Tuesday, 16 June 2015

Detective Kim






Title : Detective Kim
Main Cast : Kim Taehyung [BTS] | Kim Namjoon [BTS]
Support Cast : All member BTS and others
Genre : Detective Story | AU | Case | Psycho
Rate : General
Length : OneShot
Scriptwriter : Fellicia Kim @fkim_author

Disclaimer : This story is pure MINE. Don’t be a plagiator.

***

“Jimin-ah!” panggil seorang lelaki dari belakang. Jimin, lelaki yang dipanggil, pun menatap si pemanggil. Wajahnya pun mendadak cerah.

“Jungkook-ah!” Jimin membalas lelaki yang memanggilnya tadi, Jungkook. Jeon Jungkook.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Jungkook sambil memeluk ringan teman kecilnya itu.

“Sangat buruk tanpamu. Itu pasti.” Jimin menunduk. “Karena kau satu-satunya keluargaku.”

***

“Hahaha.... Kan sudah kubilang, lebih baik kau menjual rumahmu di Brazil. Kau akan memiliki pegangan sementara untuk saat ini.” Ujar Namjoon sambil menertawakan rekannya, Kim Taehyung. Kemudian, ia melihat permainan monopoli mereka kembali. “Dan lihatlah, kau masuk penjara sekarang. Dan kau tak memiliki uang untuk bebas. Ayolah berhenti berharap kau mendapatkan kartu ‘bebas penjara’ dari Kesempatan. Namjoon tertawa sekali lagi.

Taehyung memasang wajah masamnya kepada Namjoon. Mereka bermain monopoli hari ini selama 3 jam, dan Taehyung sudah masuk penjara sebanyak 7 kali.

“Ayolah, ini tidak adil bagiku. Tak bisakah aku mendapatkan kartu bebas penjara darimu?” ujar Taehyung sambil memajukan bibirnya dan menatap kesal tumpukan kartu Kesempatan yang berada tepat di depannya itu. “Arrgghhh! Apa salahku padamu.”

“Barangkali ini bukan hari keberuntunganmu. Melainkan hari keberuntunganku. Hehehe....” ujar Namjoon cekikikan, yang diikuti jitakan di dahinya oleh Taehyung. Namjoon sedikit meringis kesakitan. Tak beberapa lama kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangan kerja mereka. Dengan sedikit terburu-buru, kedua detektif itu membereskan semua permainan mereka, juga merapikan jas mereka secepat mungkin.

“Silakan masuk.” Ujar Namjoon sambil mengubah rautnya menjadi serius dan wajah sedingin mungkin. Seorang lelaki pun membuka pintu, dan masuk ke ruangan.

“Kepolisian Incheon memanggil Anda berdua. Seseorang telah meninggal.” Ujar lelaki yang biasa dipanggil Byunghee itu. “Yoo Jigeon.”

***

Mobil hitam yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Muncullah dua sosok detektif yang cukup di kenal, Kim Namjoon dan Kim Taehyung. Seorang pun datang menyambut mereka, Kepala Kepolisian Incheon, Min Yoongi.

“Kuharap kabar kalian baik, Detektif Kim Namjoon, Detektif Kim Taehyung. Lama tak bertemu.” Ujar Yoongi yang dibalas dengan senyuman dari kedua detektif itu.

“Lama tak bertemu juga.” Ujar Namjoon sambil menjabat tangan Yoongi, dan diikuti oleh Taehyung. “Jadi kau tetangga korban?” tanya Namjoon. Yoongi mengangguk pasrah.

“Bisa kau ceritakan bagaimana kau....” Taehyung menatap tubuh yang terbaring kaku halaman rumah yang dimaksud. “menemukan mayat Yoo Jigeon?” ujar Taehyung sambil melihat prihatin lelaki itu.

“Baiklah....” Yoongi menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghempaskannya. “Anakku, Min Hanna, menderita penyakit insomnia sejak 3 tahun lalu. Kebetulan Jigeon juga menderita penyakit yang sama. Jigeon selalu bermain ke rumah kami setiap malam, untuk menemani Hanna.” Yoongi menatap rumah Jigeon sesaat. “Namun, akhir-akhir ini Jigeon sedikit berbeda. Ia jarang sekali ke rumah kami pada malam hari.”

“Dan anakmu, Hanna, memutuskan untuk bermain ke rumah Jigeon?” tanya Namjoon detail.

“Ya, bisa dibilang begitu. Tapi tak jadi. Ia mengurungkan niatnya ketika mencium bau bangkai manusia di halaman belakang rumah Jigeon. Dan ia mendapati mayat Jigeon. Ya, seperti itulah.” Ujar Yoongi.

“Oke. Mungkin cukup untuk hari ini.” ujar Taehyung sambil menutup Case-Note miliknya. “Kuharap kematiannya tak lebih dari 3 hari.”

“Kenapa?” tanya Yoongi penasaran.

“Baunya akan sangat busuk.” Ujar Namjoon sambil tersenyum. Yoongi pun ikut tersenyum.

“Baiklah, selamat bekerja!” ujar Yoongi sambil berlalu pergi. Kali ini giliran kedua detektif itu yang bekerja.

“Kuharap ini akan menjadi kasus yang menarik.” Bisik Taehyung pada rekannya, sambil meraih sepasang sarung tangan karet berwarna putih dan kamera dari saku jasnya.

“Ayo kita lakukan!” sahut Namjoon.

Taehyung mulai memotret tubuh Jigeon dengan detail. Mulai wajah, badan, dan kakinya. Tak lupa memotret seluruh tubuh Jigeon dengan sempurna. Sedangkan Namjoon, ia fokus memperhatikan bekas luka yang ada di leher dan tangan Jigeon.

“Kurasa ini benar-benar hari keberuntunganku.” Ujar Namjoon sambil menunjuk luka pada leher dan tangan Jigeon. Taehyung cepat-cepat melihat perihal tersebut.

***

“Hello, Detektif Kim-Kim!” ujar seorang ahli forensik bernama Hoseok dari dalam ruangan, menyambut Namjoon dan Taehyung.

“Ada yang hal yang kau dapatkan?” tanya Taehyung.

“Sebelumnya, kalian bisa menyimpulkan sesuatu?” tanya Hoseok balik.

