dan diberi—air, sudah masuk dalam
sandiwara detektif itu. Mereka meneteskan air didekat matanya, agar terlihat
sedih. Mereka juga mempersiapkan tissue
untuk membuat mereka benar-benar sedang berduka. Tak lupa juga kemeja berwarna
hitam tanda sedang berduka. Mereka benar-benar sudah menyiapkan semua ini
dengan matang.
Walaupun
kenyataannya terlambat satu bulan lebih.
Kedua
detektif itupun masuk. Di sudut ruangan, dilihatnya Jimin menangis sambil
memegang lututnya.
Jimin
benar-benar terpukul, batin Namjoon dan Taehyung ikut prihatin.
Namjoon
yang memulai sandiwaranya pertama kali, segera mendekati Jimin.
Namjoon
terduduk, seolah olah membuatnya lemah, sama seperti Jimin.
“KALIAN
SIAPA?” pekik Jimin kaget setelah melihat Namjoon dan keberadaan Taehyung di
dekat pintu. Taehyung sempat terkejut mendengar perkataan Jimin.
“Kau
Jimin, kan? Jimin teman Jungkook? Kami keluarga Jungkook.” Ujar Namjoon.
“Lalu,
kenapa kalian sekarang baru datang?” ujar Jimin sedikit melunak, namun masih
tegas.
“Kami
baru tahu berita ini kemarin.” Ujar Namjoon sedikit kikuk.
Taehyung
segera mengambil tindakan. Ia pun mendekati Jimin, “Kami sepupunya Jungkook.
Saya Jeon Taehyung, dan ini kakak saya, Jeon Namjoon.” Taehyung sedikit
tercekat ketika mengubah marga Kim menjadi Jeon pada marga mereka berdua. “Hubungan
kami mungkin tidak terlalu dekat, tapi bagaimanapun Jungkook sepupu kami.” Ujar
Taehyung.
“Lalu,
apa tujuan kalian datang kemari?”
“Karena
kau teman Jungkook satu-satunya, Jadi kupikir kau tahu dimana makam Jungkook.”
Balas Taehyung.
Jimin
terdiam. Masih ragu. Apakah mereka benar-benar sepupu Jungkook atau tidak?
Suasana
hening seketika, sampai Jimin kembali berujar, “Baiklah.”
***
Mereka
semua tiba di pemakaman.
Jimin
berjalan pelan, ia tertunduk lemah ketika berjalan menuju pemakanan Jungkook.
Jungkook, teman yang selalu menghiburnya. Sedangkan kedua detektif itu hanya
mengekori Jimin dari belakang.
Lima
puluh persen rencana mereka sukses.
Tak
beberapa lama kemudian, mereka pun tepat di depan makan Jungkook. Tangisan
Jimin mulai pecah, ia memeluk dan mengusap nisan Jungkook. Taehyung dan Namjoon
juga tak lupa peran, tangisan mereka juga pecah, meski yang kali ini hanya
dibuat-buat.
Selama
10 menit, makam itu hanya ditemani oleh tangisan Jimin, Taehyung, juga Namjoon.
Hingga
Jimin mulai berujar, “Ini semua karena si brengsek Jigeon.”
Namjoon
dan Taehyung mengangkat wajahnya.
“BRENGSEK
KAU JIGEON!”
***
“LEPASKAN!”
erang Jimin ketika mengetahui siapa kedua orang yang membawanya ke suatu ruang
introgasi. “DASAR PEMBOHONG!”
Taehyung
dengan lekas mengenakan borgol pada tangan Jimin. Sedangkan Namjoon duduk tepat
di hadapannya.
“Dengar,
seluruh detektif berhak melakukan apapun yang dianggap bisa membantu
penyelidikan lebih lanjut. Jadi, tak ada salahnya kami bohong padamu.” Ujar
Namjoon pelan.
“Aku
ingin pengacara!” ujar Jimin tanpa memedulikan ucapan Namjoon tadi.
“Kau
tak butuh pengacara sama sekali, Park. Sayangnya kau sudah tertangkap basah.”