“Ya, mengingat bekas luka dan darah Jigoen,” Namjoon menatap mayat Jigeon yang berbaring di atas tempat tidur ruang Hoseok, dan berujar, “kurasa dia dicekik.”

“Bingo!” ujar Hoseok membenarkan.

“Dan maksudmu ini kasus pembunuhan?” tanya Taehyung.

“Aku belum memastikannya. Melihat keadaan dia sekarang, kurasa kondisinya menegang pada saat pembunuhan berlangsung. Jadi, kurasa ia sudah mengira ia akan terbunuh.” Ujar Hoseok.

“Tapi itu mustahil jika ini pembunuhan disengaja.” Lanjut Namjoon.

“Lalu, bagaimana dengan orang yang mencekik Jigeon? Kau mendapatkan buktinya?” Taehyung kembali bertanya.

“Kemarilah.” Ajak Hoseok mendekat ke arah mayat Jigeon. “Memang sangat mudah mendapatkan sidik jari tersangka ketika ia mencekik seseorang. Tapi, beda dengan kasus ini.” sela Hoseok.

“Maksudmu?”

Hoseok menunjuk luka pada leher Hoseok, “Kurasa ini bukan kasus mudah. Pembunuhnya telah membersihkan bukti sidik jarinya. Mustahil mendapatkannya kembali.”

Namjoon dan Taehyung berdecak kesal.

Kasus ini tidak semudah yang mereka bayangkan.

***

Kedua detektif itu kembali ke ruangan mereka. Namjoon berpikir keras bagaimana bisa menyelesaikan kasus yang menghantuinya sekarang. Sementara Taehyung, ia menatap jendela ruangannya dengan tatapan kosong. Mereka berdua masih hening.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

Empat Menit.

Lima menit.

Taehyung membulatkan matanya.

“Joon-hyung!” Namjoon menatap Taehyung yang mulai berpikir. “Min Hanna. Bagaimana anak itu bisa tahu bau bangkai manusia?” Taehyung menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman.

Namjoon mengingat perkataan Min Yoongi dua hari yang lalu.

‘Ya, bisa dibilang begitu. Tapi tak jadi. Ia mengurungkan niatnya ketika mencium bau bangkai manusia di halaman belakang rumah Jigeon. Dan ia mendapati mayat Jigeon. Ya, seperti itulah.’

“Kau benar, Kim!” ujar Namjoon bersemangat. Namjoon menghisap kopinya sampai habis, lalu bertanya, “Jam berapa sekarang?”

“Jam 11.40.”

“Ayo, kita temui gadis kecil itu. Tepat setelah dia pulang sekolah.” Ujar Namjoon sembari menarik asal brown-coat miliknya, dan diikuti oleh Taehyung.

“Kurasa ini hari keberuntunganku, hyung!” Taehyung terkekeh.

***

Hanseul Elementary School. Anak-anak berlari riang keluar dari sana. Kedua detektif itu tersenyum ceria melihat anak-anak kecil menuju gerbang sekolah, dengan memundaki tas dan memakai sepatu yang beraneka ragam warna. Hingga seorang gadis kecil menarik perhatian mereka.

Namjoon mengambil foto anak kecil yang berada di sakunya, dan mencocokkannya dengan wajah anak yang difokuskannya saat ini.

Sama. Anak itu sama.

Tanpa berpikir panjang, lantas kedua detektif itu mendekati gadis kecil itu.

Taehyung, si detektif penggemar anak-anak sudah siap dengan dua permen kapas besar berwarna biru langit di genggamannya.

“Annyeong, Min Hanna!” sapa Taehyung riang.

“Ahjusshi, kalian siapa?” ujar Hanna bergidik ngeri.

“Jangan takut Hanna. Kami teman ayahmu yang akan menjemputmu hari ini. Kami bahkan sudah meminta izin dengan ayahmu.” Ujar Namjoon sambil merendahkan kepalanya agar tingginya setara dengan Hanna.

Hanna masih belum berkutik.

Taehyung mengeluarkan foto pada sakunya, “Ini, ini foto ayahmu, kan?” ujar Taaehyung sambil menunjuk foto Min Yoongi—ayah Hanna.

Hanna mengangguk.

“Sekarang, Hanna sudah percaya pada kami.” Tutur Namjoon sambil menberikan senyuman terbaiknya. Namun, Hanna hanya diam.

“Baiklah... Jika aka memberikan kedua permen kapas ini, akankah Hanna ikut pulang dengan kami?” ujar Taehyung melaksanakan rencana akhirnya.

Hanna menatap kedua permen kapas itu dengan matanya yang mendadak cerah, lalu berkata, “Bagaimana jika ayah tak menginzinkanku memakan permen itu karena ayah takut aku akan sakit lagi?” tanya Hanna penasaran.

“Ia akan mengizikanmu jika Hanna tidak mengatakan bahwa Hanna memakannya.” Ujar Namjoon.

Hanna tampak menimbang-nimbang. Namun, beberapa detik kemudian, hal yang dutunggu pun tiba. Hanna mengangguk mantap.

***

“Hanna, bolehkah aku bertanya beberapa hal padamu.” Ujar Taehyung sambil memangku Hanna yang tengah memakan permen kapasnya. Sedangkan Namjoon, ia sibuk menyetir mobil di bangku depan.

Hanna mengangguk.

“Tadi, kau bilang kau takut ayahmu memarahimu jika kau memakan permen. Karena ayahmu takut kau kembali sakit. Memangnya kau sakit apa?”

“Dulu aku pernah batuk-batuk selama tiga hari. Dan ayah yang cemas langsung membawaku ke rumah sakit.” Ujar Hanna. Taehyung hanya ber-oh ria. Namjoon yang menyetir tak lupa merekam percakapan antara Taehyung dan Hanna.

“Lalu, boleh kutahu, bagaimana hubunganmu dengan Jigeon oppa?” tanya Taehyung kembali.

Mata Hanna langsung memerah, ingin rasanya ia menangis. “Jigeon oppa.... Dia temanku setiap malam. Dia selalu menemaniku setiap malam jika ayah dan ibu sedang tertidur pulas...” ujar Hanna sedikit suram sambil mengingat kenangannya dengan Jigeon.

Yoongi tak berbohong, pikir Namjoon dan Taehyung.

“Benarkah?” Taehyung mencari pertanyaan lagi yang ia rasa dianggap penting untuk penyelidikannya sekarang. “Oh ya, sewaktu malam Jigeon oppa-mu meninggal. Kau bilang kau mencium bau bangkai manusia di halaman rumahnya. Bagaimana kau tahu bau bangkai manusia?” ujar Taehyung langsung pada poinnya.

“Jin oppa yang memberitahuku.” Ujar Hanna sambil memakan permen kapasnya sedikit-demi-sedikit.

“Jin oppa? Siapa dia?”

“Ketika aku dibawa ke rumah sakit karena aku batuk berat, aku bertemu dengan Jin oppa di sana. Dia sangat tampan. Dan waktu itu, dia mengajakku berjalan mengelilingi rumah sakit. Sampai aku mencium bau yang sama persis dengan bau Jigeon oppa malam itu. Dan Jin oppa bilang itu bau bangkai manusia.” Ujar Hanna panjang lebar. Namjoon menoleh ke arah belakang. Ia sempat mengeryitkan dahinya ketika mendengar nama baru, dan bisa dibilang juga tersangka baru untuk kasus ini.

“Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kau mengenali Jigeon oppa?” tanya Taehyung mengalihkan pembicaraan tadi.

“Aku juga mengenalnya lewat Jin oppa.” Ujar Hanna santai. Taehyung dan Namjoon membulatkan matanya.

“Jadi, kau mengenal Jin oppa terlebih dahulu dari pada Jigeon oppa?” Namjoon akhirnya bersuara.

“Hm.” Jawab Hanna pasti.

“Coba ceritakan.” Taehyung mememulai.

“Sewaktu ayah memberitahuku bahwa aku harus menginap di rumah sakit yang sangat sangat membosankan selama beberapa hari, aku mencoba mengelilingi rumah sakit sendirian untuk menemukan Jin oppa. Dan aku menemukannya di ruangannya. Jin oppa menyuruhku masuk, dan mengenalkanku pada Jigeon oppa. Sesaat aku rasa aku pernah melihatnya sebelumnya, dan aku benar. Aku ingat jika Jigeon oppa adalah tetanggaku.” Ujar Hanna panjang lebar.

“Hanya itu saja? Kalau begitu bagaimana bisa kalian sangat dekat?” tanya Taehyung berusaha meraih informasi sebanyak-banyaknya.

“Jin oppa juga sempat menceritakan padaku bahwa Jigeon oppa menderita penyakit susah tidur. Dan aku juga mengaku aku susah tidur. Dan kurasa mulai hari itulah Jigeon oppa sering berkunjung malam hari untuk bermain bersamaku.” Lanjut Hanna.

“Boleh kami tahu nama rumah sakit tempat kau dirawat?” tanya Taehyung penasaran.

“Deokjong Hospital.”

Taehyung dan Namjoon sama-sama menghela nafas mendengar perkataan Hanna tersebut.

“Nah... sekarang kau sudah sampai di rumahmu. Kau tak takut lagi dengan kami, kan?” tanya Namjoon sambil memarkirkan mobilnya. Kedua detektif itu dan juga Hanna turun dari mobilnya.

Hanna mengangguk mantap atas jawaban Namjoon. Kemudian, menunduk 90 derajat kepada Taehyung dan juga Namjoon seraya berkata, “Kamsahamnida, ahjusshi!”

Namjoon dan Taehyung pun menbalasnya bersamaan, “Ne.”

“Jaga dirimu baik-baik, ne?” Namjoon membelai rambut Hanna dengan pelan. Hanna tersenyum.

“Tentu saja. Annyeong, ahjusshi!” Hanna melambaikan tangannya sambil berlari menuju rumahnya.

Namjoon dan Taehyung pun melambaikan tangan mereka.

“Kurasa nama Min Hanna harus dihapuskan dari daftar tersangka. Dia hanya gadis kecil yang baru kehilangan teman bermainnya.” Taehyung prihatin.

“Kau benar.” Ujar Namjoon sambil memperhatikan Hanna memasuki pintu rumahnya. Beberapa saat setelah itu, ponsel Namjoon pun berbunyi. Hoseok mengirim pesan.

‘Kemarilah segera. Ada berita bagus.’

“Dari siapa?” tanya Taehyung.

“Hoseok. Dia meminta kita ke ruang bedahnya segera. Ada hal baik, mungkin.” Namjoon bersiap masuk ke mobilnya.

***

“Kim Kim Kim Kim Kim!” sapa Hoseok ketika melihat kedua temannya sudah datang, dengan tempo cepat. Hoseok berlari ke arah dua detektif itu.

“Kau tak perlu berlebihan, Tuan Jung....” sahut Taehyung.

“Kalian tahu?” tanya Hoseok antusias. “Aku menemukan dua sample darah pada celana jeans yang dikenakan Jigeon saat meninggal di tempat.”

Namjoon mengeryitkan dahinya. “Lalu, kau tahu siapa pemilik sample darah tersebut?” Mendadak wajah Taehyung dan Namjoon menjadi cerah.

“Tidak.” Jawab Hoseok asalan, dan membuat raut Taehyung dan Namjoon berubah drastis. Hoseok membuang nafasnya dengan kesal. “Tentu saja aku tahu, Bung!”

“Benarkah? Keduanya?” tanya Taehyung yang mulai antusias.

“Tidak. Tidak keduanya. Hanya salah satu diantaranya. Aku masih sulit mengetahui pemilik sample satu lagi. Karena kurasa sample darah yang satunya sekitar satu bulan yang lalu mengenai celana jeans Jigeon.” Balas Hoseok.

“Lalu siapa pemilik sample pertama?” Namjoon bertanya kembali.

“Kim Seok Jin. 25 tahun. Seorang Psikiater di kota Incheon.”

“Oh, ayolah, maksudmu kami harus balik ke Incheon lagi untuk menemukan dia?” tanya Taehyung lemah.

“Namanya Kim Seokjin, bukan ‘Dia’, Taehyung. Atau orang-orang biasa menyebutnya Jin.”

“Apa?” tanya Namjoon.

“Jin. Para staf dan pasien dia rumah sakit tempat ia bekerja juga biasa memanggilnya Jin.” Hoseok memberitahui.

“Apa nama rumah sakit tempat ia bekerja?”

“Kalau tidak salah Deokjong Hospital. Ia, Deokjong Hospital.”