Ujar Taehyung tenang sambil meraih kursi dan duduk tepat di sebelah rekannya,
Namjoon.
“YA!
AKU BILANG AKU INGIN PENGACARA!”
“Kita
langsung saja pada poin pentingnya. Apa kau yang membunuh Jigeon, atau bisa
kami bilang tetangga sekaligus teman masa kecilmu?” ujar Namjoon serius.
“APA
YANG KAU MAKSUD?” mata Jimin mulai memerah, ia benar-benar tak terima jika
dirinya dituduh sembarangan.
“Jujurlah...”
gumam Taehyung sambil menatap tajam Jimin.
“Dasar
bodoh!”
“Aku
hanya butuh ‘iya’ atau ‘tidak’ darimu. Beserta alasannya.” Tambah Taehyung.
“Hei!
Apa-apaan kalian! Ka—”
“Kami
punya bukti sidik jarimu pada lehernya.” Ujar Namjoon sambil memampangkan kaca
setengah berdarah yang berada dalam plastik yang digenggamnya. “Kudengar ini
darah Jigeon. Dan kaca ini berasal dari kaca rumahmu.” Sindir Namjoon.
“Kau
lupakan satu hal, hyung. Pada kaca
itu terdapat sidik jari Jimin juga.” Jelas Taehyung dengan sinis.
“Mustahil!”
ujar Jimin tak percaya seraya membulatkan matanya. Ia tak berani menatap
Namjoon dan Taehyung kali ini.
“Bagaimana
bisa mustahil?” tanya Namjoon sepihak.
“Karena..
karena.. a-a-aku tak membunuhnya...”
“Ada
apa dengan mu Jim? Mengapa kau tidak mengaku saja?” tanya Taehyung memancing
emosi Jimin.
“AKU
TIDAK MEMBUNUHNYA!” pekik Jimin kesal, kesabarannya sudah habis kini.
“Kau
tahu...” Namjoon medekatkan wajahnya dengan wajah Jimin. “Temanmu, Jungkook,
adalah mahasiswa fakultas hukum.”
“JANGAN
BAHAS TENTANG JUNGKOOK!” Jimin penuh emosi.
“Dia
juga taat dengan agamanya. Bukankah kau pikir Jungkook akan kecewa dengamu jika
kau terus berbohong? Mungkin dia juga bisa membencimu.” Lanjut Namjoon tanpa
menggubris larangan Jimin untuk tidak membahas Jungkook lagi.
“Jangan...
Jungkook tak akan kecewa kepadaku.” Ujar Jimin melunak. Matanya kini tambah
memerah. Jantungnya berdetak tak keruan. Kepalanya pun mulai pusing.
“Dia
pasti kecewa, Jim..” ujar Taheyung.
“Tidak...
Jungkook tidak membenciku.” Ujar Jimin lagi, air matanya kini sudah menerobos
bendungan. Jimin benar-benar menyesal.
“Jungkook
membencimu, Jim!” ujar Taehyung kembali.
Tubuh
Jimin mulai melemah. Wajahnya menunduk menatap lantai yang sedang dipijakinya.
Pikirannya kembali kosong, hanya wajah Jungkook yang terbayang di wajahnya.
Jungkook kecewa kepadanya. Jungkook membencinya. Dua hal itulah yang
ditakutinya.
Namjoon
dan Taehyung memberinya waktu untuk berpikir, hingga Jimin berujar, “Aku yang
bersalah.”
Namjoon
dan Taehyung menatapnya.
“Aku
membunuh Jigeon.”
***
“Malam itu adalah hari
ulang tahun Jungkook. Dengan semua usahaku, aku ingin membuat pesta ulang tahun
untuk Jungkook ketika malam ia datang ke rumahku. Aku sangat menantikan hari
itu.
Aku suruh Jungkook
untuk datang ke rumahku jam 10 malam. Jungkook pun setuju. Aku sudah
menyiapakan beberapa makanan yang Jungkook sukai. Hingga akhirnya jam 10 malam pun
tiba. Aku menunggu Jungkook dengan penuh harap.