Akhirnya!

Taehyung dan Namjoon saling bertatapan. Seketika rautnya mendadak cerah.

“Apa? Kalian kenal dengan Jin?” sahut Hoseok.

“Menurutmu?” tanya Namjoon sambil berjalan ke arah pintu, yang lagi-lagi diikuti oleh Taehyung.

“Baiklah... Kuharap berita ini dapat membantu kasus kalian.” Ujar Hoseok pelan sambil menyedot jus mangga yang dibelinya tepat sebelum Taehyung dan Namjoon datang.

***

“Boleh kutahu siapa namamu?” tanya seorang lelaki berambut cokelat gelap sambil menatap mata remaja laki-laki berusia 17 tahunan dengan tersenyum.

“ANDA SIAPA! JANGAN MENDEKAT! PERGILAH! Ibu! Aku takut! Dia... dia ingin membunuhku!” pekik remaja itu sambil bersembunyi dibelakang ibunya dan menangis.

“Dongmin!” bentak seorang wanita separuh baya sambil menatap kesal anaknya yang bernama Dongmin itu. “Anda bisa lihat, kan, bagaimana perilaku Dongmin, dia takut kepada siapapun kecuali saya...” ujar wanita itu penuh jengkel.

“Banyak pasien seperti Dongmin, Nyonya Kang! Apapun penyakit yang berhubungan dengan kejiwaan dapat dipulihkan dengan kasih sayang, dan perhatian yang lebih.” Ujar lelaki itu bijak.

Wanita itu terdiam sejenak, “Mungkin Anda benar, saya dan suami saya terlalu sibuk bekerja.” Ujar wanita itu sedikit pelan.

“Tidak terlambat sama sekali, Nyonya.” Lelaki itu tersenyum. “Ini, resep obat penenang untuk memenangkan anak Anda ketika penyakitnya kambuh.” Lanjutnya sambil memberikan kertas resep.

“Terima kasih, Dokter Kim!” ujar wanita itu sambil mengambil resep tersebut, kemudian menggandeng lengan anaknya dan keluar dari ruangan.

Lelaki itu bernafas lega.

‘dr. Kim Seokjin’

Begitulah Tag Nama yang tertulis di depan meja kerjanya. Ia tersenyum melihatnya.

Selang beberapa menit kemudian, terdengar ketukan pintu dari luar. Seokjin pun mempersilakan untuk masuk. Muncullah kedua detektif tersebut.

“Apakah Anda yang bernama Kim Seokjin? Atau yang biasa dipanggil Jin?” tanya salah seorang diantara mereka, Kim Taehyung.

“Ya, tentu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Jin.

“Kami detektif dari Seoul menyatakan bahwa Anda menjadi tersangka atas sebuah kasus pembunuhan.” Ujar Namjoon tegas.

“Tersangka? Tersangka pembunuhan? Siapa? Siapa yang dibunuh?” Jin mulai panik.

“Yoo Jigeon.”

***

“Apa-apaan ini! Saya tidak pernah membunuh siapapun! Saya bahkan tak tahu jika Jigeon telah meninggal!” bela Jin.

“Kami tidak pernah menuduh Anda membunuh. Tapi, kami hanya mengira Anda menjadi tersangka sementara.” Ujar Taehyung yang baru datang bersama Namjoon. Kedua detektif itu duduk berhadapan dengan Jin.

“Bisa kau jelaskan apa hubunganmu dengan Jigeon?”

Jin menghela nafasnya, “Baiklah dia pasienku, sejak 2 tahun lalu.”

“Bisa kutahu, apa penyakit Jigeon?”

“Maaf, itu privasi pasien. Aku takkan mengungkapkan—“

“Jawab atau kutetapkan kau menjadi tersangka.” Namjoon berujar tegas.

“Baiklah, dia insomnia.”

“Kami sudah tahu. Tak mungkin hanya insomnia, kan?”

“Dependent. Penyakitnya satu lagi adalah Dependent.”

Namjoon dan Taehyung semakin penasaran.

“Apa itu dependent?” tanya Taehyung.

“Penyakit kepribadian dengan rasa ketergantungan sangat tinggi.”

“Maksudmu?” Namjoon serius.

“Jigeon pernah bercerita kepadaku bahwa dia memiliki teman kecil. Saat ia merasa tertekan karena orang tuanya meninggal. Temannya selalu menghiburnya. Namun, teman masa kecilnya itu memiliki teman baru, dan mereka selalu bersama. Kutebak bahwa Jigeon merasa cemburu. Jadi, dia memiliki ketergantungan dengan temanya itu. Mungkin Jigeon sangat cinta mati kepadanya.”

“Kau tahu nama teman masa kecilnya?”

“Tidak. Dia tidak pernah menceritakannya padaku. Tapi, kurasa mereka berada dalam lingkungan yang berdekatan.” Ujar Jin sejujur mungkin.

“Baiklah, aku percaya ucapanmu.” Namjoon mengambil sample darah yang masih lengket pada potongan jeans Jigeon di sakunya, kemudian meletakkannya di atas meja.

“Tim forensik kami menemukan sample darah ini pada jeans yang dikenakan Jigeon saat ia dinyatakan tewas. Dan darah ini milikmu. Jelaskan mengapa darahmu bisa berada pada jeans Jigeon.” Tungkas Taehyung.

Jin melepaskan nafasnya dengan kasar. “Aku baru memberitahu penyakit dependent-nya seminggu lalu, akibat ketergantungan hidupnya dengan teman yang dia sayangi sepenuhnya. Dan saat itu juga ia menuduhku bohong, dan menggoreskan pisau kecil kepada lenganku ini.” ujar Jin sambil menunjuk bekas luka pada lengan tangannya.

Alibinya benar-benar kuat!

Semua yang Jin katakan masuk akal. Dan Taehyung serta Namjoon menyesal dan turut prihatin atas pengorbanannya sebagai Psikiater.

“Dan mulai hari itu, ia tak pernah menemuiku lagi.” Lanjut Jin.

“Baiklah, kami cukup menyesal karena telah menjadikanmu tersangka. Kami turut prihatin. Kurasa cukup untuk hari ini.” ujar Taehyung.

“Ya, aku memaklumi mengapa kalian menjadikanku tersangka.” Jin tersenyum. “Ini, kartu namaku. Jika kalian membutuhkan bantuan menghadapi orang-orang aneh, kalian bisa menghubungiku.” Sela Jin sambil memberikan kartu namannya. Namjoon mengambilnya.

“Terima kasih atas partisipasi dalam introgasi hari ini.” ujar Namjoon sambil tersenyum. Jin pun keluar dari ruangan tersebut.

Dan ponsel Taehyung pun berbunyi. Hoseok menelepon.

“Aku tak mengerti dengan kasus ini. Sample darah yang-satunya lagi milik lelaki bernama Jeon Jungkook. Namun, sebulan yang lalu, dia dinyatakan tewas karena tertabrak mobil.”

Taehyung menutup pembicaraan mereka. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Ada apa?” tanya Namjoon heran.

“Harapan kita hilang sudah.” Taehyung bergeming. “Sample itu milik Jeon Jungkook. Dan ia telah meninggal sebulan lalu. Tak ada yang bisa dijadikan tersangka.”

***

“Detektif Kim!” sapa seseorang dari belakang. Dia Min Yoongi. “Bagaimana? Apa ada berita baru?”

Taehyung menghela nafas lelah, “Masih belum.” Ujarnya singkat.

“Mana Detektif Kim lainnya? Maksudku Kim Namjoon?”

“Ia mengikuti rapat kasus ini di Seoul. Aku akan menemuinya nanti saat makan siang. Ada yang ingin kalian bicarakan?”

“Tidak. Hanya saja aku heran mengapa kau ke sini sendirian.”

Taehyung tersenyum seadanya. Ditatapnya rumah sekitar, dan pandangannya terpaku ke suatu rumah tepat di sebelah rumah Jigeon.

“Rumah itu, apakah tak ada penghuninya? Aku sudah ke mari beberapa kali, tapi aku tak melihat orang di dalamnya.” Taehyung berujar sembari menunjuk rumah itu.

“Entahlah, pemilik sebenarnya adalah Park Hojung. Namun, 3 tahun lalu, ia dan istrinya meninggal. Jadi yang tinggal hanyalah anak lelakinya, Park Jimin. Jimin memiliki teman dekat. Namun sayang, temannya tewas tertabrak sebulan yang lalu.” Yoongi menjelaskan dengan detail. “Kondisinya kini benar-benar memprihatinkan.”

“Bagaimana bisa?” Taehyung mulai tertarik.

“Entahlah. Kasus ini juga masih belum terpecahkan. Malangnya, Jimin tak pernah keluar rumah setelah itu, kecuali saat mengambil pesanan makanannya dan membuang sampah ke tempat sampah umum. Mungkin ia sangat depresi mendengar temannya yang meninggal.”

“Hmm... kau tahu siapa nama temannya yang meninggal itu?”

“Tunggu... kalau tidak salah Jeon...” Yoongi memicingkan matanya sesaat. “Jeon... Jeon Jungkook. Ia, Jeon Jungkook. Temannya yang meninggal itu adalah Jeon Jungkook.”

***

“Taehyung, di sini!” ujar lelaki yang tak lain adalah Namjoon kepada lelaki yang tak lain adalah Taehyung. Namjoon mempersilakan rekannya untuk duduk. “Aku dapat berita baru!”

Taehyung menaikkan alisnya.

“Aku mencari kontak yang sering dihubungi Jigeon. Dan terdapat 134 panggilan dari Jigeon. Dan penerima panggilan itu adalah Park Jimin. Tetangga sebelahnya.” Bisik Namjoon.

Taehyung membulatkan matanya.

“Apa? Kenapa?” Namjoon bertanya.

“Park Jimin adalah teman dekat dari Jeon Jungkook. Pemilik sample darah yang terdapat di jeans Jigeon.” Ujar Taehyung yang langsung membuat Namjoon terperangah. “Yoongi menceritakan bahwa Jimin sangat terpuruk sewaktu mendengar Jungkook tewas.”

Namjoon terdiam.

 “Tapi satu hal yang asing, darah Jungkook sudah melekat pada jeans Jigeon satu bulan yang lalu. Mengapa Jigeon tidak mencuci celana jeans-nya selama satu bulan?”

TAK! Taehyung mendapat jitakan dari Namjoon.

“Jangan memikirkan hal yang tak berguna. Itukan terserah Jigeon.” Cengir Namjoon.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Kurasa kita menemui harus Jin. Bukankah aneh ketika teman lamanya meninggal, Jimin sama sekali tidak peduli, sedangkan Jungkook teman yang didapatinya baru 3 tahun belakangan dinyatakan meninggal membuatnya sangat terpuruk? Bukankah itu sangat pilih-kasih dan tidak masuk akal? Karena akan lebih masuk akal jika Jimin menangisi Jigeon daripada Jungkook. Karena Jigeon teman masa kecilnya.” Ujar Namjoon panjang lebar.

“Maksudmu, ada masalah antara Jimin dan Jigeon sebelumnya?”

“Bukan masalah. Tapi, gangguan kejiwaan pada Jimin.” Ujar Namjoon serius.

“Dan yang paling membuatku aneh, hyung, Jungkook meninggal karena ditabrak, bukan dibunuh. Lalu, bagaimana bisa ada darah Jungkook pada celana Jigeon? Bukankah itu aneh? Sangat wajar jika kematian Jungkook dikarenakan pembunuhan.”

“Kau benar.”

***

“Schizoid. Itu nama kelainannya.” Ujar Jin setelah mendengar penjelasan dari Namjoon dan Taehyung.

Kedua detektif itu tak bergeming, membiarkan Psikiater itu menjelaskan perkataannya.

“Schizoid adalah kelainan dimana seseorang tertutup dengan lingkungan sekitarnya, galak, dan rasa curiga yang tinggi kepada seseorang. Tapi, sebelumnya kurasa Jimin juga salah seorang yang terlibat Dependent. Penyakit yang sama persis diderita Jigeon.”

“Maksudmu?” tanya Taehyung dan Namjoon serempak.

“Jimin sangat terpukul ketika kehilangan orang tuanya, itu wajar. Kronologinya, Jungkook yang sangat prihatin dengan keadaan Jimin berusaha mengihiburnya. Sampai-sampai Jimin menganggap Jungkook-lah satu-satunya orang yang bisa membantunya, sehingga Jimin sangat tergantung pada Jungkook. Cerita ini unik, seperti cinta segitiga, Jigeon mengejar Jimin, dan Jimin mengejar Jungkook.” Ujar Jin panjang lebar.