Setengah jam pun
berlalu, Jungkook tak kunjung datang. Aku benar-benar melihat pesan yang
kukirim padanya, dan kupastikan dia telah membacanya. Dengan sabar, aku tunggu
Jungkook lima menit lagi. Dan aku tahu, batas kesabaranku sudah habis kalli
ini.
Kuraih jaket kulitku
yang terletak di gantungan pakaian, dan kuputuskan untuk mengunjungi rumahnya.
Kupikir, barangkali Jungkook lelah dengan pekerjaannya, dan aku lebih baik
memberikan kejutan di depan rumahnya.
Saat itu jam tepat 11
malam, dan aku tiba di rumah Jungkook. Kulangkahkan kakiku menuju teras
rumahnya. Dan tiba-tiba, aku mendengar seseorang merintih kesakitan di
rumahnya. Dengan lekas, kubuka kecil pintu rumah itu. Hingga kulihat kepala
Jungkook berdarah, karena seseorang telah meninjunya. Dan dia...
Yoo Jigeon. Si brengsek
itu.
Jungkook melihatku.
Dengan arah penglihatannya, kuyakini ia menyuruhku untuk menjauh. Jungkook pun
tersenyum.
Aku tak tahu apa arti
senyuman itu, hingga si brengsek itu terus menendang kepada Jungkook.
Tanganku bergetar,
mataku memerah, tubuhku memanas, aku tak sanggup lalgi melihat Jungkook
diperlakukan seperti itu. Namun, ketika aku hendak membuka pintu, Jungkook
menggeleng ke arahku. Dan si brengsek itu terus menendangnya.
Jigeon membawa Jungkook
ke sebuah tanah luas, kemudian menidurkannya diatas tumpukan jerami. Ingin
rasanya kuselamatkan Jungkook saat itu, ketika kusadar Jigeon menjauh untuk
menghidupkan mesin mobilnya, dan memantapkan arahnya mobilnya ke arah Jungkook
yang lemah.
Kali ini, tak akan
kumaafkan. Aku berlari menuju Jungkook, lelaki yang tak memiliki salah
sedikitpun itu.
Tapi, aku salah, aku
terlambat. Jigeon terlebih dahulu menghampirinya, lebih tepatnya menghampiri
kematiannya. Dan dia terus berlalu, hingga hanya aku dan Jungkook yang tak
bernyawa lagi.
Inilah penyebab
kematian si brengsek itu, dia yang telah menyebabkan Jungkook meninggal! Dan
dia juga harus meninggal!
Dan sebulan semenjak
meninggalnya Jungkook, Jigeon terus mengusik kehidupanku, dia sok akrab, sok
dekat, hingga aku jijik melihatnya. Dia hanya tersenyum tipis ketiak melihat
mayat Jungkook.
Sampai akhirnya, dia
selalu meneleponku, memasakkanku makanan, dan melakukan hal-hal yang biasanya
Jungkook lakukan untukku. Dan aku sangat tersentuh. Tersentuh akan sandiwara najisnya.
Hingga suatu malam, dia
membuat ulah lagi dirumahku. Jigeon datang ke rumahku malam hari, mengajakku
menonton film yang baru di belinya. Dan sewaktu ia ingin mengambil susu dari
kulkas, ia melihat foto Jungkook berbingkai pada meja kecil dengan kesal. Ia
menjatuhkan foto itu ke lantai, hingga akhirnya pecah.
Aku benar-benar muak!
Ia menatapku datar,
lalu tersenyum. Dan tak lupa membuang foto itu ke kaca rumahku, hingga foto
Jungkook terlempar keluar, dan membuat kaca rumahku menjadi pecah.
Aku langsung
mendekatinya dan meremas kaus yang ia gunakannya. Sebenarnya, saat itulah yang
kutunggu untuk benar-benar memusnakahkannya.
Jigeon membelakakkan
matanya menatap perangaiku.