“Tunggu, apa akibat kelainan ini? Maksudku, apakah itu berbahaya untuk orang sekitar?” Taehyung bertanya.

“Banyak cerita tentang orang yang mengidap penyakit ini. Dan sebagian besar, mereka melukai dirinya sendiri, dan bisa sampai bunuh diri.”

“Maksudku, bisakah Jimin membunuh Jigeon?” Namjoon antusias.

“Bisa jadi. Tapi, biasanya si pembunuh yang menderita Schizoid akan membunuh orang karena motif mereka sendiri. Maksudku, jika Jimin benar-benar orang yang membunuh Jigeon, barangkali Jimin memiliki alasan mengapa ia melakukan hal tersebut. Karena, aku tak pernah mendengar kasus pembunuhan yang dilakukan oleh si penderita Schizoid.” Jin menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya.

“Kalau begitu kita harus mengintrogasinya, tentang motif pembunuhan yang dilakukannya pada Jigeon.” Namjoon bersemangat.

“Tidak, jangan! Kurasa itu takkan berhasil.” Tegas Jin. “Jimin memang mustahil membunuh kalian, tapi kalian tetap harus berhati-hati. Jika kalian menyinggung perasaannya, mungkin ia bisa membunuh kalian. Kecuali jika kalian memiliki bukti yang benar-benar kuat.” Lanjut Jin.

Namjoon dan Taehyung sama-sama mengangguk. Namun, tak lama ponsel Namjoon kembali berdering. Pesan dari Hoseok telah masuk.

‘Kabar baik. Setelah kuperiksa ulang, kutemukan sebuah sidik jari pada pecahan kaca saat kuperiksa ulang di halaman belakang rumah Jigeon. Bagusnya, darah Jigeon menempel pada kaca tersebut. Dan kaca tersebut berasal dari kaca rumah tetangganya, Park Jimin. Begitupula sidik jari pada kaca tersebut, milik Park Jimin. ’

Namjoon tersenyum. “Kurasa kami memiliki bukti kuat untuk menuduhnya. Kuyakin, dia tak akan mengelak kali ini.”

***

Kedua detektif itu sidah sampai di depan pintu rumah keluarga Park. Ditatapnya seluruh keadaan, sangat memprihatinkan. Bunga di seluruh tamannya sudah layu, barangkali tak pernah disiran selama musim panas kali ini. Halamannya pun kotor, banyak sampah yang berserakan.

Benar-benar seperti kapal pecah.

Namun, mereka harus berlaku senyaman mungkin dengan rumah ini. Karena mereka menyamar, menjadi keluarga Jungkook.

Namjoon mengetuk pintunya. Tak ada balasan.

Diketuknya sekali lagi. Tak ada balasan.

Diketuknya untuk yang ketiga kalinya. Masih tak ada balasan.

Hingga akhirnya Taehyung berhasil membuka pintu yang tidak terkunci itu. Namjoon membulatkan matanya.

“Kau tahu pintu ini terbuka?”

“Itu hanya firasatku...” ujar Taehyung sambil memberikan senyum terkonyolnya.

Kedua detektif itu dengan cepat mengubah rautnya, menjadi sedih. Tak lupa botol obat tetes mata yang isinya—telah dibuang, dan diberi—air, sudah masuk dalam sandiwara detektif itu. Mereka meneteskan air didekat matanya, agar terlihat sedih. Mereka juga mempersiapkan tissue untuk membuat mereka benar-benar sedang berduka. Tak lupa juga kemeja berwarna hitam tanda sedang berduka. Mereka benar-benar sudah menyiapkan semua ini dengan matang.

Walaupun kenyataannya terlambat satu bulan lebih.

Kedua detektif itupun masuk. Di sudut ruangan, dilihatnya Jimin menangis sambil memegang lututnya.

Jimin benar-benar terpukul, batin Namjoon dan Taehyung ikut prihatin.

Namjoon yang memulai sandiwaranya pertama kali, segera mendekati Jimin.

Namjoon terduduk, seolah olah membuatnya lemah, sama seperti Jimin.

“KALIAN SIAPA?” pekik Jimin kaget setelah melihat Namjoon dan keberadaan Taehyung di dekat pintu. Taehyung sempat terkejut mendengar perkataan Jimin.

“Kau Jimin, kan? Jimin teman Jungkook? Kami keluarga Jungkook.” Ujar Namjoon.

“Lalu, kenapa kalian sekarang baru datang?” ujar Jimin sedikit melunak, namun masih tegas.

“Kami baru tahu berita ini kemarin.” Ujar Namjoon sedikit kikuk.

Taehyung segera mengambil tindakan. Ia pun mendekati Jimin, “Kami sepupunya Jungkook. Saya Jeon Taehyung, dan ini kakak saya, Jeon Namjoon.” Taehyung sedikit tercekat ketika mengubah marga Kim menjadi Jeon pada marga mereka berdua. “Hubungan kami mungkin tidak terlalu dekat, tapi bagaimanapun Jungkook sepupu kami.” Ujar Taehyung.

“Lalu, apa tujuan kalian datang kemari?”

“Karena kau teman Jungkook satu-satunya, Jadi kupikir kau tahu dimana makam Jungkook.” Balas Taehyung.

Jimin terdiam. Masih ragu. Apakah mereka benar-benar sepupu Jungkook atau tidak?

Suasana hening seketika, sampai Jimin kembali berujar, “Baiklah.”

***

Mereka semua tiba di pemakaman.

Jimin berjalan pelan, ia tertunduk lemah ketika berjalan menuju pemakanan Jungkook. Jungkook, teman yang selalu menghiburnya. Sedangkan kedua detektif itu hanya mengekori Jimin dari belakang.

Lima puluh persen rencana mereka sukses.

Tak beberapa lama kemudian, mereka pun tepat di depan makan Jungkook. Tangisan Jimin mulai pecah, ia memeluk dan mengusap nisan Jungkook. Taehyung dan Namjoon juga tak lupa peran, tangisan mereka juga pecah, meski yang kali ini hanya dibuat-buat.

Selama 10 menit, makam itu hanya ditemani oleh tangisan Jimin, Taehyung, juga Namjoon.

Hingga Jimin mulai berujar, “Ini semua karena si brengsek Jigeon.”

Namjoon dan Taehyung mengangkat wajahnya.

“BRENGSEK KAU JIGEON!”

***

“LEPASKAN!” erang Jimin ketika mengetahui siapa kedua orang yang membawanya ke suatu ruang introgasi. “DASAR PEMBOHONG!”

Taehyung dengan lekas mengenakan borgol pada tangan Jimin. Sedangkan Namjoon duduk tepat di hadapannya.

“Dengar, seluruh detektif berhak melakukan apapun yang dianggap bisa membantu penyelidikan lebih lanjut. Jadi, tak ada salahnya kami bohong padamu.” Ujar Namjoon pelan.

“Aku ingin pengacara!” ujar Jimin tanpa memedulikan ucapan Namjoon tadi.

“Kau tak butuh pengacara sama sekali, Park. Sayangnya kau sudah tertangkap basah.” Ujar Taehyung tenang sambil meraih kursi dan duduk tepat di sebelah rekannya, Namjoon.

“YA! AKU BILANG AKU INGIN PENGACARA!”

“Kita langsung saja pada poin pentingnya. Apa kau yang membunuh Jigeon, atau bisa kami bilang tetangga sekaligus teman masa kecilmu?” ujar Namjoon serius.

“APA YANG KAU MAKSUD?” mata Jimin mulai memerah, ia benar-benar tak terima jika dirinya dituduh sembarangan.

“Jujurlah...” gumam Taehyung sambil menatap tajam Jimin.

“Dasar bodoh!”

“Aku hanya butuh ‘iya’ atau ‘tidak’ darimu. Beserta alasannya.” Tambah Taehyung.

“Hei! Apa-apaan kalian! Ka—”

“Kami punya bukti sidik jarimu pada lehernya.” Ujar Namjoon sambil memampangkan kaca setengah berdarah yang berada dalam plastik yang digenggamnya. “Kudengar ini darah Jigeon. Dan kaca ini berasal dari kaca rumahmu.” Sindir Namjoon.

“Kau lupakan satu hal, hyung. Pada kaca itu terdapat sidik jari Jimin juga.” Jelas Taehyung dengan sinis.

“Mustahil!” ujar Jimin tak percaya seraya membulatkan matanya. Ia tak berani menatap Namjoon dan Taehyung kali ini.

“Bagaimana bisa mustahil?” tanya Namjoon sepihak.

“Karena.. karena.. a-a-aku tak membunuhnya...”

“Ada apa dengan mu Jim? Mengapa kau tidak mengaku saja?” tanya Taehyung memancing emosi Jimin.

“AKU TIDAK MEMBUNUHNYA!” pekik Jimin kesal, kesabarannya sudah habis kini.

“Kau tahu...” Namjoon medekatkan wajahnya dengan wajah Jimin. “Temanmu, Jungkook, adalah mahasiswa fakultas hukum.”

“JANGAN BAHAS TENTANG JUNGKOOK!” Jimin penuh emosi.

“Dia juga taat dengan agamanya. Bukankah kau pikir Jungkook akan kecewa dengamu jika kau terus berbohong? Mungkin dia juga bisa membencimu.” Lanjut Namjoon tanpa menggubris larangan Jimin untuk tidak membahas Jungkook lagi.

“Jangan... Jungkook tak akan kecewa kepadaku.” Ujar Jimin melunak. Matanya kini tambah memerah. Jantungnya berdetak tak keruan. Kepalanya pun mulai pusing.

“Dia pasti kecewa, Jim..” ujar Taheyung.

“Tidak... Jungkook tidak membenciku.” Ujar Jimin lagi, air matanya kini sudah menerobos bendungan. Jimin benar-benar menyesal.

“Jungkook membencimu, Jim!” ujar Taehyung kembali.

Tubuh Jimin mulai melemah. Wajahnya menunduk menatap lantai yang sedang dipijakinya. Pikirannya kembali kosong, hanya wajah Jungkook yang terbayang di wajahnya. Jungkook kecewa kepadanya. Jungkook membencinya. Dua hal itulah yang ditakutinya.

Namjoon dan Taehyung memberinya waktu untuk berpikir, hingga Jimin berujar, “Aku yang bersalah.”

Namjoon dan Taehyung menatapnya.

“Aku membunuh Jigeon.”

***

“Malam itu adalah hari ulang tahun Jungkook. Dengan semua usahaku, aku ingin membuat pesta ulang tahun untuk Jungkook ketika malam ia datang ke rumahku. Aku sangat menantikan hari itu.

Aku suruh Jungkook untuk datang ke rumahku jam 10 malam. Jungkook pun setuju. Aku sudah menyiapakan beberapa makanan yang Jungkook sukai. Hingga akhirnya jam 10 malam pun tiba. Aku menunggu Jungkook dengan penuh harap.

Setengah jam pun berlalu, Jungkook tak kunjung datang. Aku benar-benar melihat pesan yang kukirim padanya, dan kupastikan dia telah membacanya. Dengan sabar, aku tunggu Jungkook lima menit lagi. Dan aku tahu, batas kesabaranku sudah habis kalli ini.

Kuraih jaket kulitku yang terletak di gantungan pakaian, dan kuputuskan untuk mengunjungi rumahnya. Kupikir, barangkali Jungkook lelah dengan pekerjaannya, dan aku lebih baik memberikan kejutan di depan rumahnya.

Saat itu jam tepat 11 malam, dan aku tiba di rumah Jungkook. Kulangkahkan kakiku menuju teras rumahnya. Dan tiba-tiba, aku mendengar seseorang merintih kesakitan di rumahnya. Dengan lekas, kubuka kecil pintu rumah itu. Hingga kulihat kepala Jungkook berdarah, karena seseorang telah meninjunya. Dan dia...

Yoo Jigeon. Si brengsek itu.

Jungkook melihatku. Dengan arah penglihatannya, kuyakini ia menyuruhku untuk menjauh. Jungkook pun tersenyum.

Aku tak tahu apa arti senyuman itu, hingga si brengsek itu terus menendang kepada Jungkook.

Tanganku bergetar, mataku memerah, tubuhku memanas, aku tak sanggup lalgi melihat Jungkook diperlakukan seperti itu. Namun, ketika aku hendak membuka pintu, Jungkook menggeleng ke arahku. Dan si brengsek itu terus menendangnya.