Aku sudah mempersiapkan
mental untuk operasi kali ini. Aku mencekikkanya, meskipun air matanya sudah
berlinang. Tak lupa, kutarik rambutnya hingga di sudah berada di sudut ruangan
santaiku. Tak lupa, kuambil kaca rumahku yang pecah dan kudekatkan pada
wajahnya, hingga berdarah.
Kupikir ini cukup,
meski kematiannya tak separah dengan kematian yang Jungkook alami karenanya.
Aku sungguh puas.
Namun, sayangnya, aku
adalah orang yang pintar. Jika Jigeon yang membunuh Jungkook tidak tertangkap,
maka jika aku yang membunuhnya tidak tertangkap juga. Itu baru adil, bukan?
Aku membersikkan sidik
jariku pada tubuhnya, terutama lehernya. Kuletakkan dia di halaman belakang
rumahnya, yang sangat sepi. Tak lupa, ku bakas seluruh pakaian yang kukenakan,
juga membereskan sisa-sisa darah si brengsek itu yang berada dalam rumahku
dengan teliti. Dan langsung saja, aku mandi dan tidur.
Dua hari kemudian, baru
kedengar kematian Jigeon. Kurasa, pembunuhanku kaki itu benar-benar sukses
bulat.
Karena si brengsek itu
benar-benar mati.
Ya, si brengsek itu,
Jigeon.
Yoo.
Ji.
Geon.”
***
“Detektif
Kim!” seru seseorang dari belakang seraya berlari kearah kedua detektif
bermarga Kim itu.
Kedua
detektif itu menatap si pemanggil, Min Yoongi.
“Terima
kasih karena telah membantu kami.” Ujar Yoongi seraya memberikan selamat pada
kedua detektif itu.
“Bukan
apa-apa, itu memang tugas kami.” Ujar Namjoon.
“Aku
cukup lega karena kasus ini terselesaikan juga. Kalian benar-benar hebat.” puji
Yoongi.
Taehyung
dan Namjoon hanya tersenyum bangga.
“Untuk
Jimin, kudengar dia tak masuk penjara dalam waktu dekat, mengapa?” tanya
Taehyung.
“Oh,
masalah itu. Karena kudengar Jimin mengalami gangguan kejiwaan, jadi kami
berharap untuk dapat memulihkannya terlebih dahulu di Rumah Sakit Jiwa sampai
dia benar-benar pulih.” Jelas Yoongi.
“Ya,
itu lebih baik.” paham Namjoon sambil memangguk menyetujui.
***
“Akhirnya
tugas kali ini selasai. Tak ada kasus yang harus ditutup.” Ujar Taehyung lega
sembari duduk di kursi kantornya sambari meregangkan ototnya karena lelah tak
tidur cukup.
“Kau
benar, Kim” ujar Namjoon bangga. “Tapi, kita tak memiliki kegiatan sampai kasus
baru datang.” Namjoon menatap jendela.
“Lalu,
bagaimana jika kita bermain monopoli lagi?” saran Taehyung dengan mata yang
berbinar-binar.
“Huh?
Benarkah? Kau yakin hari ini hari keberuntunganmu?” ujar Namjoon menantang dan
menganggap remeh Taehyung.
“Ah...
tidak... kau benar, hyung!” Taehyung
tampak memikir-mikir. “Ayo kita bermain ular tangga! Siapa menang 5 kali
berturut-turut harus meneraktir yang kalah untuk makan malam hari ini!” usul
Taehyung. Namjoon pun mengangguk setuju.
Sudah
lewat dua menit mereka main, dan seseorang mengetuk pintu ruangan mereka. Kedua
detektif itu pun berdecak kesal.
“Siakan
masuk.” Namjoon berujar.
“Ada
panggilan dari Kepolisian Busan. Selamat, kalian terpilih untuk menyelesaikan
kasus kali ini. Dan bagusnya ada dua kasus baru yang harus kalian selesaikan.”
Ujar Byunghee dengan riang.
“Apa?
Dua kasus?” Taehyung dan Namjoon terbelalak.
[To Be Continued for This Case]
-
FIN -

No comments:
Post a Comment