Jigeon membawa Jungkook ke sebuah tanah luas, kemudian menidurkannya diatas tumpukan jerami. Ingin rasanya kuselamatkan Jungkook saat itu, ketika kusadar Jigeon menjauh untuk menghidupkan mesin mobilnya, dan memantapkan arahnya mobilnya ke arah Jungkook yang lemah.

Kali ini, tak akan kumaafkan. Aku berlari menuju Jungkook, lelaki yang tak memiliki salah sedikitpun itu.

Tapi, aku salah, aku terlambat. Jigeon terlebih dahulu menghampirinya, lebih tepatnya menghampiri kematiannya. Dan dia terus berlalu, hingga hanya aku dan Jungkook yang tak bernyawa lagi.

Inilah penyebab kematian si brengsek itu, dia yang telah menyebabkan Jungkook meninggal! Dan dia juga harus meninggal!

Dan sebulan semenjak meninggalnya Jungkook, Jigeon terus mengusik kehidupanku, dia sok akrab, sok dekat, hingga aku jijik melihatnya. Dia hanya tersenyum tipis ketiak melihat mayat Jungkook.

Sampai akhirnya, dia selalu meneleponku, memasakkanku makanan, dan melakukan hal-hal yang biasanya Jungkook lakukan untukku. Dan aku sangat tersentuh. Tersentuh akan sandiwara najisnya.

Hingga suatu malam, dia membuat ulah lagi dirumahku. Jigeon datang ke rumahku malam hari, mengajakku menonton film yang baru di belinya. Dan sewaktu ia ingin mengambil susu dari kulkas, ia melihat foto Jungkook berbingkai pada meja kecil dengan kesal. Ia menjatuhkan foto itu ke lantai, hingga akhirnya pecah.

Aku benar-benar muak!

Ia menatapku datar, lalu tersenyum. Dan tak lupa membuang foto itu ke kaca rumahku, hingga foto Jungkook terlempar keluar, dan membuat kaca rumahku menjadi pecah.

Aku langsung mendekatinya dan meremas kaus yang ia gunakannya. Sebenarnya, saat itulah yang kutunggu untuk benar-benar memusnakahkannya.

Jigeon membelakakkan matanya menatap perangaiku.

Aku sudah mempersiapkan mental untuk operasi kali ini. Aku mencekikkanya, meskipun air matanya sudah berlinang. Tak lupa, kutarik rambutnya hingga di sudah berada di sudut ruangan santaiku. Tak lupa, kuambil kaca rumahku yang pecah dan kudekatkan pada wajahnya, hingga berdarah.

Kupikir ini cukup, meski kematiannya tak separah dengan kematian yang Jungkook alami karenanya. Aku sungguh puas.

Namun, sayangnya, aku adalah orang yang pintar. Jika Jigeon yang membunuh Jungkook tidak tertangkap, maka jika aku yang membunuhnya tidak tertangkap juga. Itu baru adil, bukan?

Aku membersikkan sidik jariku pada tubuhnya, terutama lehernya. Kuletakkan dia di halaman belakang rumahnya, yang sangat sepi. Tak lupa, ku bakas seluruh pakaian yang kukenakan, juga membereskan sisa-sisa darah si brengsek itu yang berada dalam rumahku dengan teliti. Dan langsung saja, aku mandi dan tidur.

Dua hari kemudian, baru kedengar kematian Jigeon. Kurasa, pembunuhanku kaki itu benar-benar sukses bulat.

Karena si brengsek itu benar-benar mati.

Ya, si brengsek itu, Jigeon.

Yoo.

Ji.

Geon.”

***

“Detektif Kim!” seru seseorang dari belakang seraya berlari kearah kedua detektif bermarga Kim itu.

Kedua detektif itu menatap si pemanggil, Min Yoongi.

“Terima kasih karena telah membantu kami.” Ujar Yoongi seraya memberikan selamat pada kedua detektif itu.

“Bukan apa-apa, itu memang tugas kami.” Ujar Namjoon.

“Aku cukup lega karena kasus ini terselesaikan juga. Kalian benar-benar hebat.” puji Yoongi.

Taehyung dan Namjoon hanya tersenyum bangga.

“Untuk Jimin, kudengar dia tak masuk penjara dalam waktu dekat, mengapa?” tanya Taehyung.

“Oh, masalah itu. Karena kudengar Jimin mengalami gangguan kejiwaan, jadi kami berharap untuk dapat memulihkannya terlebih dahulu di Rumah Sakit Jiwa sampai dia benar-benar pulih.” Jelas Yoongi.

“Ya, itu lebih baik.” paham Namjoon sambil memangguk menyetujui.

***

“Akhirnya tugas kali ini selasai. Tak ada kasus yang harus ditutup.” Ujar Taehyung lega sembari duduk di kursi kantornya sambari meregangkan ototnya karena lelah tak tidur cukup.

“Kau benar, Kim” ujar Namjoon bangga. “Tapi, kita tak memiliki kegiatan sampai kasus baru datang.” Namjoon menatap jendela.

“Lalu, bagaimana jika kita bermain monopoli lagi?” saran Taehyung dengan mata yang berbinar-binar.

“Huh? Benarkah? Kau yakin hari ini hari keberuntunganmu?” ujar Namjoon menantang dan menganggap remeh Taehyung.

“Ah... tidak... kau benar, hyung!” Taehyung tampak memikir-mikir. “Ayo kita bermain ular tangga! Siapa menang 5 kali berturut-turut harus meneraktir yang kalah untuk makan malam hari ini!” usul Taehyung. Namjoon pun mengangguk setuju.

Sudah lewat dua menit mereka main, dan seseorang mengetuk pintu ruangan mereka. Kedua detektif itu pun berdecak kesal.

“Siakan masuk.” Namjoon berujar.

“Ada panggilan dari Kepolisian Busan. Selamat, kalian terpilih untuk menyelesaikan kasus kali ini. Dan bagusnya ada dua kasus baru yang harus kalian selesaikan.” Ujar Byunghee dengan riang.

“Apa? Dua kasus?” Taehyung dan Namjoon terbelalak.

[To Be Continued for This Case]

- FIN -


No comments:

Post a Comment